Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Demam Batu Giok Resahkan Ulama

Unknown     19.22    
Demam Batu Giok Resahkan Ulama
menatapaceh.com

FENOMENA perburuan batu mulia dan demam giok yang kini melanda Aceh, ternyata tidak luput dari perhatian ulama. Sebagian ulama melihat fenomena ini sebagai hal yang biasa saja, namun sebagian lainnya justru mulai resah dan merasa khawatir. Pasalnya, ada yang meyakini bahwa batu-batu mulia tersebut mengandung berbagai ‘khasiat’, yang justru dikhawatirkan bisa merusak akidah. 

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Drs Tgk H Ghazali Mohd Syam, misalnya, mengkhawatirkan kegandrungan masyarakat muslim di Aceh dengan batu giok dan sejenisnya dapat mengarah kepada syirik. Apabila sudah dianggap batu tersebut memberi manfaat dan mudharat.

“Karena ada isu-isu dari beberapa yang mengatakan bahwa khasiat batu giok, dan sejenisnya itu dapat meringankan azab kubur, ringan di padang mahsyar, dan akan memperoleh kekayaan,” ujarnya menjawab Serambi, Kamis (29/1).

Sebab itu, kata Tgk Ghazali dalam hal ini MPU meminta agar masyarakat muslim di Aceh tidak terpengaruh dengan hal-hal tersebut sebab dapat mengarah ke perbuatan syirik. Namun, apabila digunakan sebagai hiasan dan jual beli maka tidak apa-apa.

Pembahasan tentang batu cincin juga sudah pernah dibahas dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (25/1) malam. Tema yang diangkat tentang “Dosa-dosa Besar dalam Islam” yang kemudian dibukukan dengan judul “Tinta Emas Wartawan Syariah,” bersama tema-tema lainnya. Buku tersebut ditulis oleh Wartawan Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur dan Arif Ramdan, serta Wartawan Analisa, Muhammad Saman.

 Memakai cincin

Seperti yang tertulis dalam buku itu, pada tahun tersebut memakai cincin dengan hiasan batu dari beragam jenis juga sedang menjadi trendi sejumlah kalangan. Tidak jarang, banyak dari pecinta batu cincin itu memakai cincin di ke sepuluh jarinya. Bahkan tak jarang pula banyak yang percaya ada kekuatan (azimat) di dalam batu-batu cincin di jarinya.

Menanggapi hal tersebut, alumnus Al Azhar Mesir, H Zul Anshary Lc yang mengisi pengajian tersebut mengatakan bahwa memakai cincin berhias batu yang sedang trend di Aceh akhir-akhir ini tidak bisa serta-merta dianggap sebagai perbuatan yang menjurus syirik. Banyak dari pecinta batu cincin itu memakainya hanya untuk hiasan.

“Yang jadi masalah adalah ketika ada yang memakai cincin untuk mengharap keberkatan atau karena percaya ada kekuatan yang dikandung dalam batu cincin itu,” jelas Syech Zul Anshary menanggapi pertanyaan dari satu di antara peserta diskusi yang menanyakan tentang hukum memakai batu cincin. Karena ada beberapa orang yang meminta bantuannya membuat batu cincin kerap mengait-ngaitkan batu itu dengan hal-hal mistis.

Menurutnya, pemahaman yang salah seperti itu, sebenarnya sudah berkembang sejak cukup lama, dan tidak hanya di dalam masyarakat Aceh saja. Tapi juga di jazirah Arab, tempat lahirnya Islam. Saking parahnya, ada orang Arab yang berani membuat hadis palsu untuk membenarkan hal ini.

Beradasarkan penelusuran yang dilakukan penulis buku tersebut dari situs sabdaislam.wordpress.com, setidaknya ada tiga hadis yang bisa dikategorikan palsu (karena maudhu’ pada sanad-nya) yang terkait dengan pemakaian batu akik ini.

Di antara bunyi hadis itu adalah “Pakailah cincin akik, karena seseorang tidak akan ditimpa kesedihan selama ia memakainya.” Hadis ini maudhu. dan diriwayatkan oleh Ali bin Mahrawiyah. Dalam sanadnya terdapat seorang bernama Daud bin Sulaiman al-Ghazi al-Jarjani yang oleh Ibnu Muin dinyatakan sebagai pendusta. Adz-Dzahabi berkata, “Dia adalah syekh kadzdzabin (biang pendusta).”

“Gunakanlah cincin akik karena ia dapat menyukseskan segala urusan, dan tangan kanan lebih patut untuk dihiasi.” Hadis ini maudhu’ dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir IV/291 dalam mengetengahkan biografi al-Hasan bin Muhammad bin Ahmad bin Hisyam as-Sulami, dengan sanad dari Abi Ja’far Muhammad bin Abdullah al-Baghdadi, dari Muhammad bin al-Hasan, dari Muhammad Ath-Thawil, dari Anas ra.

Ibnu Hajar dalam al-Lisan II/269 berkata,” Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini maudhu’, namun saya tidak mengetahui siapa yang memalsukannya.” Pernyataan ini dikukuhkan oleh as-Suyuthi dalam al-La’ali 11/273.

Sebab itu, Syech H Zul Anshary berharap agar menghindari perbuatan yang menjurus pada pemujaan terhadap benda atau makhluk Allah. “Karena hal-hal seperti itu bisa menjurus pada perbuatan menyekutukan Allah. Pendapat saya, karena tidak ada hadis yang melarang pemakaian cincin berhias batu (tanpa unsur emas), jadi silakan pakai saja sebagai hiasan. Tapi jangan pernah terbersit bahwa batu itu bisa membantu kita di saat-saat sulit. Karena itu bisa menjurus kepada dosa besar (syirik),” demikian H Zul Anshary. 

Sependapat dengan MPU

Sementara itu, Ketua Umum DPP Gabungan Pecinta Batu Alam (Gapba) Aceh, Nasrul Sufi mengatakan sependapat dengan MPU Aceh agar masyarakat tidak meyakini hal-hal yang mengarah ke syirik. “Bagi kami batu itu untuk seni, keindahan, dan hobi,” katanya menjawab Serambi, Kamis (29/1). “Semua batu itu ciptaan Allah dan sepatutnya kita memohon dan meminta kepada Allah itu yang cocok. Bagi kawan-kawan ada yang masih berpikir bisa mensukseskan berbagai hal, maka jangan sampai kita percaya pada selain rukun iman. Allah-lah yang lebih tepat kita meminta bukan pada batu,” ujarnya.

Menurut Nasrul, ada beberapa batu yang ditemukan berguna sebagai terapi kesehatan. Seperti black jade berwarna hitam pekat dan saat disenter mengeluarkan warna hijau, ketika digosok juga berkilat seperti batu-batu cincin lainnya. “Batu tersebut, katanya mempunyai kualitas yang sangat tinggi dan penggunaannya harus menyentuh kulit,” sebutnya.

Nasrul menambahkan, black jade yang digunakan sebagai terapi kesehatan ini sudah dilakukan penelitian dan dikuatkan oleh sebuah perusahaan obat di Malaysia. Kegunaannya, apabila batu tersebut digantung di dada maka bagus untuk jantung, paru-paru, dan keseluruhan untuk terapi dan peredaran darah. “Bisa dipakai di kalung, cincin, dan gelang. Tapi dengan catatan harus menyentuh kulit,” ujarnya.

Selain itu Nasrul mengimbau agar para pebisnis batu tetap menjaga hutan dan tidak mengambil batu menggunakan alat-alat berat. “Tapi manual, ambil yang bagus saja dan jangan ambil yang tidak bagus biar tinggal di gunung saja,” demikian ujarnya.

 Sumber : serambi indonesia  



Sabtu, 24 Januari 2015

Inilah Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam

Unknown     03.18    

Perempuan Berkalung Sorban

Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam
perempuan berkalung surban 


“Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak dulu, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah menonton film Hanung ini. Hanung, kau keterlaluan”
Itulah curahan hati Sastrawan Taufik Ismail ketika menanggapi Film Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo. Film itu mengisahkan sistem pesantren yang dirasa mengekang perempuan. Tampilan Kyai pun dibuat Hanung begitu menyeramkan, seakan kisah teladan dakwah para Ulama di Indonesia berguguran. Wajar seorang Budayawan berkelas seperti Taufik Ismail begitu kaget. Budaya, yang menjadi bidangnya, kini jadi wasilah untuk menyudutkan umat Islam.
Sikap Taufik Ismail ini didukung oleh sineas senior lainnya, Misbach Yusa Biran. Misbach menyebut film garapan Hanung Bramantyo tersebut sebagai propaganda buruk terhadap pesantren.”Saya tidak bisa menahan diri,” tulis Misbach. ”Inti cerita Perempuan Berkalung Sorban ini menurut saya sangat merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.”
Misbach menuliskan dalam film ini pesantren digambarkan sebagai tempat pendidikan yang sumpek dengan pemikirannya sangat terbelakang. ”Dewasa ini pesantren kecil di pedesaan terpencilpun rasanya sudah tidak ada yang begitu buruk pemahamannya,” katanya.
Bahkan di film ini, kata Misbach, kiai lulusan Mesir begitu digambarkan seperti seorang yang dungu karena tidak membenarkan orang membaca selain Al Qur’an. ”Sehingga seolah-olah perguruan tinggi Islam di Mesir juga digambarkan sangat terbelakang.”

 Film ?

Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam


Masih belum lepas dari ingatan ketika tahun 2011 Hanung membuat film yang tidak kalah heboh. Judulnya cukup singkat: ?. Namun di dalamnya banyak pecelehan yang tidak bisa diselesaikan secara singkat.
Ada tayangan seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Muslimah yang disudutkan mau bekerja di tempat yang menjual makanan haram. Bahkan puncaknya Hanung menganggap sepele perkara pemurtadan. “Aku pindah agama bukan berarti aku mengkhianati Tuhan,” ungkap Rika, tokoh utama dalam Film ?.
Maka itu, mungkin saja Hanung menganggap sepele untuk urusan akidah. Bahkan secara tega, suami Zaskia Mecca ini memainkan pemeran murtad untuk tokoh sekaliber KH. Ahmad Dahlan yang kuat melawan Kristenisasi di Film Sang Pencerah.
Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti  adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.
Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.
Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina  S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.
Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara pandang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah yang tidak toleran.
Kepribadian Hanung sendiri dinilai bermasalah. Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta  yang berlangsung saat bulan Ramadhan ia mengaku tidak menjalankan kewajiban puasa dan shalat. Tanpa rasa sungkan, Hanung berkata jujur saat diwawancarai Radio KBR 68 H, Rabu 27 Oktober 2010.
“Saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya,”  katanya.
Menanggapi film ?, Ketua MUI KH. Kholil Ridwan menyatakan, “Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,” katanya.
Menurutnya, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.
“Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Kholil mengingatkan

Cinta Tapi Beda

Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam


Di akhir tahun 2012, ‘Film Cinta Tapi Beda’ mengawali petualangan Hanung dalam dunia perfilman.  Film ini mengisahkan dua muda-mudi yang berbeda keyakinan. Untuk film ini, Hanung juga menggandeng sutradara Hestu Saputra dan musisi Eross Candra, yang juga pelaku cinta beda agama.
Film itu mengisahkan Cahyo (Reza Nangin), cowok ganteng asal Jogja, bekerja sebagai chef di Jakarta. Ia anak pasangan Fadholi dan Munawaroh, keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari kesedihan setelah ditinggal selingkuh sang kekasih, Mitha.
Sedangkan Diana (Agni Pratistha) merupakan gadis asal Padang, Sumatera Barat, mahasiswi jurusan Seni Tari. Ia tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta. keluarga Diana merupakan penganut Katolik taat.
Cahyo dan Diana bertemu di pertunjukan tari kontemporer di Jakarta. Mereka memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan.
Diana was-was ketika Cah­yo mengajaknya menemui orangtuanya. Ibu Cahyo bisa me­mahami cinta anaknya, tapi tidak Pak Fadholi. Sampai kapan pun Pak Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cah­yo memaksa, Pak Fadholi me­milih memutus ikatan tali ke­luarga. Ternyata tidak mu­dah bagi Cahyo dan Diana men­ja­lani cinta beda keyakinan.
Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Ka­kak-kakak Diana, termasuk om dan tantenya, telah me­ning­galkan keyakinan me­reka. Ibu Diana memaksa Diana me­ngi­kuti kehendaknya. Itu se­bab­nya, Diana akhirnya me­mi­lih kembali ke Padang dan me­nerima perjodohan dengan do­kter Oka, lelaki pilihan ibu­nya dan seiman. Ia coba tutup ha­tinya untuk Cahyo.
Film ini tentu menggiring pembaca untuk membenarkan pernikahan beda agama. Padahal ini adalah perkara sensitif dalam Islam karena sudah menyangkut akidah.
Hanung pun kemudian juga harus menghadapi protes dari umat Islam Minangkabau. Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak Hanung Bramantyo meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.
“Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini,” kata pengurus pusat KMM Jaya Muhammad Rozi.
Ke­tua Umum Lembaga Kera­patan Adat Alam Minang­ka­bau (LKAAM) Kota Pa­ya­kum­buh Indra Zahur Da­tuak Rajo Simarajo dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Paya­k­umbuh Haji Mismardi, juga terang-terangan, meminta film ”Cinta Tapi Beda”, dari peredaran. ”Jangan sampai ada yang bere­dar atau diputar lagi, apalagi di Payakumbuh,” kata mereka.
Menurut Indra Zahur dan Mismardi, film Cinta Tapi Beda, sangat tidak sesuai de­ngan ajaran adat Minang. ”Se­jak leluhur kita menga­jarkan ni­lai-nilai kehidupan, ber­aga­ma, berkorong berkampung, nilai-nilai Islam tetap melekat da­lam ajaran adat Minang.  Artinya, orang Minang itu ada­lah kaum muslim dan mus­limah, pemeluk Islam.
”Kalau ia tak beragama Islam, itu bukan orang Minang. Ka­mi takut, film ini akan merusak sendi-sendi adat dan bu­daya masyarakat Minang da­lam berkehidupan sehari-ha­ri yang sangat menjaga hu­bu­ngan antar sesama. Kami men­curigai, ada keinginan terse­lu­bung dari orang-orang yang ikut mendukung film tersebut ditayangkan. Misalnya, ingin  menghancurkan adat dan bu­daya masyarakat Minang,” kata Indra Zahur dan Buya Mis­mardi. 
sumber: Islampos.com. 


Kamis, 22 Januari 2015

Akhwat Berbehel, Yuk Ketahui Hukum Menggunakan Behel Gigi!

Unknown     19.44    
Ilustrasi

“Allah telah mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan Allah.” (HR. Muslim)
ANDA pernah mendengar istilah cabe-cabean? Istilah ini muncul beberapa waktu yang lalu saat terjadinya fenomena dikalangan remaja putri. Artikel-artikel mengatakan bahwa ciri anak cabe-cabean adalah menggunakan kawat behel pada giginya. Tapi terlepas benar atau tidaknya, mari kita bahas hukum kawat behel dalam islam.
Fenomena gigi berbehel menarik perhatian sebagian kaum muslimin yang mempunyai kepedulian terhadap hukum halal dan haram. Banyak dari mereka yang menanyakan status hukumnya berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karenanya, perlu ada penjelasan terhadap masalah-masalah tersebut. Untuk mempermudah pemahaman, pembahasan ini akan dibagi menjadi beberapa  masalah :

Jadi Bagaimana Hukum Menggunakan Kawat Behel?

Banyak jama’ah pengajian yang menanyakan hukum  menggunakan kawat behel, boleh atau tidak menurut pandangan Islam?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dirinci terlebih dahulu:
Pertama : Jika seseorang mempunyai gigi atas yang letaknya agak ke depan, atau menurut istilah orang Jawa “gigi moncong“ atau “gigi mrongos“,  yang kadang sampai tingkat tidak wajar sehingga mukanya menyeramkan, maka hal ini dikatagorikan gigi yang cacat, oleh karenanya boleh diobati dengan cara apapun, termasuk menggunakan kawat behel agar giginya menjadi rata kembali. Ini berdasarkan  sabda  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam  :
يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَمُ
“Wahai sekalian hamba Allah, berobatlah sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat untuknya kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya, “Penyakit apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu penyakit tua (pikun). “ (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Berkata Tirmidzi : Hadits ini Hasan Shahih).
Di dalam hadits di atas diterangkan bahwa Allah melaknat orang yang merubah gigi dengan tujuan agar giginya lebih indah dan lebih cantik.  Berkata Imam Nawawi  menerangkan hadist di atas :
“Maksud (al-Mutafalijat) dalam hadist di atas adalah mengikir antara gigi-gigi geraham dan depan. Kata (al-falaj) artinya renggang antara gigi geraham dengan gigi depan.  Ini sering dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua atau yang seumur dengan mereka agar mereka nampak lebih muda dan agar giginya lebih indah.
Renggang antara gigi ini memang terlihat pada gigi-gigi anak perempuan yang masih kecil, makanya jika seseorang sudah mulai berumur dan menjadi tua, dia mengikis giginya agar kelihatan lebih indah dan lebih muda. Perbuatan seperti ini haram untuk dilakukan, ini berlaku untuk pelakunya (dokternya) dan pasiennya berdasarkan hadist-hadist yang ada, dan ini merupakan bentuk merubah ciptaan Allah serta bentuk manipulasi dan penipuan.”
Kedua : Jika gigi seseorang kurang teratur, tetapi masih dalam batas yang wajar, tidak menakutkan orang, dan bukan suatu cacat atau sesuatu yang tidak  memalukan, serta pemakaian kawat behel dalam hal ini hanya sekedar untuk keindahan saja, maka hukum pemakaian kawat behel tersebut tidak boleh karena termasuk dalam katagori merubah ciptaan Allah suhbanahu wata’ala.
Dalilnya adalah hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ
“Allah telah mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan Allah.” (HR. Muslim)
Selama gigi kita masih rapi, bersikaplah wajar. Tidak perlu berlebih-lebihan menggunakan behel. Selain menghemat uang, kita juga bisa menghindari resiko-resiko gangguan mulut karena behel itu sendiri. [ds/islampos/artikelmuslimah]

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger