Sabtu, 17 Januari 2015

Tatkala Giok Aceh Mulai Dipalsukan

Unknown     15.47    

Tatkala Giok Aceh Mulai Dipalsukan
giok aceh 

IBARAT virus, demam batu semakin mewabah. Sejakkemunculannya dipengujung tahun lalu, batu mulia itu telah menjelma menjadi primadona baru.

Sederat kata yang lekat dengan Aceh, mulai dari konflik dan tsunami hingga komoditas berwujud gas, kopi, hingga ganja, semuanya seakan luntur, kalah akan pesona giok. Gaungnya tak hanya membahana ke seantero negeri, tetapi juga hingga ke manca negara.

Di tengah puncak popularitasnya, peluang ini ternyata dimanfaatkan oleh beberapa pebisnis nakal dengan melahirkan giok palsu atau giok sintesis. Sebuah ancaman yang melunturkan citra giok Aceh di mata penggemarnya.

Komunitas pencinta giok Aceh pun tak tinggal diam. Mereka membuat kesepakatan yang tertuang dalam surat edaran tertulis. Isinya berupa kesepakatan untuk komit menjaga komoditas giok Aceh dengan hanya menjual yang aslinya saja.

Kalau pun ada yang menjual giok sintetis, konsumen wajib diberitahu dan harga yang dipatok harus sesuai dengan barangnya (tidak menipu). “Surat edaran sudah diedarkan sejak 1 Januari (2015) kemarin,” kata salah seorang pemilik gerai di areal Gemstone Ulee Lheu, Masnur, kepada Serambi.

Masnur membeberkan, giok asli memiliki ciri-ciri bentuk yang tidak sama, warnanya cenderung gelap dan bergradasi, dan mempunyai serat atau kristal yang didapat dari teknik pengasahan tangan khas perajin batu Aceh.

Keaslian giok juga dapat terukur dari tingkat kekerasannya. GiokAceh mempunyai tingkat kekerasan berkisar antara 4-5 Mohs, sedangkan sintesis yaitu 2-3 Mohs.

Sementara giok sintetis ibarat kloning massal yang jika dibandingkan dengan versi aslinya penampakannya serupa tapi tak sama. “Giok pabrikan itu mempunyai bentuk, ukuran, danwarna yang persis sama,” imbuh Masnur.

Di daerah asalnya, giok sintesis itu hanya dihargai belasan ribu, tetapi tatkala masuk pasar Aceh harganya bisa mencapai tiga ratusan ribu. Ancaman ini bisa membuat keindahan seni persembahan dari alam Aceh justru kabur.

Fenomena serupa juga terjadi di dataran tinggi Gayo Lues. Giokasal kota dingin yang kesohor itu pun tak luput dari ancaman giok sintetis yang mencatut nama giok Gayo.

Menurut Irwan Syah, salah seorang pecinta giok sekaligus pendiri Gayo Gemstone Asosiasion Takengon, sejak dua pekan terakhir keberadaan giok sintetis yang dipasok dari luar Aceh mulai menjajal pasar lokal.

Irwan tak menampik bahwa demam batu yang menjangkiti Aceh dimanfaatkan oleh pedagang nakal yang memanfaatkan selera pasar. Dirinya pun mengajak warga untuk menjadi konsumen cerdas, dimulai dari membedakan giok asli dan tiruan. Pasar memang menawarkan banyak pilihan, namun konsumen tetaplah sang raja.(nurul hayati)
sumber:serambi indonesia 


0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger