![]() |
| ilustrasi(google) |
PERSePSI- Di
sekitar kita banyak kita temui orang-orang yang berbadan gemuk dan berat yang
di atas batas normal. Mereka yang berbadan gemuk cenderung dikenal sering
makan, bertubuh kurang sehat, tidak maksimal bergerak, kurang beraktivitas, dan
mudah sakit. Bahkan sebagian malas beribadah.
Banyak ibadah di dalam Islam yang menjadi terganggu
karena badan kegemukan. Yang paling utama adalah ibadah jihad dan haji atau
umrah. Oleh karena itu Islam cenderung memandang negatif terhadap orang yang
kegemukan.
Pandangan Hadits
tentang Kegemukan
Dalam sahih Bukhari dan Muslim (261H),
dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah sallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
«خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ،
ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ
يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ
يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ»
“Yang paling baik dari kalian adalah orang yang hidup
di masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian seetelahnya. Sesungguhnya pada
masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya,
mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak
melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”.
Dalam riwayat Shahih Muslim dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ،
يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا»
“Kemudian datang kaum yang suka menggemukkan badan,
mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.”
Imam Al Qurthubi (671H)
rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk, karena
gemuk yang disengaja disebabkan karena banyak makan, minum, santai, foya-foya,
selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya
sendiri dan bukan hamba bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti
akan terjerumus kepada yang haram, dan semua daging yang tumbuh di badannya
dari yang haram maka neraka adalah tempat yang tepat yang layak baginya. Allah
-subhanahu wa ta’aalaa- telah mencela orang kafir karena banyak makan, dalam
firman-Nya:
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ
كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ} [محمد: 12]
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan
mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal
mereka.” (QS Muhammad:12)
Maka jika seorang mukmin meniru mereka dan menikmati
kenikmatan dunia setiap saat, lantas dimana hakikat keimanan dan pelaksanaan
Islam pada dirinya? Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan
semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang
harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur.
(Jami’ li Ahkam Al-Qur’an 13/394)
Dalam hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
” إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ العَظِيمُ السَّمِينُ
يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، وَقَالَ: اقْرَءُوا
{فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا} [ الكهف : 105 ] ” .
Sesungguhnya akan didatangkan seseorang yang sangat
gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya disisi Allah tidak seberat
sayap lalat. Bacalah firman Allah: “Dan kami tidak mengadakan suatu penilaian
bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Shahih Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi (676H) rahimahullah mengatakan:
Hadits ini adalah celaan bagi orang yang gemuk. (Syarah Sahih Muslim 17/129)
Ja’dah Al-Jusyamy radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku
melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk perut seorang
yang gemuk dan berkata:
” لَوْ كَانَ هَذَا فِي غَيْرِ هَذَا، كَانَ خَيْرًا
لَكَ ”
“Seandainya ini bukan di sini, pasti akan lebih baik”.
(Mustadrak Al-Hakim: Sanadnya bagus)
Komentar Imam Asy
Syafi’i tentang Kegemukan
Imam Syafi’iy (204H) rahimahullah berkata, “Sama
sekali tidak akan beruntung orang yang gemuk, kecuali Muhammad bin Hasan
Asy-Syaibany (189H).”
Imam Syafi’iy ditanya, “Kenapa demikian?”
Beliau menjawab, “Karena seorang yang berakal tidak
lepas dari dua hal; sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya,
sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak
memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti ia sama saja dengan hewan.”
(Hilyatul Auliya)
Kemudian Imam Syafi’iy menceritakan kisah seorang raja
yang sangat gemuk sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Sang raja mengumpulkan
para dokter dan berkata, “Carilah cara untuk mengurangi berat badanku.” Akan
tetapi tidak seorang dokterpun yang bisa memberi solusi.
Kemudian sang raja mendengar tentang seorang yang
pandai, beradab, bisa mengobati, dan meramal. Lalu sang raja mengutus seseorang
kepadanya meminta pengobatan dan akan diberi kekayaan.
Orang pintar berkat, “Semoga Allah menyembuhkan sang
raja, saya adalah seorang dokter dan peramal, maka berilah saya kesempatan
malam ini untuk melihat nasib yang mulia, dan obat apapun yang sesuai dengan
ramalan nasib yang mulia maka akan aku berikan.”
Keesokan harinya, orang pintar berkata, “Wahai sang
raja, beri aku perlindungan!”
Raja menjawab, “Jangan takut, kamu akan aman.”
Orang pintar berkata, “Aku telah melihat ramalan yang
mulia dan menunjukkan bahwa umur yang mulia hanya tinggal satu bulan. Maka
terserah yang mulia, apakah masih mau aku obati atau tidak. Dan kalau yang
mulia tidak percaya, maka tahanlah aku disini. Jika perkataanku benar, maka
bebaskan aku. Dan jika tidak, maka hukumlah aku.”
Lalu sang raja menahannya, kemudian pergi menyendiri
jauh dari rakyatnya. Perasaan risau terus menghantuinya, ia terus menunduk
tidak pernah mengangkat kepala, menghitung hari demi hari sisa hidupnya. Makin
bertambah hari berlalu, makin bertambah pula rasa cemasnya. Sampai akhirnya ia
menjadi kurus, setelah berlalu 28 hari.
Kemudian sang raja memanggil orang pintar tersebut dan
berkata, “Bagaimana menurutmu?”
Orang pintar berkata, “Semoga Allah memuliakan sang
raja, saya lebih hina dihadapan Allah untuk mengetahui yang gaib. Dami Allah
umur saya pun tidak aku ketahui, lalu bagaimana mungkin aku mengetahui umur
yang mulia? Aku sama sekali tidak punya obat kegemukan kecuali rasa khawatir
dan cemas, dan aku tidak bisa membuat yang mulia merasa cemas kecuali dengan
cara ini.”
Akhirnya tubuh sang raja tidak gemuk lagi, dan orang
pintar tersebut diberi hadiah yang baik. (Manaqib Imam Asy Syafi’i)
Komentar Umar bin
Al Khathab tentang Perut Gendut
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah bertemu
seseorang di jalan, dan bertanya kepadanya.
“Kenapa perutmu besar seperti ini?”, tanya Umar bin Khattab
radhiyallahu ‘Anhu.
“Ini karunia dari Allah,” jawab orang tersebut.
“Ini bukan berkah, tapi azab dari Allah!”, seru Umar.
Ia pun melanjutkan, “Hai sekalian manusia, hai
sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kalian malas
menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah
kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat
boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah.”
Jadi, bagaimana dengan perut gendut dan badan gemuk
Anda?
Ustadz Umar Ar Rahimiy
Ustadz Umar Ar Rahimiy
Sumber :fimadani.com

0 komentar :