![]() |
| ilustrasi sumber: google |
Oleh
Bulman Satar
DALAM
satu fragmen sejarah perjuangan Aceh melawan kolonialisme Belanda, “Aceh pungo”
akan selalu diingat sebagai kasus paling fenomenal. Sebutan ini menunjuk pada
serangkaian aksi nekat dan frontal pejuang Aceh terhadap Belanda. Tercatat 120
kasus serangan Aceh pungo terjadi dalam kurun waktu antara 1910 hingga 1937,
dan menjadi catatan penting dalam sejarah perang Aceh-Belanda.
Aceh
Pungo adalah tindakan individual bukan kelompok. Inilah yang membuatnya
terlihat ekstrem, lain dari yang lain. Dengan hanya bersenjatakan rencong para
pelakunya beraksi tanpa peduli tempat, dengan siapa dan berapun jumlah orang
Belanda yang diserangnya, bahkan di tangsi-tangsi militer pusat konsentrasi
serdadu Belanda sekalipun. Aksi nekat ini sangat tidak masuk akal di mata militer
Belanda hingga mereka salah memahami tindakan yang berujung kematian ini dengan
menyebutnya Aceh moordern karena mengira aksi tersebut sebagai prilaku gila
akibat gangguan syaraf. Sejarawan Aceh Rusdi Sufi menulis pemerintah kolonial
Belanda bahkan sampai mendirikan sebuah rumah sakit jiwa di Sabang sebagai
reaksi atas kasus-kasus Aceh pungo ini.
Sebagai
fenomena yang menyejarah maka tentu selalu menarik untuk mengeksplorasi dan
membangun kembali pemahaman seputar prilaku Aceh pungo dengan membuka diri pada
kemungkinan-kemungkinan penjelasan yang bisa jadi selama ini belum terungkap.
Eksplorasi antropologis berikut ini mencoba beranjak dari kesimpulan James T
Siegel, profesor antropologi Amerika yang concern meneliti tentang sejarah dan
politik lokal di Aceh, sebagai titik tolak.
Dimensi relegiusitas
Dalam bukunya The Rope of God (1969), Siegel menyebut “Aceh pungo” sebagai
manifestasi tindakan religius (manifestation of religious act) yang berbalut
sentimen agama memerangi musuh-musuh Islam, kaphe-kaphe (kafir) Belanda dalam
rangka membela agama Allah. Konklusi Siegel ini di satu sisi menarik karena
menunjukkan dimensi religiusitas di balik tindakan Aceh pungo, mengindikasikan
ia bukanlah semata-mata prilaku instingtif manusia ketika mengalami penindasan
yang melindas kedaulatan dan hak hidupnya, melainkan tindakan yang sarat dengan
nilai-nilai religius.
Namun
di sisi lain konklusi ini juga menyisakan beberapa pertanyaan mengganjal;
Mengapa tindakan Aceh pungo ini lalu menjadi sangat tipikal dan tak biasa? Apa
dan bagaimana hubungan antara sentimen religius yang bersifat kolektif dengan
kenyataan bahwa aksi ini dilakukan oleh pelaku tunggal? Cukupkah sentimen
religius dijadikan sebagai motif pemicu tindakan individual tersebut?
Untuk
menguji pertanyaan-pertanyaan ini menurut hemat saya kita dapat memulainya dari
dua sudut pandang. Pertama, terkait dengan sentimen keagamaan bahwa sebenarnya
ia lebih bersifat dan terkonstruksi secara kolektif, menciptakan identitas dan
mentalitas kelompok di antara para penganutnya. Ia mengacu pada persepsi dengan
segenap keyakinan, kepercayaan, anggapan, emosi, dan penilaian-penilaian
tertentu di dalamnya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap entitas
kolektif lain yang berada di luar kelompok dan sistem keyakinannya hingga
melahirkan identifikasi dikotomik tentang “kita” dan “mereka”, untuk kemudian
diterima dan dipraktikkan sebagai norma dan nilai bersama oleh penganut agama
tersebut.
Kedua
adalah premis bahwa di luar norma kolektif yang membentuknya menjadi warga masyarakat,
prilaku dan tindakan manusia sesungguhnya juga sangat dipengaruhi oleh sistem
nilai yang terbentuk oleh pengalaman personal dan menjadi rujukan bagi setiap
individu untuk menentukan apa yang berharga dan apa yang tidak berharga; apa
yang bernilai dan apa yang tidak bernilai dalam hidupnya. Inilah yang membentuk
prilaku hingga menjadi karakter dan watak setiap manusia sebagai individu.
Kembali
pada kesimpulan bahwa prilaku Aceh pungo adalah tindakan religius seperti
dikemukakan Siegel, mengacu pada pandangan pertama maka seharusnya yang lahir
adalah tindakan kolektif katakanlah berupa aksi-aksi perlawanan atau
pertempuran yang melibatkan kelompok atau orang-orang dalam jumlah besar
sebagai representasi kolektifitas tersebut. Namun kenyataannya Aceh pungo
adalah tindakan yang sangat individual dan independen. Para pelakunya sangat
sadar dengan apa yang mereka lakukan dengan merencanakan dan mempersiapkan
sendiri aksi-aksi pungo-nya tanpa melibatkan orang lain.
Nilai
kolektif bisa saja menstimulasi tindakan individual, tapi dengan level ekstrim
seperti pada kasus Aceh pungo ini sungguh sangat langka. Karena itu aksi Aceh
pungo sangat mungkin mengindikasikan alasan lain yang lebih dalam dan personal.
Dalam kemungkinan inilah sudut pandang kedua menjadi relevan. Kita harus
menukik pada sistem nilai yang lebih subtil di tingkat individu para pelakunya,
mengujinya dengan dua pertanyaan mendasar ini. Apa pertaruhan yang membuat
mereka berani melakukan tindakan ekstremnya. Atau kalau dibalik, apa yang hilang
jika mereka memutuskan tidak melakukan tindakan pungo itu. Nilai-nilai apa yang
sesungguhnya telah mengkonstruksi keberanian para pelaku Aceh pungo melakukan
aksi-aksi nekatnya?
Tidak
bisa tidak pertanyaan-pertanyaan ini jelas sangat berhubungan dengan nilai-nilai
terdalam yang bisa jadi sangat privat bagi masing-masing pelaku aksi Aceh
pungo. Lalu apakah nilai-nilai itu? Dalam artikelnya Menggali makna jihad bagi
masyarakat Aceh: Studi Hikayat Prang Sabi, dalam Memetakan Masa Lalu Aceh (Ed.
R. Michael Feener, Patrick Daly dan Anthony Reid, 2011), Amirul Hadi
menganalisis bagaimana Hikayat Prang Sabi mengonstruksi nilai-nilai kolektif
rakyat Aceh tentang jihad, kesucian dan kemuliaan membela agama Allah (Islam),
harga dan kehormatan diri, meaningful death (syahid), dan imajinasi tentang
syurga. Nilai-nilai ini seperti dianalisis Hadi, menjadi justifikasi moral yang
memberi rakyat-pejuang Aceh kekuatan mental untuk melakukan aksi perlawanan
habis-habisan terhadap Belanda.
Pesan provokatif
Dengan pesan-pesan provokatifnya, Hikayat Prang Sabi adalah sebentuk mental
conditioner yang menstimulasi totalitas rakyat-pejuang Aceh dengan mental
berani mati berperang membela agama, kedaulatan, dan kehormatan dirinya.
Hikayat Prang Sabi adalah contoh sempurna bagaimana kekuatan teks ketika
diaksentuasi secara intens dengan cara unik dalam bentuk tradisi tutur bisa
sangat efektif mengonstruksi nilai-nilai dan makna hidup, membangun
religiusitas kolektif, membentuk world-view, membakar emosi, memberi konteks
dan motif bagi perjuangan rakyat Aceh secara kolektif.
Kembali
terkait dengan pertanyaan mengapa tindakan Aceh pungo sangat individual, ada
kisah menarik tentang seorang pejuang Aceh yang gagal dengan aksi pungo-nya
karena keburu tertangkap Belanda. Ia mengakui tindakannya dan mengatakan
motifnya dengan kalimat: “...lebih baik saya mati daripada hidup begini.”
Kalimat ini jelas lebih dari sekadar ungkapan religius. Ia menukik jauh lebih
dalam pada nilai-nilai individu tentang arti dan makna hidup, tentang apa yang
berharga dan bernilai dalam hidup dimana harganya kemudian pantas dibayar
bahkan dengan nyawa sekalipun.
Pada
titik inilah kita menemukan benang merah atas pertanyaan-pertanyaan di atas.
Pengakuan tersebut sesungguhnya merefleksikan pilihan, panggilan hidup pelakunya;
dan tidak ada yang lebih spiritual selain ketika seorang manusia menemukan
nilai dan panggilan hidupnya. Ini lebih jauh mengindikasikan bahwa kekuatan
efek Hikayat Prang Sabi sesungguhnya tidak hanya mencakup level religiusitas
kolektif, tetapi seperti tersirat dari pengakuan pelaku Aceh pungo di atas, ia
bahkan melampaui, merasuk, dan mengalami transformasi menjadi spiritualitas
individu yang karena tekanan-tekanan eksternal kemudian termanifestasikan dalam
bentuk aksi-aksi Aceh Pungo.
Dengan
demikian tindakan Aceh pungo dapat dipahami sebagai efek dari faktor intensitas
dan frekuensi bahwa semakin dalam dan kuat suatu nilai diyakini dan merasuk
dalam jiwa seseorang maka akan semakin besar potensi tindakan ekstrem yang akan
dilakukannya jika nilai-nilai tersebut dilecehkan dan direndahkan oleh orang
atau pihak lain, dan untuk mengekspresikan nilai-nilai tersebut mereka tidak
membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain. Proses internalisasi nilai yang
sedemikian intens memberi mereka kekuatan untuk hadir dan bertindak dalam
independensi absolut.
Jumlah,
angka-angka, tidak lagi relevan karena mereka dalam individualitasnya sudah
merasa terpenuhi, tercukupkan dengan spiritualitas tersebut. Perkara hidup dan
mati juga tidak lagi relevan. Bagi mereka hanya tindakanlah satu-satunya inti
kehidupan. Hanya dengan bertindaklah mereka akan menemukan makna hidup, apapun
resikonya. Bahkan mati pun akhirnya akan diterima sebagai sebuah pembebasan.
Jadi melampaui tindakan religius seperti dikatakan Siegel saya cenderung
mengategorikan prilaku “Aceh pungo” ini sebagai tindakan spiritual. Ia adalah
the ultimate totality. Sebentuk “kegilaan kontekstual”, prilaku fatalistik yang
timbul sebagai manifestasi hasrat akan kebebasan asasi manusia, dan perjuangan
menemukan arti dan makna hidup.
Bulman Satar, Antropolog.
Email: abul_03@yahoo.com
sumber: serambi indonesia

0 komentar :