![]() |
| ilustrasi |
Banda Aceh – Walaupun telah sejak lama
didengungkan sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, ternyata Aceh masih
digentayangi oleh maraknya pengguna ilmu hitam atau sihir. Sihir yang
menggunakan bantuan jin tersebut dimaksudkan untuk menyakiti orang lain atau
mempercepat sampainya suatu keinginan.
“Masalah sihir banyak
terjadi di Aceh,”kata Tgk Mukhlis Al Asyi, salah satu ahli ruqyah, Kamis
(4/3/2014) dalam pengajian Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di
Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke.
Tgk Mukhlis menambahkan
bahwa tidak sedikit kalangan masyarakat yang menjadi korban guna-guna.
Misalnya, ada dugaan pasien terkena penyakit hernia. Setelah dibawa ke seluruh
ahli medis tidak kunjung sembuh. Namun, setelah dilakukan ruqyah sesuai syariat
Islam, pasien kembali sehat seperti sedia kala.
“Ruqyah harus
dipelajari secara umum (masyarakat) untuk melawan dukun,”pungkasnya.
Sementara itu, Aceh
juga masih dihantui oleh maraknya aliran sesat. Ia menjelaskan bahwa tidak
menutup kemungkinan bahwa pengikut aliran sesat terpengaruhi oleh tipu daya
syaitan dalam tubuhnya. Maka, mereka perlu diruqyah agar tidak lagi
terjebak dalam kesesatan. Misalnya, pengikut aliran sesat Gafatar.
Meski demikian, praktek
ruqyah yang tidak sesuai syariat Islam banyak juga terjadi. Ruqyah tersebut
menggunakan bacaan-bacaan selain ayat Al-Quran. Bahkan pelaku praktek tersebut
menggunakan pakaian persis seperti ustadz-ustadz pada umumnya.
“Ahli ruqyah dan ahli
medis tidak boleh ego. Jika pasien tidak sembuh dengan ruqyah maka dibawa ke
ahli medis. Begitu juga sebaliknya. Tetapi, kita tetap harus meyakini bahwa
Al-Quran merupakan obat segala macam penyakit,”katanya.
Di samping itu, Tgk
Mukhlis prihatin terhadap acara di televisi yang mempertontonkan aksi
mengunjungi daerah yang angker. Turut hadir dalam acara itu lelaki lengkap
dengan emblem ustadz. Padahal, secara jelas ia menggunakan sihir agar maksud
dan tujuan dalam acara itu tercapai.
Ia menjelaskan bahwa
belum ada dalil yang pasti asal mula munculnya sihir. Namun, berdasarkan sejarah,
pada masa Nabi Sulaiman dan Nabi Musa permasalahan sihir ini sudah berkembang.
Masa Sulaiman, kaum jin masih bisa menaiki langit dan mencuri rahasia di sana
dari malaikat. Rahasia itu disampaikan kepada ahli nujum.
“Waktu Nabi Muhammad
naik ke langit, saat itulah jin tidak bisa lagi naik ke langit,”papar Tgk
Mukhlis.
Umumnya, pengunaan
sihir di Aceh memiliki kemiripan dengan masa sihir pada masa Nabi Sulaiman.
Yakni untuk mencelakai orang lain dan mempercepat sampai suatu keinginan. Hal
ini menggolongkan mereka kepada kekufuran. Akan tetapi, sihir yang menggunakan
manusia hanya sebatas media informasi hanya tergolong kepada dosa besar.
(theglobejournal.com)

0 komentar :