Selasa, 10 Februari 2015

Media dan Skandal Kebudayaan

Unknown     13.03    



Media dan Skandal Kebudayaan
ilustrasi 

Oleh Asmaul Husna

MEDIA dengan sejuta perkembangan teknologinya, kini sedang dipuja-puja. Ia menjadi ‘Tuhan’ baru yang disembah oleh banyak orang. Bedanya, untuk menyembah Tuhan yang satu ini tidak diperlukan waktu dan tempat khusus seperti masjid, gereja, wihara, dan lainnya. Penyembahnya tidak juga terikat dengan waktu lima kali sehari, seminggu sekali, ataupun tahunan. Karena banyak hamba-hambanya yang malah setia mengikat diri bahkan di luar permintaan Tuhan. Sebuah kesetiaan yang luar biasa.

Membaca keadaan yang demikian, maka tidak salah jika kemudian Yasraf Amir Pilliang (YAP) menggunakan istilah “Dunia yang Berlari: Mencari 'Tuhan-Tuhan’ Digital”. Sebuah kekhawatiran yang muncul ketika melihat manusia mulai berpaling kiblat menyembah Tuhan baru. Pemburuan itu terus dilakukan dan perlahan budaya mulai dilipat dalam kegamangan dan pengabaian. Tuhan-tuhan digital itu pun mampu melemahkan yang merakitnya dan kemudian kehilangan kendali. Berbeda sekali dengan Tuhan yang sesungguhnya, yang tidak pernah bisa ditundukkan oleh manusia yang diciptakannya.

Terkait hal tersebut, muncul pertanyaan: adakah yang salah dengan perkembangan teknologi? Bukankah penemuan-penemuan baru itu menunjukkan bahwa pengetahuan manusia semakin berkembang? Bukankah tidak ada yang menyukai sebuah kemunduran? Lalu apa yang harus dipermasalahkan? Tidak. Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja kita telah melakukan kebodohan, yaitu rela menjadi budak bagi hamba sahaya, yang seharusnya menjadikan kita sebagai tuannya.

Efek samping


Tulisan ini berangkat dari sebuah keprihatinan melihat efek samping perkembangan teknologi media yang kian hari semakin berlari kencang. Secara pribadi, saya tidak menampik bahwa perkembangan tersebut telah membantu manusia dalam banyak hal, termasuk mengetik tulisan ini dan mengirimkannya ke media. Namun ada beberapa catatan menarik yang selama ini saya perhatikan terkait perkembangan tersebut dan pengaruhnya terhadap budaya.

Salah satunya adalah media bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Terkait fungsi media yang satu ini, Anda tentu paham. Media komunikasi berupa telepon, email, dan sebagainya, adalah bukti bahwa kini jarak dan waktu bukanlah lagi sebuah persoalan. Satu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tentang suara yang bisa terdengar hanya diantar melalui udara dengan angka sebagai perantara.

Namun ada persoalan lain yang ikut menggugat keprihatinan. Ternyata media juga bisa menjauhkan yang dekat. Perhatikan saja, kini orang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sebuah benda kecil persegi empat yang mampu mencuri kehidupan nyata banyak orang. Facebook, BBM, twitter, line, dan lainnya, adalah ‘tuhan-tuhan’ digital baru yang tumbuh bak jamur dimusim hujan. Orang boleh saja duduk berdampingan dalam satu forum, tapi di tempat itu ia hanya meninggalkan seonggok raga tanpa jiwa. Maka tidak salah kalau ada yang menyelutuk: Jika Anda tidak menemukan orang yang dimaksud di dunia nyata, cari saja di dunia maya. Mungkin ia sudah pindah alamat.

Potret di Aceh, cerita di warung-warung kopi juga meninggalkan pemandangan yang sama. Orang memang duduk bersama dalam satu tempat, tapi jiwanya dibawa pergi ke “alam lain” bernama dunia maya. Tidak ada lagi budaya diskusi atau pun tegur sapa seperti dulu. Semua sibuk dengan dunia mayanya. Khusyuk menyembah tuhan-tuhan digitalnya. Dan sadisnya, bagi sebagian orang yang tidak punya “dunia lain” itu pun akan dipandang aneh, seolah-olah si Anu berangkat dari negeri antah-berantah tak bernama. Identitas kemodernannya dipertanyakan.

Efek samping lainnya adalah perkembangan teknologi media juga berdampak pada kearifan lokal. Contoh sederhananya, jika dulu di Aceh budaya mengaji bagi anak-anak setelah magrib adalah sebuah kebiasaan yang wajib ada, maka kini kita disuguhkan potret berbeda. Kehadiran ‘tuhan-tuhan’ baru mampu memalingkan kiblat kebiasaan tersebut. Televisi, tablet, game online, dan sebagainya adalah ‘setan-setan’ teknologi yang terus mengintai anak-anak. Jika tidak mengikuti perkembangan tersebut, dengan teganya akan dicap ketinggalan zaman.
Kini anak-anak sejak kecil juga mulai diajarkan bagaimana menggunakan media sosial. Belum lagi banyak dari mereka yang kini dicecoki dengan berbagai les ini-itu yang dianggap sebagai bentuk kesiapan menghadapi zaman. Maka menjadi menarik ketika beberapa waktu lalu berkunjung ke Banda Aceh, di sebuah rumah tetangga, mendengar seorang anak yang sedang diajarkan mengaji oleh ayahnya. Sebuah pemandangan yang mulai langka di tengah zaman yang mulai renta.

Terperangkap

Karena perkembangan teknologi yang semakin pesat tersebut, maka kini muncul istilah baru: makhluk-makhluk media sosial. Lalu bagaimana dengan istilah makhluk sosial? Kini seolah itu hanya menjadi kata pelengkap derita sebagai status yang melekat pada manusia. Ia tidak lagi disandang dan dipandang sebagai status yang membanggakan dan membahagiakan.

Di tengah zaman yang semakin menua, globalisasi teknologi memang tak dapat dihindari. Meminjam istilah Giddens, seorang sosiolog asal Inggris, globalisasi ibarat juggernaut (truk besar) yang sedang melaju kencang tanpa rem kendali. Ia bisa menabrak siapa pun dan kapan pun. Dari pejabat hingga rakyat jelata. Tidak peduli seberapa kuat tameng pertahanan yang dibangun.

Terkait istilah yang digunakan YAP, “Dunia yang Berlari; Mencari 'Tuhan-Tuhan’ Digital” itu memang hanya metafora. Dengan metafora itu hendak dijelaskan bahwa telah terjadi perubahan atau transformasi yang sangat cepat, memerangkap manusia dalam kegilaan dan ekstasinya, yang mengurung manusia dalam kepanikannya sehingga tidak menyisakan lagi ruang untuk mendekati Tuhan dan tak ada waktu lagi untuk mengingat nama-Nya. Manusia mencari 'Tuhan-tuhan’-nya sendiri dibimbing tiga “dewa”: kapitalisme, postmodernisme, dan cyberspace (Piliang, 2004).

Kini perlahan itu mulai terbukti. Padahal istilah itu muncul jauh sebelum kita mengenal media sosial dan terciptanya kehidupan lain bernama dunia maya. Sama seperti perkiraan orangtua dulu yang mengatakan: bahwa nanti akan muncul zaman dimana air akan keluar melalui dinding. Kini kita mengenalnya dengan istilah membuka kran air. Bukan bermaksud menafikan manfaat besar kehadiran teknologi, hanya saja kita belum cukup mampu membentengi diri dari badai globalisasi tersebut. Karena kita menggunakannya seperti orang kerasukan. 

Di luar kealpaan dan kelemahan kita membentengi diri dari badai globalisasi teknologi, inilah potret yang sedang terjadi. ‘Tuhan-tuhan’ digital tersebut telah merasuk ke alam bawah sadar manusia dan membentuk ‘dunia’ baru. Manusia sudah terperangkap. Sedangkan budaya bukanlah penghalang berarti bagi globalisasi. Ia bisa mengubahnya walau zaman sudah berada dalam kerentaannya.

Namun mengutip pernyataan Goenawan Mohammad, “Manusia bukanlah cetakan tunggal mumi Adam di atas bumi, yang ditaruh dalam gelas, tanpa sejarah, tanpa keterlanjutan kebudayaan.” Maka jangan sampai sejarah mencatat tentang manusia yang patah kemudi diri dan mati dalam kepungan badai globalisasi teknologi.

* Asmaul Husna, Aumnus Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe dan anggota Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU). Email: hasmaul64@yahoo.com


0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger