JIKA di Tanah Minang, Sumatera Barat, ada legenda Malin Kundang
dengan jejak batu menyerupai orang sedang bersujud di kawasan Pantai Air Manis,
di Aceh ada legenda Tuan Tapa dengan jejak tersohor berupa tapak kaki raksasa
selebar 2,5 meter dan panjang 6 enam di Gunung Lampu, Tapak Tuan.
Legenda
dan jejak tapak kaki itu menjadi daya tarik Tapak Tuan. Keberadaannya pun
menimbulkan keingintahuan para pendatang ataupun wisatawan.
Tapaktuan
merupakan ibu kota Aceh Selatan. Kota ini terletak sekitar 500 kilometer dari
ibu kota Aceh, Banda Aceh. Tapak Tuan berasal dari dua suku kata tapak dan
tuan. Penamaan itu tidak terlepas dari legenda Tuan Tapa dan keberadaan tapak
kaki raksasa di sana. Legenda ini menjadi cerita rakyat turun-temurun dan
dipercayai hingga saat ini.
Juru
kunci obyek wisata tapak kaki Tuan Tapa, Chaidir Karim (49), mengisahkan,
dahulu hidup seorang petapa sakti bertubuh raksasa bernama Syech Tuan Tapa. ”Ia
sering bertapa ataupun bersemadi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-nya di
sebuah bukit yang kini disebut Gunung Tuan di Tapak Tuan,” tutur Chaidir, yang
ditetapkan sebagai juru kunci oleh dinas kebudayaan dan pariwisata setempat
lima bulan lalu.
Suatu
ketika, menurut Chaidir, ada sepasang naga dari daratan Tiongkok menemukan bayi
perempuan manusia dengan tanda tahi lalat di perut terapung sendirian di tengah
lautan Samudra Hindia. ”Mereka menyelamatkan bayi itu dan merawatnya hingga
tumbuh jadi anak perempuan di bukit yang kini disebut Gunung Alur Naga,”
ungkapnya penuh keyakinan.
Beberapa
tahun berlalu, keberadaan sepasang naga dan anak perempuan itu sampai ke
telinga raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka, sebuah kerajaan di kawasan
Samudra Hindia. ”Raja dan permaisuri itu kehilangan anak perempuannya ketika
berlayar di Samudra Hindia beberapa tahun silam. Mereka curiga anak perempuan
yang dirawat kedua naga adalah anak mereka,” katanya.
Setelah
mengecek sendiri, Chaidir meneruskan, raja dan permaisuri yakin bahwa anak
perempuan itu adalah anaknya. Mereka memintanya kepada kedua naga, tetapi ditolak.
Mereka pun membawa lari anak perempuan itu ke kapal dan pergi menyusuri lautan.
Kedua naga marah dan mengejar mereka hingga terjadi pertempuran di atas lautan.
Pertempuran
itu mengusik persemadian Tuan Tapa. Ia ke luar dari gunung dan melangkahkan
kaki kanan di karang untuk melontarkan tubuh ke laut tempat pertempuran. ”Jejak
kaki itu membekas di karang yang kini disebut di Gunung Lampu. Orang-orang
menyebutnya Tapak Tuan dan menjadi cikal-bakal nama Tapak Tuan,” tuturnya.
Chaidir
menceritakan, Tuan Tapa berniat menyelamatkan anak perempuan itu agar tidak
menjadi korban pertarungan tersebut. Ternyata, hal itu membuat marah kedua naga
dan terjadi pertarungan antara Tuan Tapa dan kedua naga.
Singkat
cerita, pertarungan dimenangi Tuan Tapa dan kedua naga tewas. Adapun raja dan
permaisuri kembali memiliki anaknya. Mereka bersama pengikutnya menetap di Aceh
Selatan. Mereka tidak bisa kembali ke Kerajaan Asralanoka karena kapalnya rusak
ketika pertempuran. ”Konon, mereka menjadi nenek moyang masyarakat Tapak Tuan
saat ini,” ujarnya.
Cerita
legenda itu diyakini masyarakat setempat hingga sekarang. Ada sejumlah bukti
yang diyakini, antara lain tapak kaki raksasa Tuan Tapa di Gunung Lampu. Ada
pula karang yang menyerupai topi dan kopiah Tuan Tapa yang terlepas ketika
pertarungan yang terletak 50 meter dari tapak kaki raksasa.
Ada
karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan sisik naga di Desa Batu Merah yang
letaknya sekitar 5 kilometer dari jejak kaki raksasa tersebut. Konon itu bekas
potongan tubuh naga jantan yang kalah bertarung.
Selain
itu, ada pula karang berbentuk layar kapal di Pantai Batu Berlayar, Desa Damar
Tutong, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang terletak 20 kilometer dari tapak
kaki raksasa. Konon itu sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang
hancur ketika pertempuran.
Ada
pula makam raksasa dengan lebar 2 me- ter dan panjang 15 meter di Masjid Tuo,
Kelu- rahan Padang, Tapak Tuan, yang letaknya sekitar 1 kilometer dari tapak
kaki raksasa. ”Konon makam ini tempat peristirahatan terakhir ataupun tempat
menghilangnya Tuan Tapa seminggu setelah pertarungan,” kata Chaidir.
Diminati wisatawan
Legenda
Tuan Tapa, terutama jejak tapak kaki raksasa itu, menjadi daya tarik pendatang
ataupun wisatawan ke Aceh Selatan. Menurut pemilik warung di kawasan obyek
wisata tapak kaki Tuan Tapa, Evi Risna (46), pengunjung obyek wisata itu
sekitar 500 orang per hari pada Senin-Jumat dan sekitar 1.000 orang per hari
pada Sabtu-Minggu. Sekitar 60 persen pengunjung merupakan pendatang ataupun
wisatawan, antara lain dari Banda Aceh hingga Sumatera Utara.
Para
pendatang mengatakan, mereka penasaran dengan bentuk tapak kaki raksasa itu.
Wisatawan asal Barus, Sumatera Utara, Gani (50), misalnya. Ia baru pertama kali
datang ke Tapak Tuan pada awal Januari ini.
Ia
mendapatkan cerita dari sejumlah teman, ada tapak kaki raksasa yang menjadi
asal-usul nama Tapak Tuan. Ia pun penasaran dan mengunjunginya. ”Legenda dan
tapak kaki raksasa ini unik sehingga menimbulkan rasa ingin tahu,” tuturnya.
Lokasi
sejumlah jejak legenda itu juga menarik karena berpemandangan alam yang indah
dan masih alami. Lokasi tapak kaki raksasa, contohnya. Tempat itu berada di
karang yang menjadi kaki Gunung Lampu dan menghadap ke arah lautan lepas.
Gunung
Lampu adalah bukit yang berketinggian sekitar 50-100 meter dari permukaan laut.
Bukit itu hijau penuh rerumputan dan pepohonan rindang. Lautan lepas itu
menghadap langsung ke Samudra Hindia. Airnya berwarna biru bersih.
Bentang
alam itu membuat pendatang atau wisatawan bisa bersantai menikmati pemandangan
dan berfoto. ”Tempat ini menarik. Selain bisa mengetahui legenda ataupun
kearifan lokalnya, saya juga bisa menikmati pemandangan alam yang indah dan
masih alami,” ujar Kelana (30), wisatawan asal Banda Aceh,
(kompas.com)

0 komentar :