Catatan Kaki Jodhi Yudono
Dunia ini panggung sandiwara
ceritanya, mudah berubah
kisah Mahabarata
atau tragedi dari Yunani
....
Begitu kata kelompok musik God Bless lewat
lagunya yang berjudul "Paggung Sandiwara", yang boleh jadi
megadaptasi kata-kata William Shakespeare:
All the world's a stage, and all the men and women merely players: they have
their exits and their entrances......
Dunia ini panggung sandiwara, semua pria dan
wanita cumalah pemeran: mereka masing-masing memiliki pintu keluar dan pintu
masuk sendiri-sendiri...
Serupa itulah kiranya yang sedang kita saksikan
sekarang. Sebuah pertunjukan kenegaraan dengan lakon-lakon besar yang dimainkan
oleh beberapa pemeran yang dampaknya membuat gonjang-ganjing ini negeri.
Awalnya kita menyaksikan para petinggi negeri
mengumumkan kenaikan harga BBM pada 17 November 2014. Seperti permainan
karambol, kenaikan BBM menjadi bidak yang meluncur ke sana ke mari mengenai
bidak2 lain. Begitu pun kenaikan BBM, meluncur dan menggerakan harga-harga
lainnya turut bergerak naik.
Menjelang pergantian tahun, panggung diramaikan
lagi oleh beberapa menteri yang mengumumkan bakal turunnya harga BBM menjadi Rp
7.600 untuk premium. Ah... tapi mereka lupa, bidak-bidak karambol itu cukup
sulit untuk kembali ke posisi semula. Walhasil, kendati harga BBM sudah turun
di awal tahun, toh harga-harga kebutuhan pokok belum kembali ke posisi dan
harga semula. Harga cabai masih Rp 80 ribu per kg..., daging Rp 110 per
kg., gas. Rp 140 ribu per 12 kg, telur Rp 24 ribu per kg, sayuran, dan juga
ongkos transportasi yang nampaknya sudah nyaman pada posisi terbaru.
Di antara desing dan kesiut harga-harga yang melambung,
ada juga drama dua babak kita saksikan dari reruntukan pesawat AirAsia, saat
peran Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI FH Bambang
Soelistyo diambil oleh Panglima TNI Muldoko saat mengangkat puing ekor pesawat
dan black box.
Sampai-sampai Bambang Soelistyo
berkomentar, "Di sini saya tekankan kita mencari korban dan black
box, bukan ekor. Sekali lagi korban dan black box bukan
ekor," ujar Soelistyo dalam konferensi pers di kantornya, Jl Angkasa,
Kemayoran, Jakpus, Sabtu (10/1/2015).
Karuan saja, 'pengambilan peran' ini pun mengundang komentar dari pembaca Kompas.com.
Calo Kardus:
terlalu banyak ritual.. Indonesia bangeud!
Adhitya Putra
mau pencitraan monggo, ndral.....
Bububudi
Ada misi apa si pak panglima sampai segitu rajinnya? klo bantu ya bantu tp ga
perlu wara wiri ke lokasi? memotivasi anggota tni??
Wong Kito
Dinegara2 maju manapun, mana ada panglima yang sampe ngurus pencarian black
box. Seharusnya ketua Basarnas yang turun langsung....
Beberapa hari berikutnya, berbarengan ditemukannya kembali beberapa jenazah
korban AirAsia, panggung negara ini pun dikejutkan oleh pengumuman KPK yang
menjadikan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka kasus korupsi.
Kontan, peristiwa ini langsung membuat gaduh seisi negeri. Sebab pada saat yang
bersamaan, jenderal bintang tiga polisi itu juga sedang melakukan uji kelayakan
di hadapan anggota komisi 3 DPR RI.
Publik pun bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan para
petinggi negeri ini. Segera saja, iterpretasi dari 'drama' panggung negeri
bergerak liar dari mulut ke mulut, dari komen ke komen dan dari status ke
status di media sosial.
Seorang kawan bilang, "Tidak seperti saat memilih menteri-menterinya, Jokowi kali
ini tidak mengajak Abraham Samad sebelum memilih calon Kapolri. Walhasil Samad
pun mengumumkan Budi jadi tersangka--meski tidak melalui tahap pemanggilan dan
lain-lain. Barangkali saja Samad tidak mau melihat negeri ini hancur
lantaran institusi kepolisian akan dipimpin oleh seorang jenderal yang
berapor merah, sehingga dia buru-buru mencegat laju Pak BG menuju kursi nomor
satu di institusi epolisian RI itu."
Suara lain bilang, "Ini siapa sebenarnya yang sedang bermain? Si Joko, Si
Samad, Si Budi, atau ibunya si Budi? Atau....? semangkin mbelgedes nih
republik. Ayo dong Mas Jok, yang sat set sat set, trengginas dan tegas gitu
lho. gak usah dengerin si bewok, ibu budi, atau siapapun. Dengerin saja hatimu
sendiri, sebagaimana dulu sampean bekerja dan menjalankan amanat rakyat."
Lantas kawan saya Dhenok ikutan bersuara, "Kalau aku menduga-duga,
sebenarnya Pak Jokowi dan Pak Samad sedang bermain dalam satu tim yang elok
banget. Tidak ngajak Pak Samad sebelum memilih calon Kapolri? Halaaah...paling
mereka telpunan dan merancang ini semua. Pak Jokowi 'mencuri bola', menendang
ke arah Samad, Samad menembak ke arah gawang. GOOOOOLLL! Andai saja 'Ibu Budi'
tahu sedang dipecundangi...betapa akan murka Beliau. (Oh...aku sangat
menyayangi keduanya, 'Ibu Budi' dan Pak Jokowi. Semoga pikiran baik datang dari
segala penjuru melingkupi mereka).
Kawan saya Noorca M. Massardi tak mau ketinggalan, "mas budi konon
orangnya mbakyu. mas joko tak bisa menolak. makanya dia tunggu rekomendasi mas
kompol. mas sam yg paham situasi langsung membantu mas joko dgn menetapkan mas
budi sebagai tersangka. koalisi yg terpecah pun bersatu membela mas budi. mas
joko akan melantik dgn senang hati smp mas budi kelak ditahan dan disidangkan
kpk. mas joko tidak akan halangi kpk walau dia tidak akan mendukung secara
terbuka. lalu mas joko akan gantikan dgn wakilnya. tangan mas joko bersih,
tanpa menyakiti mbakyunya, dan dpr bersatu mendukungnya walau hanya karena
ingin bubarkan kpk. rakyat akan menghujat dpr dan mendukung kpk. mas joko
senang2 saja karena bukan dia pribadi yang merekomendasikan mas budi dan menang
di sejumlah medan konflik tanpa ngasorake. posisi pribadinya pun sebagai
presiden semakin kuat. maka jangan salah membaca peta."
Ya, ya... Penunjukan Budi sebagai calon tunggal Kapolri memang menimbulkan
polemik. Selain dituding memiliki rekening gendut, dia juga disebut 'titipan'
dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Kepala Lembaga
Pendidikan Polri itu dikenal akrab dengan Megawati karena pernah menjadi
ajudannya selama 2001-2004. Atas hal ini pula, banyak pihak menuding Jokowi
telah melakukan politisasi di tubuh Polri.
Adegan Pak BG belum lagi mencapai klimaks, panggung diisi adegan lain. Kali ini
giliran Kapolri Sutarman dan Kabreskim Komjen Suhardi Alius dicopot dari
jabatannya dan harus terima dimutasi ke Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Seorang kawan menanggapi, Tarman diberhentikan oleh Joko Widodo karena
mantan Kapolri itu memang tak disukai Ibu Megawati, karena Tarman dikenal
sebagai orangnya Mas Beye, musuh bebuyutan Mbak Ega. Padahal Mas Tarman baru
penisiun Oktober nanti. Tapi langkah itu penting buat menghibur Mbak E.
Atas peristiwa ini, pengamat hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra pun ikut
mengkritik cara Jokowi melakukan reorganisasi di Korps Bhayangkara. Melalui
akun Twitter miliknya, Yusril menyatakan, proses pemberhentian yang dilakukan
Jokowi terhadap Sutarman bertentangan dengan undang-undang sebab
pemberhentiannya tidak melalui persetujuan DPR terlebih dahulu.
"Saya ingat betul perdebatan perumusan pasal ini DPR ketika saya mewakili
Pemerintah membahas RUU Kepolisian. Mestinya Presiden dan DPR tahu bahwa
pengangkatan dan pemberhentian Kapolri dilakukan satu paket bukan
dipisah," tulis Yusril dalam akun @Yusrilihza_Mhd, Sabtu (17/1/2015).
Di panggung itu kini wajah Jokowi menampakkan ekspresi yang tegang. Kompas
menulis, sepekan terakhir, Presiden Joko Widodo yang menjadi sorotan publik
pasca pengajuan calon Kepala Kepolisian Negara RI, Komisaris Jenderal Budi
Gunawan, ke DPR dan di tengah tekanan politik yang kuat, Presiden tetap
menjalani tugas kenegaraan dengan senyum meskipun adakalanya menunjukkan rasa
tak nyaman.
Kendati aktivitas dan jadwal kerja Presiden berjalan seperti biasa, selama
sepekan ini suasana istana maupun saat kunjungan kerja ke beberapa daerah
terasa berbeda. Misalnya, kompleks istana yang biasanya terasa hangat mendadak
berjarak.
Orang awam seperti kita pastilah mereka-reka, seperti apa drama yang sedang
berlangsung di istana saat ini, sehingga menjadikan Jokowi tak secerah dulu
lagi?
Adakah di istana banyak mahluk halus maupun mahluk kasar yang membisiki
sekaligus menekan sang presiden? Politikus Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP), Adian Napitupulu menyebut Istana sebagai lokasi yang
mengerikan, di mana di dalamnya terdapat penjilat dan kaum munafik. Bagi Adian,
mereka sangat berbahaya karena dapat memberikan citra buruk pemerintah di mata
masyarakat.
"Politik di sekitar Istana memang mengerikan, ada penjilat, ada para
munafik, ada pembisik informasi palsu, ada yang diam-diam tapi pengkhianat, ada
yang manggut-manggut tapi menikam dari belakang, ada mata-mata, ada agen
rahasia, ada yang mengancam dengan kata, ada yang dengan senjata, ada yang
dengan guna-guna, si jahat bekerja di dunia nyata hingga maya. Di Istana ada
ribuan kepentingan yang bekerja dengan jutaan cara," ujar Adian dalam
keterangan persnya di Jakarta, Jumat (16/1/2015) seperti dikutip Merdeka.com.
Waktu terus berdetak, panggung republik ini terus berganti adegan. Dan pada
Minggu 18 Januari 2015, sebanyak lima terpidana mati dieksekusi di Lapas
Nusakambangan dan Boyolali pada pukul 06.00 pagi. Mereka adalah Ang Kim Soei
(62) warga Negara Belanda, Namaona Denis (48) warga negara Malawi, Marco Archer
Cardoso Mareira (53) warga negara Brasil, Daniel Enemua (38) warga negara
Nigeria, dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (38) warga negara Indonesia.
Ssssttt... sebelum lupa, lihatlah, di panggung beberapa hari lalu juga muncul
adegan yang bikin kita bisa menarik nafas lega. Sebab, pada pergantian hari di
malam nanti, harga BBM akan turun kembali. Harga premium menjadi Rp
6.600/liter. Solar menjadi Rp 6.400/liter, elpiji 12 kg turun menjadi Rp 129
ribu.Kemudian, semen yang diproduksi oleh BUMN (grup Semen Indonesia)
turun Rp 3.000 per sak.
***
Sandiwara di negeri ini memang akan terus berlangsung. Sudah pasti dengan
cerita dan pemeran yang terus berganti. Mereka yang sekarang jadi pemeran
utama, esok nanti akan jadi figuran atau bahkan jadi penonton. Begitu pula
sebaliknya, mereka yang sekarang jadi figuran, bisa jadi esok bakal jadi lakon,
atau bahkan menjadi dalang.
Pergantian Kapolri, turunnya harga BBM, pelaksanaan hukuman mati, adalah akon
yang sedang kita saksikan hari ini. Esok, entah apa yang akan tergelar di
panggung drama negara kita.
Sebagian peran bisa kita perjuangkan untuk mendapatkannya, selebihnya tentu
saja urusan Ilahi yang mengaturnya. Sebab semua peran akan dicatat dan
dikenang, maka jalani peran sebaik yang kita bisa, agar baik juga catatan dan
kenangan orang akan peranan kita.
@JodhiY
sumber: kompas.com

0 komentar :