
PESONA giok tak hanya
menyihir warga Aceh, tapi juga memikat hati Putri Pariwisata Indonesia 2013,
Nabilla Shabrina. Duta pariwisata asal Jawa Timur itu pun didapuk menjadi ikon
di ajang Atjeh Batee Festival yang berlangsung pada 3-8 Februari 2015, di Hermes
Palace Hotel, Banda Aceh.
“Sekarang kan memang
sedang booming batu, tapi saya berharap ini bukan musiman. Jadi selain potensi
alamnya yang indah, Aceh juga memiliki SDA berupa batu mulia. Tinggal lagi
SDM-nya yang perlu dibangun agar warga Aceh sadar wisata,” kata Nabila Shabrina
kepada Serambi, di sela-sela acara Atjeh Batee Festival, Kamis (5/2) lalu.
Dara kelahiran Kendal,
7 September 1993 itu tampak menjadi ‘bintang’ di kontes batu mulia yang baru
pertama kalinya digelar di Aceh. Setidaknya ini terlihat para pengunjung
festival yang kerap mengajaknya berbincang soal batu, bahkan tak sedikit pula
yang kemudian mengajaknya untuk berfoto selfie.
Nabila, begitu sapaan
akrab Putri Pariwisata Indonesia 2013 itu, mengaku bahwa ini merupakan kali
ketiga ia menginjakkan kaki di Aceh. Sebelumnya, ia ke provinsi paling barat
wilayah Tanah Air ini dalam rangka peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan RI pada 17
Agustus 2013 dan peringatan 10 tahun tsunami 26 Desember 2014 lalu.
Bungsu dari tujuh
bersaudara ini mengatakan budaya sadar wisata akan membuat pelancong selalu
ingin kembali lantaran merasa tak cukup datang sekali. Menurut Nabilla, yang
menjadi daya tarik utama pariwisata justru terletak pada keramahan warga, yang
kemudian menjadi sebuah budaya.
Di mata dia penting
bagi pemerintah Aceh dan stakeholders mensosialisasikan budaya sadar wisata
kepada warganya. “Jadi kita tak lagi mendengar ada wisatawan yang kapok ke
tempat itu lantaran ditipu atau semacamnya,” tegas perempuan yang bercita-cita
sebagai pebisnis ini.
Menurut Putri
Pariwisata Indonesia ke-6 itu, Sumur Tiga, Sabang menjadi destinasi favoritnya
di Aceh. Panorama pantai nan indah adalah alasan kerinduannya untuk selalu bisa
kembali. Duta yang mengemban misi wonderfull Indonesia itu tak menampik
kemolekan alam negeri Zamrud Khatulistiwa. Namun Nabilla tak memungkiri tak
mudah untuk membuat warganya sendiri cinta terhadap produk lokal, konon lagi
membangun budaya sadar wisata.
“Ini menjadi program
Duta Pariwisata yang dilakukan secara berkelanjutan karena memang membutuhkan
waktu yang lama untuk itu. Sejauh ini Bali masih menjadi satu-satunya contoh
dari suksesnya kesadaran wisata setempat,” paparnya.
Mahasiswi Jurusan
Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)
Surabaya itu mengaku usai menempuh pendidikan, dirinya ingin merintis bisnis di
bidang ekonomi kreatif. Keikutsertaan putri pasangan Achmad Fuad dan Dewi Sekar
ini dalam kontes duta pariwisata pun tak lepas dari kecintaannya terhadap
kekayaan alam dan khazanah budaya Indonesia.
Pemilik tinggi 173 Cm
dengan berat 60 Kg tersebut mengaku saat ini kuliah dan perannya memperkenalkan
pariwisata Indonesia telah menyita waktunya. Nabilla sendiri sekarang
berdomisili di Surabaya sehingga sulit baginya menekuni dunia hiburan yang
berporos di ibu kota Jakarta.
Nabila yang kepincut
pada citarasa mie Aceh tersebut mengaku ingin menyelesaikan kuliah tepat waktu,
sehingga bisa menyandang gelar seorang engineer tahun depan. Nabilla bertekad
menyeimbangkan pendidikan dengan kesibukannya sebagai Duta Pariwisata.
Selain menjadi ikon di
Atjeh Batee Festival, kunjungannya kali ini juga untuk menghadiri penerbangan
perdana Garuda Indonesia dengan rute Kuala Namu-Sabang. “Aceh tidak seperti
yang terdengar keluar. Saya sudah membuktikan kalau kesan orang di luar sana
tentang Aceh tidak benar. Semoga giok dan pesona alam Aceh menghadirkan citra
baru bagi Aceh,” ujar Nabila mengakhiri bincang-bincang dengan Serambi.
(serambiindonesia)
0 komentar :