Minggu, 08 Februari 2015

Melukis Konflik Cicak dan Buaya, Petani Ingatkan Jokowi Waspadai 'Babi'

Unknown     14.10    

Melukis Konflik Cicak dan Buaya, Petani Ingatkan Jokowi Waspadai 'Babi'
joko widodo 

JAKARTA - Ratusan petani yang tergabung dalam paguyuban Omah Tani Batang menggelar pentas kesenian di halaman gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Minggu (8/2/2015) pagi. Pentas tersebut dimeriahkan oleh tari-tarian, membatik, dan membuat lukisan.

Salah satu hasil karya para petani, yaitu lukisan, menggambarkan tentang perkelahian cicak dengan buaya. Di bawah cicak dan buaya, ada seekor babi mengenakan kemeja dan dasi sedang tertawa. Di lengan babi, terdapat simbol mata uang dollar Amerika Serikat. Babi tersebut diceritakan sedang tertawa sambil berkata, "Xi-xi-xi, pada berantem sendiri".

"Cicak buaya itu menceritakan KPK dan Polri yang sedang kisruh. Lalu babi itu adalah pihak lain yang memanfaatkan situasi kisruh tersebut dan mengambil keuntungan sendiri," kata koordinator aksi Omah Tani, Handoko, kepada Kompas.com.

Handoko tidak menjelaskan lebih lanjut siapa yang menjadi babi dalam gambar tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa babi itu juga sebagai simbol pihak yang menyengsarakan rakyat. Kesengsaraan rakyat dirasakan akibat kisruh KPK-Polri yang adalah cicak dan buaya di atas gambar babi. Lukisan itu ditempelkan di salah satu bagian gedung KPK oleh para petani.

Hasil karya lainnya yang dibuat para petani itu adalah batik, juga menggambarkan cerita yang berhubungan dengan lukisan cicak versus buaya. Dalam motif batik tersebut, ada sosok tokoh wayang Petruk dan Semar.

Salah satu pebatik, Muhaimin (30), menjelaskan kalau Petruk merupakan simbol dari rakyat yang menjadi raja. Selain itu, Semar sendiri merupakan simbol kebijaksanaan. Ada tulisan Semar sedang berbicara kepada Petruk, yaitu "Negoro geger, piye tanggung jawabmu".

"Semar itu mengingatkan Petruk sebagai raja kalau negaranya sedang kacau. Jadi harus segera kasih keputusan," ujar Muhaimin.

Sosok Petruk disamakan dengan Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi. Jokowi dianggap sebagai presiden yang berasal dari rakyat. Soal mengambil keputusan, disamakan dengan Jokowi yang belum memberikan keputusan soal penyelesaian konflik antara KPK dan Polri.
Setelah Komisaris Jenderal Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, hingga kini Presiden Jokowi belum memutuskan tentang sosok yang akan menjadi kepala Polri. Keputusan itu akan diumumkan pada pekan depan setelah Jokowi berkunjung ke tiga negara.

 (tribunnews.com) 

0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger