![]() |
| ilustrasi |
Banda Aceh - beberapa kalangan menaruh harapan,
agar ke depan para pelaku industri musik di Aceh untuk lebih menggali
nilai-nilai keacehan dalam berkarya. Sehingga yang lahir adalah produk seni
yang bermartabat, original serta menghargai Islam sebagai spirit keacehan.
Teungku Buzaidin (50)
salah seorang warga Banda Aceh, kepada The Globe Journal, Jumat (6/2/2015)
mengaku selama ini banyak sekali lagu-lagu Aceh yang menjimplak musik luar.
Bahkan sampai 90 persen. Hanya liriknya saja berbahasa Aceh. Kemudian tidak
seiring dengan nafas penegakan Syariat Islam. Artis-artis lokal dalam berperan
dalam video lagu, sering meniru gaya luar, dengan memilih mengumbar aurat.
“sayang
sekali. Seharusnya dunia hiburan di Aceh (lagu-red) juga mengikuti kearifan
lokal. Bukan hanya bahasa saja Aceh. Tapi semua kontennya haruslah meu Aceh,” Harap Teungku Buzaidin.
Hal
yang sama juga diakui oleh Armiadi Juned (35). Dia mengatakan, sejatinya,
kelahiran para musisi di Aceh, sangat membantu dalam memberikan hiburan bagi
masyarakat. Namun semua hiburan itu akan kehilangan ruh, bila para pelaku
seninya sudah tidak menghargai kearifan lokal dan cenderung copy paste karya orang lain.
Armiadi yang mengaku
sering berselancar di dunia maya, mengatakan, kehadiran youtube,
sebenarnya mampu menjadi media kampanye karya musisi Aceh. Tapi semua menjadi
sirna, karena karya yang dilahirkan justru menabrak nilai-nilai keacehan itu
sendiri.
“Saya
tentu kecewa. Musisi kita banyak yang gagal memberikan hiburan yang bermakna
bagi masyarakat. Mereka cenderung suka copy
paste karya orang lain.
Bahkan ikut-ikutan gaya. Sejak dulu sampai sekarang, mereka suka buka-buka
aurat di dalam layar kaca. Tentu itu menabrak pakem kita. Mungkin ini yang
membuat industri musik di Aceh sulit maju,” Ujarnya.
Hal
menarik lainnya juga disampaikan oleh Fitriani (30). Menurut ibu dua anak
tersebut, lagu religi Aceh juga mengalami hal yang sama. Hampir semuanya lagu
yang beredar adalah karya copy
paste dari lagu yang sudah
ada.
“Bila ada 10 lagu
qasidah, delapan diantaranya pasti berirama sama. Hanya lirik saja berbeda,”
Berharap ada perbaikan
Ketiganya
berharap, ke depan, para produsen hiburan di Aceh, baik yang profesional maupun
yang indie, agar
melahirkan karya yang bermutu, bermartabat serta berdaya saing. Sehingga orang
luar akan mencari lagu lokal ini, karena kualitasnya.
Mereka menyebutkan
beberapa musisi yang berhasil merebut simpati luar karena kekhasan karya
mereka.
“Liza
Aulia misalnya. Moritza Taher, Rafly dan beberapa lainnya kan sudah mampu
memberikan hal yang sangat luar biasa. bukan semua penyanyi harus seperti
mereka. tapi buka-bukaan aurat serta menampilkan lagu copy paste tentu tidaklah beretika,” Imbuh Tengku
Buzaidin.
(theglobejournal.com)

0 komentar :