![]() |
| ilustrasi |
Oleh Asmaul Husna
MEDIA dengan sejuta
perkembangan teknologinya, kini sedang dipuja-puja. Ia menjadi ‘Tuhan’ baru
yang disembah oleh banyak orang. Bedanya, untuk menyembah Tuhan yang satu ini
tidak diperlukan waktu dan tempat khusus seperti masjid, gereja, wihara, dan
lainnya. Penyembahnya tidak juga terikat dengan waktu lima kali sehari,
seminggu sekali, ataupun tahunan. Karena banyak hamba-hambanya yang malah setia
mengikat diri bahkan di luar permintaan Tuhan. Sebuah kesetiaan yang luar
biasa.
Membaca keadaan yang
demikian, maka tidak salah jika kemudian Yasraf Amir Pilliang (YAP) menggunakan
istilah “Dunia yang Berlari: Mencari 'Tuhan-Tuhan’ Digital”. Sebuah
kekhawatiran yang muncul ketika melihat manusia mulai berpaling kiblat
menyembah Tuhan baru. Pemburuan itu terus dilakukan dan perlahan budaya mulai
dilipat dalam kegamangan dan pengabaian. Tuhan-tuhan digital itu pun mampu
melemahkan yang merakitnya dan kemudian kehilangan kendali. Berbeda sekali
dengan Tuhan yang sesungguhnya, yang tidak pernah bisa ditundukkan oleh manusia
yang diciptakannya.
Terkait hal tersebut,
muncul pertanyaan: adakah yang salah dengan perkembangan teknologi? Bukankah
penemuan-penemuan baru itu menunjukkan bahwa pengetahuan manusia semakin
berkembang? Bukankah tidak ada yang menyukai sebuah kemunduran? Lalu apa yang
harus dipermasalahkan? Tidak. Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja kita
telah melakukan kebodohan, yaitu rela menjadi budak bagi hamba sahaya, yang
seharusnya menjadikan kita sebagai tuannya.
Efek samping
Tulisan ini berangkat dari sebuah
keprihatinan melihat efek samping perkembangan teknologi media yang kian hari
semakin berlari kencang. Secara pribadi, saya tidak menampik bahwa perkembangan
tersebut telah membantu manusia dalam banyak hal, termasuk mengetik tulisan ini
dan mengirimkannya ke media. Namun ada beberapa catatan menarik yang selama ini
saya perhatikan terkait perkembangan tersebut dan pengaruhnya terhadap budaya.
Salah satunya adalah
media bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Terkait fungsi
media yang satu ini, Anda tentu paham. Media komunikasi berupa telepon, email,
dan sebagainya, adalah bukti bahwa kini jarak dan waktu bukanlah lagi sebuah
persoalan. Satu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tentang suara
yang bisa terdengar hanya diantar melalui udara dengan angka sebagai perantara.
Namun ada persoalan
lain yang ikut menggugat keprihatinan. Ternyata media juga bisa menjauhkan yang
dekat. Perhatikan saja, kini orang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sebuah
benda kecil persegi empat yang mampu mencuri kehidupan nyata banyak orang.
Facebook, BBM, twitter, line, dan lainnya, adalah ‘tuhan-tuhan’ digital baru
yang tumbuh bak jamur dimusim hujan. Orang boleh saja duduk berdampingan dalam
satu forum, tapi di tempat itu ia hanya meninggalkan seonggok raga tanpa jiwa.
Maka tidak salah kalau ada yang menyelutuk: Jika Anda tidak menemukan orang
yang dimaksud di dunia nyata, cari saja di dunia maya. Mungkin ia sudah pindah
alamat.
Potret di Aceh, cerita
di warung-warung kopi juga meninggalkan pemandangan yang sama. Orang memang
duduk bersama dalam satu tempat, tapi jiwanya dibawa pergi ke “alam lain”
bernama dunia maya. Tidak ada lagi budaya diskusi atau pun tegur sapa seperti
dulu. Semua sibuk dengan dunia mayanya. Khusyuk menyembah tuhan-tuhan digitalnya.
Dan sadisnya, bagi sebagian orang yang tidak punya “dunia lain” itu pun akan
dipandang aneh, seolah-olah si Anu berangkat dari negeri antah-berantah tak
bernama. Identitas kemodernannya dipertanyakan.
Efek samping lainnya
adalah perkembangan teknologi media juga berdampak pada kearifan lokal. Contoh
sederhananya, jika dulu di Aceh budaya mengaji bagi anak-anak setelah magrib
adalah sebuah kebiasaan yang wajib ada, maka kini kita disuguhkan potret
berbeda. Kehadiran ‘tuhan-tuhan’ baru mampu memalingkan kiblat kebiasaan
tersebut. Televisi, tablet, game online, dan sebagainya adalah ‘setan-setan’
teknologi yang terus mengintai anak-anak. Jika tidak mengikuti perkembangan
tersebut, dengan teganya akan dicap ketinggalan zaman.
Kini anak-anak sejak
kecil juga mulai diajarkan bagaimana menggunakan media sosial. Belum lagi
banyak dari mereka yang kini dicecoki dengan berbagai les ini-itu yang dianggap
sebagai bentuk kesiapan menghadapi zaman. Maka menjadi menarik ketika beberapa
waktu lalu berkunjung ke Banda Aceh, di sebuah rumah tetangga, mendengar
seorang anak yang sedang diajarkan mengaji oleh ayahnya. Sebuah pemandangan
yang mulai langka di tengah zaman yang mulai renta.
Terperangkap
Karena perkembangan teknologi yang semakin
pesat tersebut, maka kini muncul istilah baru: makhluk-makhluk media sosial.
Lalu bagaimana dengan istilah makhluk sosial? Kini seolah itu hanya menjadi
kata pelengkap derita sebagai status yang melekat pada manusia. Ia tidak lagi
disandang dan dipandang sebagai status yang membanggakan dan membahagiakan.
Di tengah zaman yang
semakin menua, globalisasi teknologi memang tak dapat dihindari. Meminjam
istilah Giddens, seorang sosiolog asal Inggris, globalisasi ibarat juggernaut
(truk besar) yang sedang melaju kencang tanpa rem kendali. Ia bisa menabrak
siapa pun dan kapan pun. Dari pejabat hingga rakyat jelata. Tidak peduli
seberapa kuat tameng pertahanan yang dibangun.
Terkait istilah yang
digunakan YAP, “Dunia yang Berlari; Mencari 'Tuhan-Tuhan’ Digital” itu memang
hanya metafora. Dengan metafora itu hendak dijelaskan bahwa telah terjadi
perubahan atau transformasi yang sangat cepat, memerangkap manusia dalam
kegilaan dan ekstasinya, yang mengurung manusia dalam kepanikannya sehingga
tidak menyisakan lagi ruang untuk mendekati Tuhan dan tak ada waktu lagi untuk
mengingat nama-Nya. Manusia mencari 'Tuhan-tuhan’-nya sendiri dibimbing tiga
“dewa”: kapitalisme, postmodernisme, dan cyberspace (Piliang, 2004).
Kini perlahan itu
mulai terbukti. Padahal istilah itu muncul jauh sebelum kita mengenal media
sosial dan terciptanya kehidupan lain bernama dunia maya. Sama seperti
perkiraan orangtua dulu yang mengatakan: bahwa nanti akan muncul zaman dimana
air akan keluar melalui dinding. Kini kita mengenalnya dengan istilah membuka
kran air. Bukan bermaksud menafikan manfaat besar kehadiran teknologi, hanya
saja kita belum cukup mampu membentengi diri dari badai globalisasi tersebut.
Karena kita menggunakannya seperti orang kerasukan.
Di luar kealpaan dan
kelemahan kita membentengi diri dari badai globalisasi teknologi, inilah potret
yang sedang terjadi. ‘Tuhan-tuhan’ digital tersebut telah merasuk ke alam bawah
sadar manusia dan membentuk ‘dunia’ baru. Manusia sudah terperangkap. Sedangkan
budaya bukanlah penghalang berarti bagi globalisasi. Ia bisa mengubahnya walau
zaman sudah berada dalam kerentaannya.
Namun mengutip
pernyataan Goenawan Mohammad, “Manusia bukanlah cetakan tunggal mumi Adam di
atas bumi, yang ditaruh dalam gelas, tanpa sejarah, tanpa keterlanjutan
kebudayaan.” Maka jangan sampai sejarah mencatat tentang manusia yang patah
kemudi diri dan mati dalam kepungan badai globalisasi teknologi.
* Asmaul Husna, Aumnus Ilmu Komunikasi Universitas
Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe dan anggota Komunitas Demokrasi Aceh Utara
(KDAU). Email: hasmaul64@yahoo.com

0 komentar :