![]() |
| WAKIL Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menyorongkan kembali cincin bermata giok ke jari Irwandi Yusuf, karena cincin milik mantan gubernur Aceh itu tak muat di jari Muzakir. Niatnya, menurut Muzakir, Irwandi akan memberikan cincin itu kepadanya saat temu kangen sebagai eks kombatan GAM di sebuah hotel di Jakarta, Rabu (21/1) malam. FOTO/MUNAWAR LIZA ZAINAL |
BANDA ACEH - Setelah
sekian lama tak terlihat bersama di depan publik, Rabu (21/1) malam, dua tokoh
Aceh, Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf, kembali bertemu dan duduk satu meja
dengan penuh keakraban di restoran sebuah hotel di Jakarta. Irwandi adalah mantan
gubernur Aceh, sedangkan Muzakir, Wakil Gubernur Aceh saat ini.
Pertemuan yang dikemas
dalam bingkai “reuni eks kombatan GAM” itu menimbulkan tanda tanya besar.
Sebab, dua tokoh perjuangan Aceh semasa konflik ini sempat “retak” akibat
kepentingan politik menjelang Pilkada 2012. Namun, dalam pertemuan yang
berlangsung pukul 23.45 WIB itu keduanya tampak akrab dan rileks.
Menurut Munawar Liza
Zainal, pertemuan itu terlaksana berkat dukungan dan dorongan dari para ulama,
cendekiawan, dan mantan kombatan GAM di lapangan. Selain itu juga dorongan dari
aktivis, mahasiswa, dan tokoh-tokoh di dalam dan di luar negeri serta hasil
dari pertemuan masyarakat Aceh di Skandinavia pada 25-26 Oktober 2014.
“Setelah saling
bersalaman rombongan kedua pihak mempersilakan Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf
untuk duduk berdua, berdiskusi, dan terlibat dalam pembicaraan yang serius
lebih kurang satu setengah jam,” kata Munawar Liza yang ikut dalam pertemuan
itu melalui siaran persnya yang dikirim ke Serambi, Kamis (22/1) siang.
Mantan wali kota Sabang
ini menyatakan, dalam pertemuan yang bercorak nostalgia itu, keduanya saling
menanyakan tentang keadaan masing-masing setelah sekian lama tak bersama.
Seperti diketahui,
dalam Pilkada 2006 Irwandi Yusuf yang berpasangan dengan Muhammad Nazar SAg
dari jalur independen memenangi pemilihan, sehingga berhak memimpin Aceh. Saat
Pilkada 2012, Irwandi menggandeng Muhyan Yunan sebagai pasangannya, tapi gagal
menjadi gubernur Aceh kali kedua. Kontestasi itu justru dimenangkan pasangan dr
Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf dari Partai Aceh (PA).
Irwandi kemudian
memprakarsai pembentukan Partai Nasional Aceh (PNA). Rivalitas antara PA dengan
PNA pun memanas saat menjelang Pileg 2014. Beberapa insiden tak mengenakkan
terjadi saat itu. Kedekatan antara Muzakir Manaf selaku Ketua DPA Partai Aceh
dan Irwandi selaku Ketua MPP Partai Nasional Aceh pun, terlihat makin renggang.
Padahal, mereka pernah tinggal serumah di Lamnyong, Banda Aceh, seusai
penandatanganan MoU Helsinki tahun 2005.
Tapi suasana “jaga
jarak” itu sepertinya sudah berakhir dengan duduknya Irwandi dan Muzakir Manaf
semeja di restoran sebuah hotel di Jakarta, Rabu (21/1) malam.
Seperti digambarkan
Munawar Liza, Irwandi dan Muzakir saat itu juga membicarakan pentingnya menjaga
persatuan seluruh rakyat Aceh dari semua elemen, agar Aceh dapat terbangun
dengan baik.
“Dengan tidak adanya
perselisihan dan pertikaian sesama masyarakat Aceh, maka perdamaian yang telah
dicapai akan mudah untuk dipertahankan,” ujarnya.
Turut hadir dalam
pertemuan itu, Izil Azhar alias Ayah Merin (mantan panglima GAM Sabang), Amir
Faisal Nek Muhammad (tokoh muda Aceh di Jakarta), Teuku Rafli Pasha, dan Teuku
Irsyadi (pengusaha muda Aceh di Jakarta).
Baik Irwandi maupun
Mualim yang dikonfirmasi Serambi secara terpisah di Banda Aceh tadi malam
mengakui adanya pertemuan itu. Namun, mereka tak menyebutnya sebagai pertemuan
politik, apalagi jika dikaitkan dengan isu menjelang Pilkada 2017.
Mualem hanya menyebut
pertemuan itu sebagai pertemuan biasa antara adik dengan abang. Irwandi
menyebutnya, pertemuan reuni, karena ia dan Mualem memang pernah tinggal
serumah di Lamnyong, Banda Aceh, pada tahun 2005 lalu.
sumber: serambi indonesia.

0 komentar :