Sabtu, 14 Maret 2015

Dolar Menguat dan Ukuran Tempe yang Makin Kecil

Unknown     09.39    

Cerita Dolar Menguat dan Ukuran Tempe yang Makin Kecil
ilustrasi
PERSePSIPOST, Yogyakarta - Perajin tempe dan tahu yang menggunakan bahan baku kedelai hasil impor resah dikarenakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pedagang tempe di Pasar Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Pujiati mengatakan harga kedelai per kilogram naik dari Rp 7.500 menjadi Rp 9.500 sejak lima hari lalu. 

Kenaikan harga kedelai impor berakibat para perajin tempe mengurangi takaran bahan baku kedelai untuk membuat tempe. "Ukuran tempe menjadi lebih kecil. Bobotnya dikurangi," kata dia di pasar Bantul, Jumat, 13 Maret 2015.

Pujiati mendatangkan tempe dari perajin di Bantul. Perajin mengurangi campuran kedelai untuk menekan biaya produksi karena harga kedelai yang naik. Misalnya satu canting kedelai dikurangi sedikit. Perajin yang memproduksi tempe yang dijual Pujiati per hari mengolah 15 kilogram kedelai.

Perajin tempe di Dusun Mandingan, Ringinharjo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Sri Susanti mengatakan belum menaikkan harga tempe meski harga kedelai naik.
Dia mengandalkan persediaan bahan baku kedelai yang ia beli dari pedagang di Pasar Niten, Bantul. Stok kedelai di rumahnya sebanyak dua ton. "Kami berharap harga dolar tidak terus naik supaya harga kedelai impor normal," kata dia.

Sri mengatakan bila harga kedelai terus naik, maka ia harus menyiasatinya dengan cara mengurangi bobot tempe untuk menekan biaya produksi. Harga kedelai yang ia beli dari pedagang skala besar saat ini naik dari Rp 7.300 menjadi Rp 7.500 per kilogram. Sri setiap hari mengolah satu kuintal kedelai impor.

Sri mengatakan kedelai impor menjadi tumpuan perajin tempe karena kualitasnya yang baik ketimbang kedelai lokal produksi petani Bantul. Sri pernah mencoba mengolah kedelai lokal menjadi tempe. Tapi, hasilnya kurang bagus. "Warna tempe menjadi kehitaman dan terlihat kotor," kata dia.

Kepala Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM DIY, Riyadi Ida Bagus mengatakan menguatnya dolar tidak menguntungkan bagi iklim usaha di Yogyakarta dalam jangka panjang.
Mereka yang terkena imbas adalah kelompok usaha yang memanfaatkan bahan baku hasil impor. Misalnya perajin tempe yang mengandalkan kedelai impor. Indonesia 70 persen mengimpor kedelai. "Berat bagi perajin tempe karena mereka harus menekan biaya produksi," kata dia.

Menurut Riyadi, seperti tahun-tahun sebelumnya, bila harga kedelai impor naik, perajin hanya mengandalkan persediaan kedelai. Perajin akan menunggu stok habis untuk membeli kedelai hingga harga dolar turun.[]

(Tempo.co) 

Baca Juga : 

Menyingkap Tabir Di Balik Nama Lawe (Air)

0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger