![]() |
| joko widodo |
JAKARTA - Ratusan petani yang tergabung dalam paguyuban Omah Tani
Batang menggelar pentas kesenian di halaman gedung Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK),
Minggu (8/2/2015) pagi. Pentas tersebut dimeriahkan oleh tari-tarian, membatik,
dan membuat lukisan.
Salah satu hasil karya
para petani, yaitu lukisan, menggambarkan tentang perkelahian cicak dengan
buaya. Di bawah cicak dan buaya, ada seekor babi mengenakan kemeja dan dasi
sedang tertawa. Di lengan babi, terdapat simbol mata uang dollar Amerika
Serikat. Babi tersebut diceritakan sedang tertawa sambil berkata,
"Xi-xi-xi, pada berantem sendiri".
"Cicak buaya itu
menceritakan KPK dan Polri yang sedang kisruh. Lalu babi itu adalah pihak lain
yang memanfaatkan situasi kisruh tersebut dan mengambil keuntungan sendiri,"
kata koordinator aksi Omah Tani, Handoko, kepada Kompas.com.
Handoko tidak
menjelaskan lebih lanjut siapa yang menjadi babi dalam gambar tersebut. Namun,
dia menegaskan bahwa babi itu juga sebagai simbol pihak yang menyengsarakan
rakyat. Kesengsaraan rakyat dirasakan akibat kisruh KPK-Polri yang adalah cicak
dan buaya di atas gambar babi. Lukisan itu ditempelkan di salah satu bagian
gedung KPK oleh para petani.
Hasil karya lainnya
yang dibuat para petani itu adalah batik, juga menggambarkan cerita yang
berhubungan dengan lukisan cicak versus buaya. Dalam motif batik tersebut, ada
sosok tokoh wayang Petruk dan Semar.
Salah satu pebatik,
Muhaimin (30), menjelaskan kalau Petruk merupakan simbol dari rakyat yang
menjadi raja. Selain itu, Semar sendiri merupakan simbol kebijaksanaan. Ada
tulisan Semar sedang berbicara kepada Petruk, yaitu "Negoro geger, piye
tanggung jawabmu".
"Semar itu
mengingatkan Petruk sebagai raja kalau negaranya sedang kacau. Jadi harus
segera kasih keputusan," ujar Muhaimin.
Sosok Petruk disamakan
dengan Presiden RI Joko Widodo atau
Jokowi. Jokowi dianggap sebagai presiden yang berasal dari rakyat. Soal
mengambil keputusan, disamakan dengan Jokowi yang belum memberikan keputusan
soal penyelesaian konflik antara KPK dan Polri.
Setelah Komisaris
Jenderal Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, hingga kini
Presiden Jokowi belum memutuskan tentang sosok yang akan menjadi kepala Polri.
Keputusan itu akan diumumkan pada pekan depan setelah Jokowi berkunjung ke tiga
negara.
(tribunnews.com)

0 komentar :