![]() |
| Benteng Inong Balee |
PERSePSIPOST, Banda Aceh -- Belasan perempuan dan
laki-laki membacakan semacam syair dalam Bahasa Aceh dibawah tenda yang
dipasang di lokasi Benteng Inong Bale, Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh
Besar, Minggu (15/2/2015). Seorang wisatawan asal Malaysia mencoba merekam ritual
itu. Tiba-tiba seorang perempuan menghardiknya dan meminta agar rekaman
dihapus. Ada apa?
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Seorang wisatawan
Asal Malaysia mencoba mengabadikan ritual yang dilakukan belasan orang yang
membaca semacam syair dalam Bahasa Aceh. Tiba-tiba seorang perempuan yang
disebut bernama Bunda, keluar dari tenda kemudian memarahi wisatawan malaysia
tersebut dan meminta agar rekaman di hapus.
“Hei, hapus rekaman tadi. Cepat. Saya tidak suka. Saya sudah
cukup sabar selama ini, kalian hanya datang tanpa peduli terhadap tempat ini!,”
Ujarnya dengan muka orang marah.
Suasana pun semakin tegang, seorang lelaki yang memegang pedang
meminta agar rombongan wisatawan untuk segera meninggalkan lokasi benteng
tersebut.
“Cepat, kalian tinggalkan lokasi ini,” Bentaknya dengan muka
marah sambil mengacungkan pedang.
Begitu rombongan wisatawan itu pulang, kejadian aneh lainnya
terjadi. Seorang peserta perempuan yang membaca
syair, tiba-tiba dirasuki iblis. Dia berteriak-teriak sambil meronta –ronta.
Sejenak kemudian dia berlari menuju peraduan
api. Teman-temannya yang lain mencoba menyelamatkan perempuan itu. Sedangkan
yang lainnya terus membaca syair itu. Prosesi kerasukan tersebut bertepatan
saat sama limong (dalam
kepercayaan Aceh disebut dengan waktunya jin keluar dari persembunyian. Waktunya
menjelang magrib-red).
Warga Tidak Ramah
Informasi tentang pelarangan wisatawan untuk masuk ke benteng
dan kawasan Lamuri sudah santer terdengar semenjak The Globe Journal memasuki
kawasan itu. Hal itu baru nyata ketika di jalan beberapa kali dicegat oleh
pemuda setempat. Kepada rombongan lain mereka meminta uang.
Bahkan beberapa oknum warga sempat mengikuti The Globe Journal
yang mengabadikan Benteng Inong Bale. Setiap potret yang menjurus ke tenda
pasti dilarang.
Di lokasi Benteng Inong Bale sendiri, beberapa warga yang
menjadi “pengikut” Bunda juga berperilaku sama. Aura Wajah mereka nampak curiga
dan tidak bersahabat sedikitpun. Hal tersebut kemudian menjadi nyata, saat
peristiwa perekaman ritual oleh wisatawan Malaysia. Mereka langsung beraksi
dengan mengusir pengunjung. Bahkan Bunda itu sendiri sempat mengata-ngatai
pelancong dengan kalimat kasar.
Geuchik setempat, saat ditanyai oleh beberapa pelancong,
mengatakan bahwa sudah seharusnya meminta izin ketika memasuki kawasan peninggalan
sejarah itu.
“kalau kemari, bawa surat lah. Nanti akan kami lihat boleh atau
tidak. Kan begitu etikanya masuk ke rumah orang,” Ujarnya dengan wajah tidak
bersahabat pula.
Bagi-bagi Uang
Seperti yang dilansir The Globe Journal. Beberapa warga yang tidak
ikut ritual itu mengatakan Bunda tersebut sudah beberapa kali berkemah di sana.
Kepada warga disana dia membagi-bagikan uang. Bahkan sudah dua kali melakukan
penyembelihan kambing.
“Dia bawa banyak uang bang. Kepada warga di sini, yang mau ikut
dengannya, dia membagikan uang. Bahkan dia berencana membangun masjid di lokasi
Lamuri. Padahal kita tahu di cagar budaya, dilarang membangun apapun, termasuk
masjid,” Ujarnya.
Terkait dengan adanya larangan warga luar memasuki kawasan itu, dibenarkan
pula oleh sumber tadi.
“Mereka melarang orang luar masuk. Hanya warga di sini yang
diperkenankan untuk berkunjung.,” Tambahnya.
Kelompok Pemburu Harta Karun
Dilansir The Globe Journal, Bunda merupakan salah satu jaringan
pemburu harta karun peninggalan sejarah yang sudah cukup dikenal. Dia melakukan
penggalian itu dengan cara melakukan ritual gaib.
Menurut sumber yang minta identitasnya tidak ditulis itu,
kelompok Bunda Cs sering beraksi di berbagai lokasi di Aceh. Mereka biasanya
menggali tanah yang ada di dekat situs purba, yang dipercayai mempunyai harta
karun.
“Dia sudah cukup dikenal. Dia melakukan ritual terlebih dahulu,
semacam meminta bantuan kepada jin,” Ujar sumber tadi.
Kemungkinan, warga yang ikut bersamanya, adalah mereka yang
sudah berhasil diperalat dengan iming-iming pembagian hasil.
“kemungkinan demikian. Di kampung saya dia pernah beraksi dan
polanya sama. Cuma, disana dia gagal bekerja karena di usir warga,” Tambahnya.
Pemerintah Harus Segera Turun Tangan
Haikal Afifa, aktivis kebudayaan Aceh, meminta Pemerintah agar
segera turun tangan. Dia juga menghimbau MPU untuk segera bertindak.
“Saya telah mendengar kejadian itu.wisatawan luar negeri diusir.
Saya sudah menelpon MPU. Ini tidak bisa dibiarkan. Apalagi ritualnya nada
aneh,” Ujar Haikal.
Menurut Haikal, perilaku Bunda Cs selain telah merusak citra
Aceh, juga terindikasi telah melenceng dari syariat islam. “Ritual mereka
berbahaya. Saya sudah menelusurinya,” Ujarnya.
Selain itu, upaya pemburuan harta karun pada situs sejarah tentu
mengancam kelangsungan sumber otentik sejarah. Penggalian yang mereka lakukan
akan merusak situs sejarah yang ada. Lamuri sebagai pusat kajian Islam dan
Aceh, tentu harus dilindungi dari upaya perusakan atas nama apapun. []
(theglobejournal.com)

0 komentar :