![]() |
| giok aceh |
IBARAT virus, demam batu semakin mewabah.
Sejakkemunculannya dipengujung tahun lalu, batu mulia itu telah menjelma
menjadi primadona baru.
Sederat kata yang lekat dengan Aceh,
mulai dari konflik dan tsunami hingga komoditas berwujud gas, kopi, hingga
ganja, semuanya seakan luntur, kalah akan pesona giok. Gaungnya tak hanya
membahana ke seantero negeri, tetapi juga hingga ke manca negara.
Di tengah puncak popularitasnya, peluang
ini ternyata dimanfaatkan oleh beberapa pebisnis nakal dengan melahirkan giok
palsu atau giok sintesis. Sebuah ancaman yang melunturkan citra giok Aceh di
mata penggemarnya.
Komunitas pencinta giok Aceh pun tak
tinggal diam. Mereka membuat kesepakatan yang tertuang dalam surat edaran
tertulis. Isinya berupa kesepakatan untuk komit menjaga komoditas giok Aceh
dengan hanya menjual yang aslinya saja.
Kalau pun ada yang menjual giok
sintetis, konsumen wajib diberitahu dan harga yang dipatok harus sesuai dengan
barangnya (tidak menipu). “Surat edaran sudah diedarkan sejak 1 Januari (2015)
kemarin,” kata salah seorang pemilik gerai di areal Gemstone Ulee Lheu, Masnur,
kepada Serambi.
Masnur membeberkan, giok asli memiliki
ciri-ciri bentuk yang tidak sama, warnanya cenderung gelap dan bergradasi, dan
mempunyai serat atau kristal yang didapat dari teknik pengasahan tangan khas
perajin batu Aceh.
Keaslian giok juga dapat terukur dari
tingkat kekerasannya. GiokAceh
mempunyai tingkat kekerasan berkisar antara 4-5 Mohs, sedangkan sintesis yaitu
2-3 Mohs.
Sementara giok sintetis ibarat kloning
massal yang jika dibandingkan dengan versi aslinya penampakannya serupa tapi
tak sama. “Giok pabrikan
itu mempunyai bentuk, ukuran, danwarna yang persis sama,” imbuh Masnur.
Di daerah asalnya, giok sintesis itu
hanya dihargai belasan ribu, tetapi tatkala masuk pasar Aceh harganya bisa
mencapai tiga ratusan ribu. Ancaman ini bisa membuat keindahan seni persembahan
dari alam Aceh justru kabur.
Fenomena serupa juga terjadi di dataran
tinggi Gayo Lues. Giokasal
kota dingin yang kesohor itu pun tak luput dari ancaman giok sintetis yang
mencatut nama giok Gayo.
Menurut Irwan Syah, salah seorang
pecinta giok sekaligus pendiri Gayo Gemstone Asosiasion Takengon, sejak dua
pekan terakhir keberadaan giok sintetis yang dipasok dari luar Aceh mulai
menjajal pasar lokal.
Irwan tak menampik bahwa demam batu yang
menjangkiti Aceh dimanfaatkan oleh pedagang nakal yang memanfaatkan selera
pasar. Dirinya pun mengajak warga untuk menjadi konsumen cerdas, dimulai dari
membedakan giok asli dan tiruan. Pasar memang menawarkan banyak pilihan, namun
konsumen tetaplah sang raja.(nurul hayati)
sumber:serambi indonesia

0 komentar :