![]() |
| Presiden Jokowi ( indonesianreview.com) |
Jakarta – Banyak mimpi indah ditebar oleh pemerintah. Ada pembangunan ribuan
kilometer jalan tol dan lusinan waduk, pengusiran para pencuri ikan, pemotongan
utang luar negeri, swasembada pangan, penambahan suplai listrik puluhan ribu
megawatt, dan berbagai mimpi indah lainnya. Luarbiasa!
Siapapun pasti berharap mimpi itu menjadi kenyataan.
Sebab semua orang berharap Indonesia bisa segera tinggal landas menjadi negara
maju. Bukan lagi sebuah negara yang nyaris identik dengan kemiskinan dan
kebodohan, serta terbelakang di bidang teknologi.
Namun di pasar uang dan modal, mimpi itu
tampaknya masih jauh dari indah. Pasar bahkan menyiratkan kemungkinan
terjadinya krisis ekonomi bila pemerintah tak berhasil melayangkan jurus ampuh
untuk mengembalikan perekonomian kejalur yang tepat. Isyarat ini tak
lepas dari kenyataan bahwa kemerosotan nilai rupiah dan gejolak pasar
modal kian menjadi-jadi sejak kabinet Jokowi diumumkan beberapa bulan lalu.
Kini kinerja bursa saham Indonesia bahkan
tergantung nyaris sepenuhnya pada situasi pasar internasional dan regional,
sentimen dalam negeri nol. Lihat saja, pasar tetap loyo meski pemerintah
mengurangi subsidi BBM. Para investor seolah tak terkesan oleh berbagai
program pemerintah yang bertujuan mempercepat gerak roda pembangunan
dengan meningkatkan efisiensi birokrasi, dan pemberantasan korupsi.
Runyamnya lagi, kepercayaan para investor sektor riil
juga masih rendah. Jadi tak mengherankan bila Ketua Tim Ahli Wakil Presiden RI,
Yusuf Wanandi, ngomel bahwa perekonomian Indonesia digerogoti oleh para eksportir
yang tetap gemar memarkir dana hasil ekspor di bank-bank luar negeri.
Akibatnya, menurut mantan Ketua Apindo itu, kita terus mengalami defisit dalam
necara pembayaran meski nilai ekspor sesungguhnya sangat besar. Ini semua,
katanya, mengakibatkan nilai rupiah terus melemah.
Secara teoritis, mengembalikan kepercayaan para
investor kepada pemerintah memang gampang. Yaitu dengan konsep dan program
pembangunan yang menyeluruh, masuk akal, dan realisitis. Dalam konteks ini
kemampuan pemerintah menjabarkan pelaksanaan pembangunan, lengkap dengan
bagaimana memperoleh sumber pembiayaan serta target-target yang hendak dicapai
adalah keharusan. Instruksi-instruksi dadakan berdasarkan kunjungan selintas di
sebuah lapangan tentu tak diharapkan.
Di tengah perekonomian global yang tidak menentu
seperti saat ini, keseriusan pemerintah membangun benteng pertahanan ekonomi
guna menghadapi krisis juga menjadi harapan para investor. Sebab krisis ekonomi
global seperti terjadi pada 2007 bisa saja terulang. Bila Indonesia tidak siap,
tidak mustahil mimpi indah Jokowinomics berubah menjadi malapetaka ekonomi.
Masyarakat pun kalang kabut karena dihantui PHK missal dan melesatnya
harga-harga barang kebutuhan, sementara pemerintah dan dunia usaha tak berkutik
lantaran didera kirisis utang.
Para investor dan masyarakat tentu berharap
pemerintahan Jokowi bisa mengulang kisah sukses SBY menangkal krisis ekonomi
global 2007, yang jauh lebih dahsyat ketimbang krisis ekonomi Asia Timur
1997. Di tengah tekanan besar, dimana kawasan negara-negara maju diterpa resesi
ekonomi, hanya empat negara yang sanggup mempertahankan pertumbuhan
perekonomian secara positif: yaitu Indonesia, China, India, dan Brazil.
Kunci keberhasilan SBYnomics adalah konsistensinya
menurunkan rasio utang luar negeri terhadap PDB sampai di bawah 30% atau
tingkat sangat aman meski berarti harus mengerem laju roda pembangunan. SBY
tampaknya belajar dari kenyataan bahwa krisis ekonomi 1997, yang
berubah menjadi kerusuhan sangat berdarah dan sanggup menumbangkan kekuasaan
Presiden Suharto, diawali oleh krisis utang.
Ketika itu perekonomian nasional juga diselamatkan
oleh sikap Bank Indonesia yang ngotot bahwa tak boleh ada bank yang ditutup.
Dengan alasan, penutupan bank akan menebar ketakutan di kalangan nasabah, dan
bisa memicu penarikan dana secara besar-besaran dari perbankan nasional
sebagaimana terjadi pada 1997.
Presiden Jokowi sendiri telah menyatakan akan
mengurangi utang luar negeri. Namun, di saat yang sama, presiden juga
mengungkapkan ambisi besar untuk melaksanakan pembangunan infrastruktur secara
besar-besaran. Nah, mengingat nilai rupiah yang cenderung kian loyo dan
tingginya komponen impor dalam proyek infrastruktur, ambisi itu jelas
membutuhkan jauh lebih banyak rupiah.
Kini masyarakat hanya bisa menunggu langkah apa yang
akan diambil pemerintah, apakah akan menggenjot perolehan pajak dengan
menaikkan tarif dan jumlah pembayar pajak, atau memakai cara lain seperti
menjual BUMN. Yang pasti, Presiden dan Wakil Presiden RI masih
menunjukkan kegembiraan atas merosotnya nilai rupiah. Mereka berdua masih
melihat kenyataan tersebut sebagai peluang untuk menggenjot ekspor.
oleh : Gigin Praginanto
sumber : indonesianreview.com

0 komentar :