| ilustrasi |
*Oleh : Isvani
Tulisan
ini diilhami dari poster yang sebagai bentuk tugas ujian akhir kuliah psikologi
lintas budaya. Tugas yang diberikan berupa yang berhubungan dengan budaya dan
manusianya. Setelah berfikir keras akhirnya kelompok kami memutuskan mengambil
tema identitas budaya. Unsur-unsur dalan identitas budaya sangat banyak
akhirnya dengan keyakinan kami akan membuat suatu poster yang berhubungan
dengan bahasa daerah. Sebagaimana kita ketahui bahasa daerah adalah satu bagian
dari identitas budaya.
Setiap
daerah dinusantara ini memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa daerah
akan menunjukkan jati diri suatu komunitas masyarakat tersebut. Bahasa daerah
sebagai wujud kearifan lokal dari suatu wilayah adat. Di era zaman modern saat
ini sudah mulai terkikisnya bahasa daerah dari mulut-mulut anak daerah.
Pemuda-pemudi sekarang ini akan merasa tidak modern dan ketinggalan zaman bila
masing menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Bahkan ada yang memang tidak
bisa sedikitpun dengan bahasa daerahnya. Permasalahan itu lah yang menjadi
fokus kami sehingga kami menuangkan dalam poster sebagai hasil dari
interpretasi dari pikiran kami.
Aceh
sebagai salah satu wilayah yang beragam dengan budaya, bahasa, adat istiadat
dan tradisi lainnya. Aceh adalah salah satu wilayah dihuni oleh berbagai
suku-suku yang menyebar diseluruh tanah aceh. Ada Aceh, Gayo, Tamiang, Alas,
Aneuk Jamee, Kluet, dan lain-lain yang lagi yang belum saya ketahui. Dalam
bahasa aceh saja akan mengalami banyak perbedaan antara satu kabupaten dengan
kabupaten lainnya walaupun masih dalam satu Aceh. Antara kabupaten aceh utara
dan kabupaten pidie akan ada perbedaannya dalam segi dialek dan tuturan.
Begitupun dengan yang lainnya. Bahkan, antara satu kampung dengan kampung lain
akan ada perbedaan walaupun sama dalam satu kabupaten. Artinya adalah, begitu
banyaknya budaya dan bahasa yang kita miliki sehingga patut berbangg dengan
perbedaan tersebut.
Namun,
yang disayangkan adalah kesadaran aneuk naggroe ini dalam menggunakan bahasa
daerahnya masing. Kalau diperhatikan arus perubahan penggunaan bahasa daerah
akan sengat kentara di daerah perkotaan sedangkan di daeah pedalaman belum
sepenuhnya muda mudi mulai meninggalkan bahasa daerah. Muda mudi yang
diperkotaan secara lingkungan mungkin karena kehidupan keluarga dan
lingkungannya yang tidak mengenalkannya dengan bahasa-bahasa daerah. Di dalam
keluarganya tidak ada modelling sebagai tempatnya meniru yang akan membentuk
kepribadiannya.
Apakah
tidak boleh belajar bahasa orang lain dan berkomunikasi menggunakan bahasa
orang lain? jawabannya ia boleh-boleh saja asal tidak melupakan bahasa
daerahnya masing-masing. Bahasa indonesia misalnya bila dikatakan sebagai
bahasa persatuan maka pergunakan ketika suatu kondisi yang memang mengharuskan
kita menggunakan bahasa persatuan tersebut . bagaimana pun bahasa yang di ada
aceh adalah sebagai wujud identitas budaya masyarakat aceh. Kemana pun kita
melangkah sudah patutnya membawa jadi diri kita sebagai pertanda kita tidak
sama dengan orang-orang lain, bila tidak maka bahasa-bahasa yang berada di aceh
di ambang kepunahan.
* penulis adalah pemerhati sosial budaya dan Alam, Mahasiswa fakultas hukum dan fakultas psikologi Unsyiah .
sumber: suaatjeh.blogspot.com
0 komentar :