Rabu, 14 Januari 2015

Spiritualitas ' Aceh Pungo'

Unknown     01.49    

Spiritualitas ' Aceh Pungo'
ilustrasi
sumber: google
Oleh Bulman Satar

DALAM satu fragmen sejarah perjuangan Aceh melawan kolonialisme Belanda, “Aceh pungo” akan selalu diingat sebagai kasus paling fenomenal. Sebutan ini menunjuk pada serangkaian aksi nekat dan frontal pejuang Aceh terhadap Belanda. Tercatat 120 kasus serangan Aceh pungo terjadi dalam kurun waktu antara 1910 hingga 1937, dan menjadi catatan penting dalam sejarah perang Aceh-Belanda. 

Aceh Pungo adalah tindakan individual bukan kelompok. Inilah yang membuatnya terlihat ekstrem, lain dari yang lain. Dengan hanya bersenjatakan rencong para pelakunya beraksi tanpa peduli tempat, dengan siapa dan berapun jumlah orang Belanda yang diserangnya, bahkan di tangsi-tangsi militer pusat konsentrasi serdadu Belanda sekalipun. Aksi nekat ini sangat tidak masuk akal di mata militer Belanda hingga mereka salah memahami tindakan yang berujung kematian ini dengan menyebutnya Aceh moordern karena mengira aksi tersebut sebagai prilaku gila akibat gangguan syaraf. Sejarawan Aceh Rusdi Sufi menulis pemerintah kolonial Belanda bahkan sampai mendirikan sebuah rumah sakit jiwa di Sabang sebagai reaksi atas kasus-kasus Aceh pungo ini.

Sebagai fenomena yang menyejarah maka tentu selalu menarik untuk mengeksplorasi dan membangun kembali pemahaman seputar prilaku Aceh pungo dengan membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan penjelasan yang bisa jadi selama ini belum terungkap. Eksplorasi antropologis berikut ini mencoba beranjak dari kesimpulan James T Siegel, profesor antropologi Amerika yang concern meneliti tentang sejarah dan politik lokal di Aceh, sebagai titik tolak.

 Dimensi relegiusitas

Dalam bukunya The Rope of God (1969), Siegel menyebut “Aceh pungo” sebagai manifestasi tindakan religius (manifestation of religious act) yang berbalut sentimen agama memerangi musuh-musuh Islam, kaphe-kaphe (kafir) Belanda dalam rangka membela agama Allah. Konklusi Siegel ini di satu sisi menarik karena menunjukkan dimensi religiusitas di balik tindakan Aceh pungo, mengindikasikan ia bukanlah semata-mata prilaku instingtif manusia ketika mengalami penindasan yang melindas kedaulatan dan hak hidupnya, melainkan tindakan yang sarat dengan nilai-nilai religius.


Namun di sisi lain konklusi ini juga menyisakan beberapa pertanyaan mengganjal; Mengapa tindakan Aceh pungo ini lalu menjadi sangat tipikal dan tak biasa? Apa dan bagaimana hubungan antara sentimen religius yang bersifat kolektif dengan kenyataan bahwa aksi ini dilakukan oleh pelaku tunggal? Cukupkah sentimen religius dijadikan sebagai motif pemicu tindakan individual tersebut?

Untuk menguji pertanyaan-pertanyaan ini menurut hemat saya kita dapat memulainya dari dua sudut pandang. Pertama, terkait dengan sentimen keagamaan bahwa sebenarnya ia lebih bersifat dan terkonstruksi secara kolektif, menciptakan identitas dan mentalitas kelompok di antara para penganutnya. Ia mengacu pada persepsi dengan segenap keyakinan, kepercayaan, anggapan, emosi, dan penilaian-penilaian tertentu di dalamnya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap entitas kolektif lain yang berada di luar kelompok dan sistem keyakinannya hingga melahirkan identifikasi dikotomik tentang “kita” dan “mereka”, untuk kemudian diterima dan dipraktikkan sebagai norma dan nilai bersama oleh penganut agama tersebut.

Kedua adalah premis bahwa di luar norma kolektif yang membentuknya menjadi warga masyarakat, prilaku dan tindakan manusia sesungguhnya juga sangat dipengaruhi oleh sistem nilai yang terbentuk oleh pengalaman personal dan menjadi rujukan bagi setiap individu untuk menentukan apa yang berharga dan apa yang tidak berharga; apa yang bernilai dan apa yang tidak bernilai dalam hidupnya. Inilah yang membentuk prilaku hingga menjadi karakter dan watak setiap manusia sebagai individu.

Kembali pada kesimpulan bahwa prilaku Aceh pungo adalah tindakan religius seperti dikemukakan Siegel, mengacu pada pandangan pertama maka seharusnya yang lahir adalah tindakan kolektif katakanlah berupa aksi-aksi perlawanan atau pertempuran yang melibatkan kelompok atau orang-orang dalam jumlah besar sebagai representasi kolektifitas tersebut. Namun kenyataannya Aceh pungo adalah tindakan yang sangat individual dan independen. Para pelakunya sangat sadar dengan apa yang mereka lakukan dengan merencanakan dan mempersiapkan sendiri aksi-aksi pungo-nya tanpa melibatkan orang lain.

Nilai kolektif bisa saja menstimulasi tindakan individual, tapi dengan level ekstrim seperti pada kasus Aceh pungo ini sungguh sangat langka. Karena itu aksi Aceh pungo sangat mungkin mengindikasikan alasan lain yang lebih dalam dan personal. Dalam kemungkinan inilah sudut pandang kedua menjadi relevan. Kita harus menukik pada sistem nilai yang lebih subtil di tingkat individu para pelakunya, mengujinya dengan dua pertanyaan mendasar ini. Apa pertaruhan yang membuat mereka berani melakukan tindakan ekstremnya. Atau kalau dibalik, apa yang hilang jika mereka memutuskan tidak melakukan tindakan pungo itu. Nilai-nilai apa yang sesungguhnya telah mengkonstruksi keberanian para pelaku Aceh pungo melakukan aksi-aksi nekatnya?

Tidak bisa tidak pertanyaan-pertanyaan ini jelas sangat berhubungan dengan nilai-nilai terdalam yang bisa jadi sangat privat bagi masing-masing pelaku aksi Aceh pungo. Lalu apakah nilai-nilai itu? Dalam artikelnya Menggali makna jihad bagi masyarakat Aceh: Studi Hikayat Prang Sabi, dalam Memetakan Masa Lalu Aceh (Ed. R. Michael Feener, Patrick Daly dan Anthony Reid, 2011), Amirul Hadi menganalisis bagaimana Hikayat Prang Sabi mengonstruksi nilai-nilai kolektif rakyat Aceh tentang jihad, kesucian dan kemuliaan membela agama Allah (Islam), harga dan kehormatan diri, meaningful death (syahid), dan imajinasi tentang syurga. Nilai-nilai ini seperti dianalisis Hadi, menjadi justifikasi moral yang memberi rakyat-pejuang Aceh kekuatan mental untuk melakukan aksi perlawanan habis-habisan terhadap Belanda.

 Pesan provokatif

Dengan pesan-pesan provokatifnya, Hikayat Prang Sabi adalah sebentuk mental conditioner yang menstimulasi totalitas rakyat-pejuang Aceh dengan mental berani mati berperang membela agama, kedaulatan, dan kehormatan dirinya. Hikayat Prang Sabi adalah contoh sempurna bagaimana kekuatan teks ketika diaksentuasi secara intens dengan cara unik dalam bentuk tradisi tutur bisa sangat efektif mengonstruksi nilai-nilai dan makna hidup, membangun religiusitas kolektif, membentuk world-view, membakar emosi, memberi konteks dan motif bagi perjuangan rakyat Aceh secara kolektif.


Kembali terkait dengan pertanyaan mengapa tindakan Aceh pungo sangat individual, ada kisah menarik tentang seorang pejuang Aceh yang gagal dengan aksi pungo-nya karena keburu tertangkap Belanda. Ia mengakui tindakannya dan mengatakan motifnya dengan kalimat: “...lebih baik saya mati daripada hidup begini.” Kalimat ini jelas lebih dari sekadar ungkapan religius. Ia menukik jauh lebih dalam pada nilai-nilai individu tentang arti dan makna hidup, tentang apa yang berharga dan bernilai dalam hidup dimana harganya kemudian pantas dibayar bahkan dengan nyawa sekalipun.

Pada titik inilah kita menemukan benang merah atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Pengakuan tersebut sesungguhnya merefleksikan pilihan, panggilan hidup pelakunya; dan tidak ada yang lebih spiritual selain ketika seorang manusia menemukan nilai dan panggilan hidupnya. Ini lebih jauh mengindikasikan bahwa kekuatan efek Hikayat Prang Sabi sesungguhnya tidak hanya mencakup level religiusitas kolektif, tetapi seperti tersirat dari pengakuan pelaku Aceh pungo di atas, ia bahkan melampaui, merasuk, dan mengalami transformasi menjadi spiritualitas individu yang karena tekanan-tekanan eksternal kemudian termanifestasikan dalam bentuk aksi-aksi Aceh Pungo.

Dengan demikian tindakan Aceh pungo dapat dipahami sebagai efek dari faktor intensitas dan frekuensi bahwa semakin dalam dan kuat suatu nilai diyakini dan merasuk dalam jiwa seseorang maka akan semakin besar potensi tindakan ekstrem yang akan dilakukannya jika nilai-nilai tersebut dilecehkan dan direndahkan oleh orang atau pihak lain, dan untuk mengekspresikan nilai-nilai tersebut mereka tidak membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain. Proses internalisasi nilai yang sedemikian intens memberi mereka kekuatan untuk hadir dan bertindak dalam independensi absolut.

Jumlah, angka-angka, tidak lagi relevan karena mereka dalam individualitasnya sudah merasa terpenuhi, tercukupkan dengan spiritualitas tersebut. Perkara hidup dan mati juga tidak lagi relevan. Bagi mereka hanya tindakanlah satu-satunya inti kehidupan. Hanya dengan bertindaklah mereka akan menemukan makna hidup, apapun resikonya. Bahkan mati pun akhirnya akan diterima sebagai sebuah pembebasan. Jadi melampaui tindakan religius seperti dikatakan Siegel saya cenderung mengategorikan prilaku “Aceh pungo” ini sebagai tindakan spiritual. Ia adalah the ultimate totality. Sebentuk “kegilaan kontekstual”, prilaku fatalistik yang timbul sebagai manifestasi hasrat akan kebebasan asasi manusia, dan perjuangan menemukan arti dan makna hidup.

 Bulman Satar, Antropolog. Email: abul_03@yahoo.com
sumber: serambi indonesia 


0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger