![]() |
| Ilustrasi |
PERSePSIPOST,
BANDA ACEH - Demam mengoleksi batu akik sedang melanda negeri ini. Aceh adalah
salah satu tempat di mana warganya mulai tergila-gila dengan keindahan batu
alam tersebut. Akan tetapi, tren mengoleksi batu giok maupun akik ternyata
berimbas kepada hal lain. Yakni menurunnya hobi bermain burung hias dan kicau.
Omzet
pedagang burung pun mulai menurun. Padahal sebelum kegemaran mengoleksi batu
cincin meledak, pedagang burung di Banda Aceh bisa meraup keuntungan yang
lumayan.
"Omzet
penjualan burung kicau selama demam batu akik ini jauh berkurang," kata
Ahmad, pemilik toko penjual burung Ahmad Jaya, Sabtu (14/3).
Ahmad
sejak lama menjual burung kicau dan makanan ternak berlokasi di kawasan Neusu,
Banda Aceh. Ia mengungkapkan, sebelum demam batu akik, dia bisa menjual burung
dengan omzet mencapai Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Tetapi keadaan sekarang
berbanding terbalik.
"Saat
ini yang rutin datang biasanya hanya untuk membeli makanan (umpan) saja,"
ujar Ahmad.
Faktor
lain yang membuat omzetnya menurun menurut Ahmad adalah sepinya gelaran kontes
burung. Sebab seiring demam batu akik, kontes burung sudah jarang digelar.
Imbasnya adalah berkurangnya minat pehobi burung karena imbas demam batu akik.
Hal
sama juga dialami oleh seorang pedagang burung lainnya di Aceh. Salah satu toko
di kawasan Keutapang malah terpaksa membanting harga berbagai jenis burung
kicau. Dulu di toko ini bisa menjual burung jenis kacer dengan banderol Rp 500
ribu. Tetapi sekarang toko ini terpaksa menjual burung ini setengah harga,
bahkan bisa lebih rendah dari itu.
"Ambil
terus bang, ini sudah makan voer (pakan burung dari dedak). Buat abang saya
kasih Rp 250 saja," kata Ismail, pemilik toko di Keutapang.
Kendati
demikian, Ismail tetap optimis hobi burung kicau akan kembali menggeliat. Dia
yakin demam batu akik tidak bakal lama. "Bisa jadi sebentar lagi mereka
yang dulu hobi dengan burung kicau akan kembali ke hobi ini," tutup
Ismail.[] (Acehxpress.com)

0 komentar :