![]() |
| Ilustrasi |
Oleh : Usman Cut Raja
PERSePSIPOST - Berbohong dan dibohongi serta tipu tertipu, itulah yang terjadi
di Aceh sepanjang masa. Semenjak kapan dimulai dan siapa yang memulainya, dalam
tulisan ini mungkin sedikit terjawab hingga menjadi renungan bersama. Entah
sudah terjadi sebelumnya tapi yang pasti sepeninggal Sultan Iskandar Muda, Aceh
bagaikan raksasa yang kehabisan tenaga, kelelahan lalu tertidur.
Dalam suasana yang tertidur inilah Aceh mulai
dibohongi oleh bangsanya sendiri yang entah kapan berakhir. Biarpun
pucuk pimpinan yang memerintah Republik Indonesia silih berganti, namun derita
Aceh yang terbohongi terus berlanjut.
Sejarah telah mencatat, dalam perjalanan bangsa Aceh dari sejak
nenek moyang, orang Aceh cukup lihai dan dikenal dengan tipu muslihat atau
taktik untuk mewujudkan sebuah cita cita terutama dalam politik perangangan.
Bahkan Belanda mengakui akan keunggulan dan kehebatan orang Aceh dalam hal yang
satu ini.
Diantara yang paling popular dan selalu dikenang adalah ketika
seorang pejuang dan pahlawan Aceh bernama Teuku Umar Djohan Pahlawan mampu dan
berhasil menipu kolonial Belanda. Tipu muslihat Teuku Umar berawal ia bersedia
berunding dan mau bekerja sama membantu membujuk perlawanan masyarakat Aceh
lainnya.
Tipu yang dijalankan suami Tjoet Nyak Dien ini sukses dan
membawa keuntungan besar. Ratusan pucuk senjata berhasil dicuri lalu digunakan
kembali untuk melawan Belanda. Tipu muslihat semacam ini banyak diikuti pejuang
dan masyarakat Aceh lainnya terutama dalam perjuangan membela Aceh
melawan penjajah.
Tipu-tipu pejuang Aceh ini sudah sangat dikenal luas bahkan
sempat menjadi bagian dari catatan seorang pengarang asal Jawa Barat dalam
bukunya berjudul “Aceh di Mata Urang Sunda”. Hingga kini, Aceh selain dikenal
pandai menipu juga kerap tertipu atau dibohongi. Pengalaman tertipu dan
dibohongi mulai tercatat dalam sejarah pergolakan DI TII di Aceh yang dicetuskan
Daun Beureueh.
Beberapa pakar sejarah Aceh, seperti Drs Rusdi Sufi,
menyebutkan, di balik tipu-tipu Aceh, sebenarnya cukup banyak tipu-tipu
Pemerintah Pusat terhadap Aceh. Hingga dia meminta para
pemimpin maupun generasi Aceh kedepan harus berhati-hati dan
jangan mudah terbuai dengan janji semu Pemerintah Pusat. Intinya, masyarakat
harus waspada agar tidak mudah dikelabui.
Sementara pemerhati sejarah Aceh lainnya, Ramli A Dally juga
ikut mengingatkan, teknik tipu yang dilancarkan Jakarta terhadap Aceh hingga
saat ini masih berlangsung. Dicontohkan, butir butir UUPA yang diibaratkan
sebagai seekor ular, meski kepalanya dilepas, namun ekornya tetap dipegang.
Sejarah Aceh yang banyak dibohongi dan tertipu, misalnya pada
tahun 1948, saat masa revolusi kemerdekaan atau setelah Indonesia
memproklamirkan kemerdekaannya, seluruh kawasan Indonesia telah diduduki
kembali oleh Belanda, kecuali Aceh. Disini, setelah Belanda menyerah
kepada sekutu, pada September tahun 1948 tentera sekutu masukke Indonesia untuk
menerima penyerahan Jepang kepada Indonesia.
Namun saat itu penguasa sipil Belanda yakni NICA (Nederlandsch
Indie Civil Administratie) menyusup masuk dan kembali menduduki Indonesia.
Bahkan Presiden Soekarno ditangkap saat itu. Satu-satu kawasan yang tidak
dimasuki Belanda adalah Aceh.
Tipu pertama Jakarta terhadap Aceh adalah ketika Daud Beureueh
meminta kepada Presiden Soekarno agar khusus untuk Aceh diberlakuan syariat
Islam. Soekarno menyetujuinya. Aceh diberi hak berlaku syariat Islam. Namun
Daud Beureueh dalam permintaannya ini harus dibuat dalam
bentuk perjajian hitam di atas putih atau tertulis. Namun hal
itu tak pernah terjadi. Soekarno dengan berlinang air mata bahkan bersumpah
akan mewujudkan hal itu.
Dia mengaku tak perlu bukti tertulis karena Daud Beureueh
merupakan orang yang dihormatinya sehingga tak mungkin dikhianati. “Itulah tipu
pertama yang terjadi terhadap Aceh. “Presiden Soekarno saat itu tak
bersedia membuat perjanjian tertulis,” tulis Rusdi Sufi dalam bukunya.
Menurut Rusdi Sufi, Soekarno dalam pertemuan lain bersama
kalangan saudagar Aceh, Soekarno meminta kepada para saudagar bahwa diseluruh
Indonesia, telah dibentuk semacam penggalangan dana untuk membeli pesawat
terbang karena Indonesia belum memiliki pesawat. Untuk itu para saudagar Aceh juga
diimbau untuk menyumbang dana membeli pesawat.
Saat itu semua saudagar yang hadir saling menatap dan terdiam.
Lama terdiam, Soekarno kembali bicara “Jika tak menjawab, saya tak akan makan
siang dengan para saudagar”, ucapnya. Akhirnya, saudagar setuju, maka
terkumpulah sekitar 20 kilogram emas dari saudagar dan masyarakat Aceh.
Dari sumbangan inilah menjadi cikal bakal lahirnya perusahaan
penerbangan Indonesia yaitu dari pesawat jenis Dakota RI-001 Seulawah yang
dibeli rakyat Aceh dan. replika pesawat tersebut sekarang terpajang dilapangan
Blang Padang, Banda Aceh.
Konon setelah menyumbang untuk pesawat, para saudagar dan
masyarakat Aceh juga pernah membeli obligasi senilai puluhan kilogram emas.
Obligasi ini rencananya digunakan untuk membangun bank milik Pemerintah
Indonesia, namun tak jelas juntrungannya sehingga Aceh tak pernah
memperoleh kontribusi secara maksimal. Aceh kembali tertipu.
Kemudian Aceh mendapat gelar Daerah Istimewa. Istimewa yang
disandang Aceh hanya sebutan saja karena tidak ada implentasi yang berarti
selain lahirnya Unsyiah. Saat itu, posisi perekonomian Aceh memang lebih
maksimal dibanding dengan sejumlah kawasan lainnya diseluruh Indonesia.
Pasalnya, semua lautan dikuasai oleh Belanda.
Saudagar Aceh ketika itu berani menembus blokade Belanda di laut
sehingga dapat melakukan perdagangan dengan negara luar. Situasi ekonomi yang
tergolong makmur ini sangat bermanfaat bagi Pusat. Hingga dalam perjalanan dan
situasi tersebut, Aceh akhirnya dijadikan provinsi. Dan Daud Beureueh menjadi Gubernur
pertama.
Namun tak sampai setahun, tepatnya tahun 1950, pemerintah pusat
memutuskan hanya ada sepuluh provinsi di Indonesia. Aceh digabung dengan
Sumatera Utara. Anehnya ternyata jumlah provinsi bukanlah sepuluh, melainkan
sebelas, karena secara diam-diam, pemerintah menyetujui Jogjakarta menjadi
provinsi, bahkan dengan status istimewa.
Pemerintah Aceh, tak terima dengan status ini. Namun pusat terus
“mendesak”, status ini harus diterima. Akhirnya Aceh kembali turun menjadi
keresidenan. Merasa dikhianati, maka pada September 1953 munculah gerakan
DI/TII. Akibatnya, Aceh diserang. Aceh tidak menyerah bahkan perlawanan Aceh
semakin kuat. Situasi ini terbaca oleh pemerintah pusat dari pengalaman bahwa
Aceh tak dapat ditaklukkan dengan kekerasan.
Lalu pimpinan DI/TII diajak berdialog. Pemerintah Pusat berjanji
akan mengembalikan status Aceh menjadi provinsi, bahkan ditambah dengan
embel-embel istimewa dari segi Kebudayaan, Pendidikan, dan Agama. Kendati sudah
berstatus provinsi kewenangan tetap dibatasi. Misalnya.saat Aceh menjalankan
sistem dagang barter dengan Negara luar. kebijakan barter ini kemudian
dicabut.
Lalu pada tahun 1963, dalam rangka “Ganyang Malaysia, pemerintah
Pusat menetapkan status Sabang menjadi pelabuhan bebas. Namun status itu juga tidak
disertai peraturan teknis yang mengatur pelaksanaannya. Akhirnya beberapa tahun
kemudian, status pelabuhan bebas Sabang kembali dicabut dengan alasan
penyelundupan.
Tipuan terhadap Aceh hingga kini masih saja terjadi. Hal ini
terlihat dalam sejumlah butir butir Perjanjian Damai antara Pemerintah Republik
Indonesia dan GAM belum sepenuhnya dijalankan oleh pemerintah pusat. Kendati
dalam perjanjian tersebut memiliki limit waktu yang harus dijalankan namun
dengan berbagai alasan, Aceh masih dimintauntuk menunggu
Terhadap serangkaian pengalaman dibohongi, tipu dan tertipu
tersebut, baik Rusdi Sufy maupu Ramli A Dally berharap semoga kedepan rakyat
Aceh tidak lagi tertipu dan dibohongi Pemerintah Pusat termasuk tertipu dan
dibohongi oleh pemimpin Aceh sendiri. Bahkan sepertinya dibohongi oleh
Pemerintah Aceh sendiri lebih parah. Hom hai entah kiban Aceh nyou.[]
* Wartawan Jurnalatjeh.com
(jurnalatjeh.com)
(jurnalatjeh.com)

0 komentar :