![]() |
| ilustrasi(indonesianreview.com) |
Jakarta - Rupiah bisa menembus
Rp 13.000 jika empat defisit terus mencengkeram Indonesia. Kebijakan pemerintah menghapus subsidi bahan bakar
minyak [BBM] jenis premium dan memberikan subsidi tetap Rp 1.000 per liter
untuk solar, ternyata tak membuat rupiah menjadi perkasa. Rupiah masih tetap
saja bermain di kisaran Rp 12.400-Rp 12.600 per dolar AS.
Apa yang menyebabkan nilai rupiah
tetap tak bertenaga? Ada beberapa faktor yang menekan. Pertama, defisit neraca
perdagangan bulan November 2014 sebesar 420 juta dolar AS. Padahal, bulan
sebelumnya neraca perdagangan surplus 20 juta dolar AS.
Lagi-lagi, penyebab utama defisit
neraca perdagangan berasal dari minyak dan gas bumi [migas] yang mencapai US$
1,36 miliar di bulan November 2014. Defisit ini lebih tinggi dibandingkan
defisit migas bulan Oktober 2014 sebesar US$ 1,11 miliar.
Celakanya, Indonesia tak hanya
mengalami defisit neraca perdagangan. Tapi juga defisit transaksi berjalan,
defisit neraca pembayaran, dan defisit primer APBN. Bank Indonesia mencatat,
triwulan III 2014 defisit transaksi berjalan mencapai US$ 6,836 miliar atau
3,07% dari produk domestik bruto [PDB].
Inilah empat defisit yang selalu
menjadi panduan para investor pemegang uang untuk melihat perekonomian suatu
negara baik atau tidak.
Faktor kedua yang menyebabkan rupiah
masih lunglai adalah mengenai angka inflasi. Menurut Badan
Pusat Statistik [BPS], inflasi pada November 2014 mencapai 1,50%. Ini merupakan
inflasi yang cukup tinggi.
Kini, pasar sedang menunggu inflasi
bulan Desember 2014 setelah kenaikan harga BBM bersubsidi pada 18 November
lalu. Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi para ekonom, rupiah akan
menguat melawan dolar AS. Hanya saja, banyak yang meramal inflasi bulan
Desember akan berkisar 2-2,2 %. Kalau ramalan ini benar, nilai rupiah bakal
semakin merosot.
Faktor lain yang kerap membuat pasar
panik adalah rencana bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang akan menaikkan
suku bunga acuan. Memang, The Fed belum mengambil keputusan, namun faktor
psikologis ini masih terus saja menghantui para investor asing yang menempatkan
uangnya di Indonesia. Kalau faktor ini terus berlanjut, mereka akan menarik
uangnya kembali ke AS untuk mencari instrumen investasi yang aman dan nyaman.
Kalau keadaannya begini, hampir
pasti bursa saham terjungkal dan nilai rupiah semakin melemah. Maklum, selama
ini investor asing adalah pemain utama di pasar modal dan pasar uang. Maka,
sedikit saja mereka menarik dananya, bursa saham dan nilai rupiah langsung
oleng. Asal tahu saja, setiap Rp 100 pelemahan akan membuat anggaran membengkak
sekitar Rp 1 triliun. Kalau pelemahan sampai Rp 1.000, maka pembekannya
mencapai Rp 10 triliun.
Tak hanya itu. Pelemahan rupiah juga
akan menurunkan penerimaan dalam APBN, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan
buntutnya penerimaan pajak melorot.
Begitulah dampak melemahnya rupiah
dan semakin menguatnya dolar AS. Efek dominonya ke mana-mana, dari ruginya para
pedagang barang impor sampai membengkaknya utang luar negeri, baik pemerintah
maupun swasta.
Bank Indonesia memang selalu menjaga
pasar, yakni sekali-kali intervensi pasar. Tapi kalau setiap kali rupiah jeblok
lalu BI intervensi, cadangan devisa lama-lama bisa terkuras.
Transaksi NDF
Tiga faktor di atas itulah yang
membuat nilai rupiah belakangan ini tak berotot, di samping beberapa faktor
lain, meskipun tekanannya kecil. Namun ada faktor lain yang cukup menekan
rupiah, transaksi rupiah di non deliverable forward [NDF].
Selama ini, NDF dianggap sebagai sarang spekulan rupiah yang menyebabkan rupiah
sering meriang.
NDF sejatinya sejenis transaksi
derivatif yang hampir sama dengan forward. Bedanya, dalam forward,
pihak yang melakukan kontrak harus menyediakan uang sesuai dengan kesepakatan.
Sedangkan dalam NDF, yang dihitung hanyalah selisih antara harga dalam kontrak
dengan harga spot [pasar] yang dikonversikan dalam dolar.
NDF biasanya diperdagangkan melalui counter di
pusat keuangan internasional, seperti New York, London, Hong Kong, dan
Singapura. Rupiah merupakan pasar NDF terbesar di kawasan Asia dengan rata-rata
volume transaksi harian diperkirakan mencapai US$ 10 miliar, diikuti oleh pesso
Filipina, dan renminbi China.
Perbankan dan pelaku bisnis mulai
banyak memanfaatkan transaksi NDF sejak BI membatasi transaksi forward sebagai
salah satu instrumen lindung nilai atau hegding. Padahal,
instrumen ini sangat diperlukan perbankan dan pengusaha untuk melundungi
aktivitas bisnis mereka. Perbankan juga memerlukan instrumen ini mengamankan
posisi devisa bersih (net open position).
NDF sendiri dibuat oleh Asosiasi
Perbankan Singapura sebagai sikap atas pembatasan transaksi forward di
tanah air oleh BI. Ketika instrumen ini muncul, BI begitu pede transaksi
NDF tak akan banyak perngaruh terhadap rupiah karena pasarnya ada di Singapura.
Beberapa pemain besar NDF di
Singapura adalah Union Bank of Switzerland [UBS], JPMorgan, Development Bank of
Singapore [DBS] Group Holding Ltd, dan Hongkong and Shanghai Bank Corporation
[HSBC].
Kabarnya, Bank Sentral Singapura
atau The Association of Banks in Singapore [ABS] akan menutup transaksi rupiah
di NDF. Alasan ABS tidak lagi menggunakan NDF dipicu selisih rupiah di pasar onshore dan offshore yang
kian tipis. Dengan kata lain, keuntungan dari spekulan rupiah lewat NDF tidak
menarik lagi.
Terlepas benar tidaknya kabar
tersebut, nasib rupiah dalam jangka pendek dan jangka panjang masih
terkatung-katung. Impor BBM masih tetap tinggi karena konsumsi di dalam
negeri tinggi seiring penurunan harga premium, solar, dan pertamax akibat
anjloknya harga minyak dunia. Selain itu, harga beberapa komoditas nonmigas,
seperti minyak kelapa sawit dan batubara di pasar dunia terus tertekan.
Padahal, ekspor komoditas menjadi andalan produk ekspor Indonesia.
Proyek infrastruktur juga masih
menjadi dilema. Di satu sisi, proyek ini menjadi tulang punggung pendorong
ekonomi, namun di sisi lain impor barang melejit untuk memenuhi bahan baku
proyek. Akibatnya sudah bisa ditebak, defisit neraca perdagangan masih terus
terjadi.
Untungnya, jumlah kelas menengah di
Indonesia tumbuh subur. Setiap kali mobil baru diluncurkan, langsung habis
terjual. Orang rela antre berjam-jam hanya untuk membeli sebuah gadget baru.
Restoran di mana-mana dipenuhi pengunjung. Tiket konser musik berharga jutaan
rupiah habis diborong.
Inilah yang masih membuat investor
asing tertarik menanamkan uangnya di Indonesia, apalagi dengan jumlah penduduk
yang hampir mencapai 250 juta jiwa. Ini tentu saja, pasar yang tidak kecil.
Arus wisatawan asing yang berkunjung
ke Indonesia juga meningkat. Menurut catatan BPS, sepanjang Januari-September
2014 jumlah wisatawan asing mencapai 6,9 juta orang, atau tumbuh 8,31%
dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 6,4 juta orang.
Diperkirakan sampai akhir tahun 2014 bisa mencapai 9,5 juta turis asing yang
masuk ke Indonesia.
Kondisi politik juga diperkirakan
akan kondusif, setelah Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat sedikit
demi sedikit mulai mengakhiri masa konflik.
Tentu saja, pemerintah tak boleh
hanya mengandalkan ini semata-mata, lantas mengabaikan yang lain. Yang paling
penting adalah bagaimana membenahi empat defisit di atas tadi dan menjaga inflasi.
Impor minyak harus benar-benar diawasi secara ketat.
Memang, pemerintah telah
mengeluarkan berbagai kebijakan yang bagus untuk mengatasi persoalan ini, dari
menaikkan suku bunga acuan BI rate, menaikkan pajak penjualan barang mewah
(PPnBM), dan seabrek kebijakan lainnya. Tapi sayangnya, kebijakan bagus ini
banyak yang tidak dikawal di lapangan dan lepas begitu saja. Dan, masyarakat
survive sendiri. Kalau ini terus berulang, bukan tak mungkin rupiah menembus Rp
13.000 per dolar AS.
oleh : Satrio AN
sumber: indonesianreview.com

0 komentar :