![]() |
| Ilustrasi |
PERSePSI POST - Indonesia masih ketergantungan akan impor Bahan Bakar Minyak
(BBM). Hal ini tidak terlepas lebih banyaknya peningkatan konsumsi BBM
dibandingkan produksi dalam negeri.
Vice
President Strategic Planning, Business Development and Operation Risk
Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero) Achmad Fathoni Mahmud menjelaskan,
jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia masih lebih baik dari
Vietnam.
Tapi,
kata Fathoni, Vietnam akan bisa menyusul Indonesia karena pemerintahnya sangat
agresif dalam hal kebijakan insentif yang menarik investor masuk untuk bangun
kilang minyak.
?"Di
sana dia tarik Pertaminanya Thailand dan Saudi Aramco yang punyak minyak mentah
dan duit banyak. Mereka bangun kilang sudah dimulai. Di 2025 Vietnam akan
surplus. Kita akan makin ketinggalan jika enggak lakukan apa-apa dan membuat
peluang negara seperti Korea Selatan dan Singapura makin surplus BBM,"
ucap Fathoni, Sentul Bogor, Sabtu (24/1/2015).
Kondisi
RI juga berbeda sekali dengan negara Singapura yang memiliki kelebihan BBM.
Padahal negara yang terbuat dari pasir Indonesia ini tidak memiliki cadangan
minyak.
"Singapura
itu ampun-ampunan kelebihan (BBM). Makanya kelebihan itu kita impor dari
mereka," tambahd ia.
Fathoni
menambahkan, negara Singapura ini melihat celah yang besar dengan membangun
infrastruktur pendukung migas, sehingga memiliki ketersediaan cadangan BBM yang
cukup banyak.
"Mereka
siap berdagang. Dia enggak punya crude (minyak mentah), tapi bangun
infrastruktur. Dia bangun trading bagus, dia siap bangun infrastruktur untuk
negara-negara tetangga yang impor," sambungnya.
Sementara
itu, untuk negara Australia, lanjut Fathoni mengungkapkan akan terus-terusan
impor BBM. Hal ini dikarenakan kilang minyak di sana sudah ditutup.
"Malah
kilangnya ditawarkan ke mana-mana. Kita juga ditawarkan. Untuk due diligence.
Tapi bagi kita enggak menarik. Mereka enggak mau repot-repot, ya sudah impor
saja," tukasnya.
sumber: okezone.com.

0 komentar :