Sabtu, 07 Februari 2015

Masyarakat Menilai Lagu Aceh Semakin Kehilangan Identitas

Unknown     00.18    

Masyarakat Menilai Lagu Aceh Semakin Kehilangan Identitas
ilustrasi 

Banda Aceh - beberapa kalangan menaruh harapan, agar ke depan para pelaku industri musik di Aceh untuk lebih menggali nilai-nilai keacehan dalam berkarya. Sehingga yang lahir adalah produk seni yang bermartabat, original serta menghargai Islam sebagai spirit keacehan.
Teungku Buzaidin (50) salah seorang warga Banda Aceh, kepada The Globe Journal, Jumat (6/2/2015) mengaku selama ini banyak sekali lagu-lagu Aceh yang menjimplak musik luar. Bahkan sampai 90 persen. Hanya liriknya saja berbahasa Aceh. Kemudian tidak seiring dengan nafas penegakan Syariat Islam. Artis-artis lokal dalam berperan dalam video lagu, sering meniru gaya luar, dengan memilih mengumbar aurat.
“sayang sekali. Seharusnya dunia hiburan di Aceh (lagu-red) juga mengikuti kearifan lokal. Bukan hanya bahasa saja Aceh. Tapi semua kontennya haruslah meu Aceh,” Harap Teungku Buzaidin.

Hal yang sama juga diakui oleh Armiadi Juned (35). Dia mengatakan, sejatinya, kelahiran para musisi di Aceh, sangat membantu dalam memberikan hiburan bagi masyarakat. Namun semua hiburan itu akan kehilangan ruh, bila para pelaku seninya sudah tidak menghargai kearifan lokal dan cenderung copy paste karya orang lain.

Armiadi yang mengaku sering berselancar di dunia maya,  mengatakan, kehadiran youtube, sebenarnya mampu menjadi media kampanye karya musisi Aceh. Tapi semua menjadi sirna, karena karya yang dilahirkan justru menabrak nilai-nilai keacehan itu sendiri.
“Saya tentu kecewa. Musisi kita banyak yang gagal memberikan hiburan yang bermakna bagi masyarakat. Mereka cenderung suka copy paste karya orang lain. Bahkan ikut-ikutan gaya. Sejak dulu sampai sekarang, mereka suka buka-buka aurat di dalam layar kaca. Tentu itu menabrak pakem kita. Mungkin ini yang membuat industri musik di Aceh sulit maju,” Ujarnya.
Hal menarik lainnya juga disampaikan oleh Fitriani (30). Menurut ibu dua anak tersebut, lagu religi Aceh juga mengalami hal yang sama. Hampir semuanya lagu yang beredar adalah karya copy paste dari lagu yang sudah ada.
“Bila ada 10 lagu qasidah, delapan diantaranya pasti berirama sama. Hanya lirik saja berbeda,”

Berharap ada perbaikan

Ketiganya berharap, ke depan, para produsen hiburan di Aceh, baik yang profesional maupun yang indie, agar melahirkan karya yang bermutu, bermartabat serta berdaya saing. Sehingga orang luar akan mencari lagu lokal ini, karena kualitasnya.
Mereka menyebutkan beberapa musisi yang berhasil merebut simpati luar karena kekhasan karya mereka.
“Liza Aulia misalnya. Moritza Taher, Rafly dan beberapa lainnya kan sudah mampu memberikan hal yang sangat luar biasa. bukan semua penyanyi harus seperti mereka. tapi buka-bukaan aurat serta menampilkan lagu copy paste tentu tidaklah beretika,” Imbuh Tengku Buzaidin.

(theglobejournal.com) 


0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger