![]() |
| ilustrasi |
Takengen - Aksi para kaula
muda-mudi yang menggelar pesta musik hip-hop ala diskotik di Aceh Tengah pada
malam Minggu kemarin menuai sorotan dari sejumlah pihak.
Zulfikar AB selaku anggota DPRK Aceh
Tengah dari komisi C kepada Waspada, Rabu (4/2) menyebutkan, beredarnya
informasi miring tentang pesta muda-mudi yang berlangsung di salah satu gedung
sewa milik pemerintah kabupaten itu hendaknya menjadi perhatian serius dari
bupati Aceh Tengah.
“Mencermati kabar yang beredar,
hendaknya bupati selaku pimpinan daerah memberi teguran keras ke pihak terkait.
Baik itu ke bagian umum Setdakab, selaku pihak berwenang atas
sewa-menyewa gedung, maupun pihak Panpel acara musik hip-hop itu,” sebutnya.
Apalagi lanjut Zulfikar, tindakan oknum
remaja ini selain tindak pantas menjadi contoh, juga sangat bertentangan dengan
visi misi bupati Aceh Tengah. Yang salah satu intinya, menegakan syariat
islam secara kafah, madani dalam membangun moral masyarakat dan daerah.
“Disayangkan perlakuan segelintir
generasi muda tersebut bisa dinilai telah ‘mencoreng’ misi dan visi bupati
dalam upaya menegakan siar syariat islam di daerah. Harusnya kejadian seperti
ini dapat dicegah,” sesalnya.
Terpisah, hal senada diutarakan Satria
Darmawan, anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Aceh Tengah.
Menurutnya, kegiatan kaula muda mudi ala diskotik yang digelar di Gedung Olah
Seni (GOS) Takengen, merupakan tindakan yang tidak sepatutnya terjadi di daerah
itu.
“Kami sebagai generasi muda merasa
kecewa atas terjadinya kasus ini. Tindakan ini selain memberi kesan tidak baik,
juga berefek negatif bagi citra daerah. Semua pihak tentunya harus sigap
ke depannya. Jangan sempat terulang peristiwa yang sama seperti ini,” harapnya.
Bersamaan, Mulyadi Sp seorang mahasiswa
dari Universitas Gajah Putih (UGP) Takengen, menyampaikan tanggapannya atas
kejadian ‘urakan’ yang dilakukan oknum remaja di sana. “Saya kira secara tak
langsung peran dan kontrol orang tua juga sangat dibutuhkan untuk menghindari
tindakan negatif seperti itu. Sebagai pemuda, saya merasa malu. Apalagi isu ini
jadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.”
Diberitakan sebelumnya, warga Aceh
Tengah digemparkan dengan adanya pesta malam mingguan di GOS Takengen,
yang diduga dilakoni para oknum remaja non muhrim dengan menggelar musik
hip-hop ala diskotik hingga larut malam.
Tindakan yang dinilai bertentangan
dengan syariat islam ini akhirnya menuai sorotan dari masyarakat dan telah
ditanggapi serius oleh pihak Satpol PP dan WH Aceh Tengah. “Kami menjamin ke
depannya kejadian serupa tidak akan berulang lagi di sini,” sebut Mursyid
kepala Satpol PP-WH Aceh Tengah saat dikonfirmasi sebelumnya.
(harian waspada)

0 komentar :