![]() |
| ilustrasi |
Oleh : Taufil Al Mubarak
AKU ingin bercerita kepadamu tentang kisah penggali sumur.
Kebetulan sekali, kisah ini tidak terjadi di kampung kita yang katanya besar
ini. Jadi kuharap, jangan mencari hubungan apapun antara kisah yang kutulis ini
dengan kejadian yang terjadi di kampung kita akhir-akhir ini. Pasti kau tidak
akan menemukan hubungannya. Percaya deh!
Anggap saja, kisah yang aku tulis
terjadi jauh di negeri, katakanlah, negeri antah-berantah. Jangan pernah kau
tanyakan padaku di mana negeri antah-berantah itu, karena aku hanya mendengar
saja dari mulut-ke-mulut. Tapi aku yakin, kisah ini sudah pernah ditulis dalam
sebuah kitab, yang tak bernama. Jadi, jangan pernah bertanya sama aku apa nama
kitab itu. Sebab, aku pun sebenarnya tidak tahu. Percayalah, tak penting soal
nama kitab itu. Karena kita tak hendak bercerita soal kitab, melainkan apa yang
pernah ditulis di kitab itu.
Syahdan, tersebutlah dalam kitab itu
sebuah kerajaan yang sangat makmur. Rakyatnya hidup sejahtera. Jangankan
manusia, hewan-hewan yang mendiami kerajaan itu ikut menikmati kemakmuran
kerajaan itu. Saking makmurnya negeri itu, hewan-hewan tak perlu mencari
rumput, karena semua kebutuhan mereka sudah disediakan oleh kerajaan. Jadi,
sudah bisa kau bayangkan betapa makmurnya negeri ini, bukan?
Saat itu, seperti ditulis dalam kitab
yang tak bernama itu, hanya ada lima kerajaan yang mampu menggetarkan langit
dan membuat takjub para penghuni bumi. Jika ada lima bintang yang bercahaya,
maka negeri antah-berantah itulah cahaya yang paling terang. Hampir tak ada
kerajaan lain yang sebanding dengannya. Kerajaan itu pun aman dan damai, karena
tak ada yang coba-coba mengusik kedamaian dan kedaulatan kerajaan itu. Armada
perang lautnya termasuk yang paling hebat saat itu. Tak hanya memiliki tentara
berjenis kelamin laki-laki, karena kerajaan itu juga memiliki angkatan perang
wanita. Aku lupa, siapa yang memimpin pasukan perempuan itu, karena aku lupa
mencatatnya. Mohon dimaklumi kealpaanku ini.
Hingga suatu ketika, sebuah prahara
menimpa kerajaan itu. Prahara itu bukan bersebab perebutan tahta seperti sering
terjadi di kerajaan-kerajaan konvensional lain, melainkan karena abai untuk
memberi minum seekor anjing yang kehausan. Kejadian itu memang sama sekali
bukan kesalahan abdi kerajaan, melainkan karena sang anjing menderita penyakit
kulit, kurap. Ya…anjing kurap (asee meukurap dalam bahasa Aceh). Gara-gara
penyakit itu, sang anjing malu untuk mengantri makanan dan minuman yang
disediakan pihak kerajaan. Singkat cerita, anjing itu pun mati (untung bukan
mati karena bunuh diri).
Sang anjing sebenarnya bisa mencari air
sendiri, di sawah, di sungai atau di tempat penampungan air. Tetapi, itu sama
sekali tak lazim terjadi di sebuah kerajaan yang cukup makmur seperti kerajaan
antah-berantah. Sebab, mencuri air yang sepenuhnya dalam penguasaan kerajaan
adalah perbuatan tercela dan sangat tidak dianjurkan, sekalipun sekadar meminum
untuk menyelamatkan nyawa. Anjing ini pun taat pada hukum yang tak tertulis
itu. Dia pun memilih mati dengan menahan rasa haus yang luar biasa.
Entah karena faktor anjing haus itu atau
ada skandal pengelolaan air kerajaan yang tak transparan, kerajaan
antah-berantah perlahan-lahan mulai menerima kutukan: hujan tak lagi turun,
tanah menjadi gersang, dan warga mulai dilanda kepanikan yang tak pernah
terjadi sebelumnya. Air di penampungan mulai menipis. Kerajaan melakukan
penghematan secara ketat. Jika sebelumnya, jangankan manusia, hewan pun
mendapat jatah air, kini menjadi terbalik. Air hanya untuk manusia, dan tentu
saja, hanya orang-orang yang dekat dengan kekuasaan.
Sumpah serapah rakyat mulai terdengar di
mana-mana. Mimbar khutbah menjadi sarana menghujat pengelola kerajaan. Di
warung-warung yang sebelumnya rakyat memuji sang raja yang baik hati itu kini
menjadi terbalik: mereka menghujat penguasa. Tak bisa kubayangkan jika saat itu
ada sosial media seperti facebook atau twitter. Pasti status dan timeline
penggunanya lebih banyak berisi kecaman terhadap pihak kerajaan atau para
abdinya. Ketika itu pula belum dikenal seni mural, sehingga kita tak melihat
ada grafiti atau coretan di dinding kota yang memaki-maki penguasa. Setidaknya
begitu yang kubaca dalam kitab yang tak bernama itu.
Semakin hari, kehidupan rakyat makin
parah. Kerajaan itu di ambang perang saudara. Persediaan air terus menipis dan
menipis. Kini air hanya cukup untuk menghidupi para abdi kerajaan dan orang di
lingkaran dekat penguasa. Jika rakyat hidup dalam kehausan, maka orang-orang
yang dekat dengan lingkaran dalam kerajaan hidup dengan air yang melimpah,
sebagian malah berfoya-foya. Sepertinya, kehancuran hanya menunggu waktu saja.
Benar saja, tak lebih dari enam bulan
hidup dalam ketidakpastian, air benar-benar habis. Apalagi hujan sudah lama tak
menjamah kerajaan yang dulu terkenal sangat makmur itu. Pihak kerajaan tak
mungkin meminta pada kerajaan lain yang berada di 4 penjuru mata angin itu. Di
samping tak lazim juga untuk menjaga gengsi dan menutup peluang negeri itu
diserang karena berada dalam kondisi tak berdaya. Jadi, pihak kerajaan memilih
bungkam sambil berharap keajaiban. Tapi keajaiban yang ditunggu itu tak pernah
datang.
Kini raja sendiri merasakan bagaimana
hidup dalam kondisi kehausan, kondisi yang sudah cukup lama dirasakan oleh
rakyatnya. Berbagai upaya dilakukan, seperti menggali sumur secara lebih dalam
dan juga melakukan shalat minta hujan (istisqa). Sialnya, langkah itu sama
sekali belum membuahkan hasil. Boleh dibilang, kerajaan itu sedang dikutuk! Ini
menjadi pendapat umum rakyat yang mendiami kerajaan itu. Beberapa yang tak
tahan memilih mencari suaka ke kerajaan lain dengan alasan yang dibuat-buat.
Hingga suatu ketika, raja membuat rapat
umum terbuka. Sesuatu yang sudah lama sekali tak dilakukan. Seingatku seperti
tertulis dalam kitab tak bernama itu, ini menjadi rapat umum kedua setelah
rapat umum pertama ketika sang raja memenangkan pertempuran yang membuat
kerajaan antah-berantah itu tegak hingga hari ini.
Dalam rapat itu, raja membuat keputusan
penting bahwa sumur yang lebih dalam dan besar akan digali di lokasi tempat
anjing yang mati kehausan itu dikebumikan. Keputusan ini diambil setelah upaya
penggalian sumur di semua lokasi yang diprediksi memiliki sumber air ternyata
tak membuahkan hasil, termasuk di dekat kuburan seorang ulama besar nan
tersohor yang dimiliki kerajaan itu.
Siang-malam upaya penggalian dilakukan
dengan melibatkan lima ribu penggali serta ratusan jenis alat berat. Dari hari-ke-hari,
minggu-ke-minggu hingga bulan berganti bulan, upaya penggalian sumur itu belum
juga membuahkan hasil. Setelah semua orang nyaris frustasi, upaya penggalian
itu pun hendak dihentikan. Tiba-tiba, dari dalam sumur itu terdengar kabar
menggembirakan, bahwa upaya mereka menggali sumur bakal tak sia-sia. Dari
sebuah timba besar yang ditarik dengan tali sebesar tali pengikat kapal,
dinaikkan sebongkah emas plus beberapa jenis logam mulia lainnya. Tak hanya
itu, sebuah batu besar yang indah juga terangkut dalam timba itu. Semua orang
yang hadir menyunggingkan senyum tanda bahagia. Semua orang terlibat bergembira
dan yakin bahwa setelah penemuan itu bakal muncul sumber mata air yang sangat
mereka idam-idamkan.
Rupanya momen bahagia itu tak
berlangsung lama. Setelah penemuan harta karun itu mulai muncul suara-suara
sumbang untuk menjarah dan melarikan benda berharga itu. Sementara para
petinggi kerajaan mulai memikirkan bagaimana caranya agar semua barang temuan
itu menjadi miliknya. Mereka pun mulai bertengkar. Pertama-tama hanya adu mulut
biasa, setelah itu berlanjut ke pertengkaran fisik. Karena harta yang didapat
itu semakin banyak, masing-masing mereka mulai saling menyingkirkan termasuk
dengan saling menumpahkan darah. Cukup banyak yang mati pada hari pertama
penemuan itu. Pertumpahan darah kemudian berlanjut di hari kedua, ketiga,
keempat hingga dua minggu lamanya. Areal penggalian sumur itu kini dipenuhi
darah. Bau anyir dan amis menyebar kemana-mana. Semua rakyat kerajaan itu kini
saling membunuh untuk memperebutkan harta karun itu.
Dalam buku tak bernama itu disebutkan,
pertumpahan darah itu menjadi awal kehancuran kerajaan yang sempat menggetarkan
langit dan membuat takjub penghuni bumi itu. Kehancuran kerajaan itu bukan
karena serangan dari kerajaan lain yang mendiami empat penjuru mata angin.
Melainkan ulah pihak pengelola kerajaan dan rakyat yang mendiami kerajaan itu.
Kerajaan itu pun tamat untuk selama-lamanya.
Mereka bertengkar bukan karena
memperebutkan sumber mata air yang menjadi tujuan awal mereka menggali sumur,
melainkan karena memperebutkan harta karun yang ditemukan sebelum sumber mata
air didapatkan. Membaca kitab yang tak bernama itu, kita hanya mampu
mengernyitkan dahi sambil merenung, sembari berharap apa yang terjadi di
kerajaan antah-berantah itu tak terjadi di tempat kita. Mudah-mudahan kita tak
bertengkar antar-sesama, karena tujuan awal belum tercapai. Jika pun hari ini
kita membaca bahwa pertengkaran itu semakin menjadi-jadi, semoga bukan karena
memperebutkan harta karun seperti yang dikisahkan dalam kitab tak bernama itu ! [].
TAUFIK AL MUBARAK, jebolan Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran, Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Aktif menulis di blog jumpueng.blogspot.com.
Kumpulan tulisannya di Harian Aceh telah dibukukan dengan judul “Aceh Pungo”.
Pria yang memberanikan diri maju ke parlemen Aceh melalui daerah pemilihan
Pidie dan Pidie Jaya ini bisa dihubungi via Twitter @almubarak.
(acehkita.com)

0 komentar :