Senin, 12 Januari 2015

Meramal Nasib Rupiah

Unknown     14.57    

Meramal Nasib Rupiah
ilustrasi(indonesianreview.com)

Jakarta - Rupiah bisa  menembus Rp 13.000 jika empat defisit terus mencengkeram Indonesia. Kebijakan pemerintah menghapus subsidi bahan bakar minyak [BBM] jenis premium dan memberikan subsidi tetap Rp 1.000 per liter untuk solar, ternyata tak membuat rupiah menjadi perkasa. Rupiah masih tetap saja bermain di kisaran Rp 12.400-Rp 12.600 per dolar AS.
Apa yang menyebabkan nilai rupiah tetap tak bertenaga? Ada beberapa faktor yang menekan. Pertama, defisit neraca perdagangan bulan November 2014 sebesar 420 juta dolar AS. Padahal, bulan sebelumnya neraca perdagangan surplus 20 juta dolar AS.
Lagi-lagi, penyebab utama defisit neraca perdagangan berasal dari minyak dan gas bumi [migas] yang mencapai US$ 1,36 miliar di bulan November 2014. Defisit ini lebih tinggi dibandingkan defisit migas bulan Oktober 2014 sebesar US$ 1,11 miliar.
Celakanya, Indonesia tak hanya mengalami defisit neraca perdagangan. Tapi juga defisit transaksi berjalan, defisit neraca pembayaran, dan defisit primer APBN. Bank Indonesia mencatat, triwulan III 2014 defisit transaksi berjalan mencapai US$ 6,836 miliar atau 3,07% dari produk domestik bruto [PDB].
Inilah empat defisit yang selalu menjadi panduan para investor pemegang uang untuk melihat perekonomian suatu negara baik atau tidak.
Faktor kedua yang menyebabkan rupiah masih lunglai adalah mengenai angka inflasi. Menurut Badan Pusat Statistik [BPS], inflasi pada November 2014 mencapai 1,50%. Ini merupakan inflasi yang cukup tinggi.
Kini, pasar sedang menunggu inflasi bulan Desember 2014 setelah kenaikan harga BBM bersubsidi pada 18 November lalu. Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi para ekonom, rupiah akan menguat melawan dolar AS. Hanya saja, banyak yang meramal inflasi bulan Desember akan berkisar 2-2,2 %. Kalau ramalan ini benar, nilai rupiah bakal semakin merosot.
Faktor lain yang kerap membuat pasar panik adalah rencana bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan. Memang, The Fed belum mengambil keputusan, namun faktor psikologis ini masih terus saja menghantui para investor asing yang menempatkan uangnya di Indonesia. Kalau faktor ini terus berlanjut, mereka akan menarik uangnya kembali ke AS untuk mencari instrumen investasi yang aman dan nyaman.
Kalau keadaannya begini, hampir pasti bursa saham terjungkal dan nilai rupiah semakin melemah. Maklum, selama ini investor asing adalah pemain utama di pasar modal dan pasar uang. Maka, sedikit saja mereka menarik dananya, bursa saham dan nilai rupiah langsung oleng. Asal tahu saja, setiap Rp 100 pelemahan akan membuat anggaran membengkak sekitar Rp 1 triliun. Kalau pelemahan sampai Rp 1.000, maka pembekannya mencapai Rp 10 triliun.
Tak hanya itu. Pelemahan rupiah juga akan menurunkan penerimaan dalam APBN, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan buntutnya penerimaan pajak melorot.
Begitulah dampak melemahnya rupiah dan semakin menguatnya dolar AS. Efek dominonya ke mana-mana, dari ruginya para pedagang barang impor sampai membengkaknya utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta.
Bank Indonesia memang selalu menjaga pasar, yakni sekali-kali intervensi pasar. Tapi kalau setiap kali rupiah jeblok lalu BI intervensi, cadangan devisa lama-lama bisa terkuras.

Transaksi NDF

Tiga faktor di atas itulah yang membuat nilai rupiah belakangan ini tak berotot, di samping beberapa faktor lain, meskipun tekanannya kecil. Namun ada faktor lain yang cukup menekan rupiah, transaksi rupiah  di non deliverable forward [NDF]. Selama ini, NDF dianggap sebagai sarang spekulan rupiah yang menyebabkan rupiah sering meriang.
NDF sejatinya sejenis transaksi derivatif yang hampir sama dengan forward. Bedanya, dalam forward, pihak yang melakukan kontrak harus menyediakan uang sesuai dengan kesepakatan. Sedangkan dalam NDF, yang dihitung hanyalah selisih antara harga dalam kontrak dengan harga spot [pasar] yang dikonversikan dalam dolar.
NDF biasanya diperdagangkan melalui counter di pusat keuangan internasional, seperti New York, London, Hong Kong, dan Singapura. Rupiah merupakan pasar NDF terbesar di kawasan Asia dengan rata-rata volume transaksi harian diperkirakan mencapai US$ 10 miliar, diikuti oleh pesso Filipina, dan renminbi China.
Perbankan dan pelaku bisnis mulai banyak memanfaatkan transaksi NDF sejak BI membatasi transaksi forward sebagai salah satu instrumen lindung nilai atau hegding. Padahal, instrumen ini sangat diperlukan perbankan dan pengusaha untuk melundungi aktivitas bisnis mereka. Perbankan juga memerlukan instrumen ini mengamankan posisi devisa bersih (net open position).
NDF sendiri dibuat oleh Asosiasi Perbankan Singapura sebagai sikap atas pembatasan transaksi forward di tanah air oleh BI. Ketika instrumen ini muncul, BI begitu pede transaksi NDF tak akan banyak perngaruh terhadap rupiah karena pasarnya ada di Singapura.
Beberapa pemain besar NDF di Singapura adalah Union Bank of Switzerland [UBS], JPMorgan, Development Bank of Singapore [DBS] Group Holding Ltd, dan Hongkong and Shanghai Bank Corporation [HSBC].
Kabarnya, Bank Sentral Singapura atau The Association of Banks in Singapore [ABS] akan menutup transaksi rupiah di NDF. Alasan ABS tidak lagi menggunakan NDF dipicu selisih rupiah di pasar onshore dan offshore yang kian tipis. Dengan kata lain, keuntungan dari spekulan rupiah lewat NDF tidak menarik lagi.
Terlepas benar tidaknya kabar tersebut, nasib rupiah dalam jangka pendek dan jangka panjang masih terkatung-katung. Impor BBM masih tetap tinggi  karena konsumsi di dalam negeri tinggi seiring penurunan harga premium, solar, dan pertamax akibat anjloknya harga minyak dunia. Selain itu, harga beberapa komoditas nonmigas, seperti minyak kelapa sawit dan batubara di pasar dunia terus tertekan. Padahal, ekspor komoditas menjadi andalan produk ekspor Indonesia.
Proyek infrastruktur juga masih menjadi dilema. Di satu sisi, proyek ini menjadi tulang punggung pendorong ekonomi, namun di sisi lain impor barang melejit untuk memenuhi bahan baku proyek. Akibatnya sudah bisa ditebak, defisit neraca perdagangan masih terus terjadi.
Untungnya, jumlah kelas menengah di Indonesia tumbuh subur. Setiap kali mobil baru diluncurkan, langsung habis terjual. Orang rela antre berjam-jam hanya untuk membeli sebuah gadget baru. Restoran di mana-mana dipenuhi pengunjung. Tiket konser musik berharga jutaan rupiah habis diborong.  
Inilah yang masih membuat investor asing tertarik menanamkan uangnya di Indonesia, apalagi dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 250 juta jiwa. Ini tentu saja, pasar yang tidak kecil.
Arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia juga meningkat. Menurut catatan BPS, sepanjang Januari-September 2014 jumlah wisatawan asing mencapai 6,9 juta orang, atau tumbuh 8,31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 6,4 juta orang.  Diperkirakan sampai akhir tahun 2014 bisa mencapai 9,5 juta turis asing yang masuk ke Indonesia.
Kondisi politik juga diperkirakan akan kondusif, setelah Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat sedikit demi sedikit mulai mengakhiri masa konflik.
Tentu saja, pemerintah tak boleh hanya mengandalkan ini semata-mata, lantas mengabaikan yang lain. Yang paling penting adalah bagaimana membenahi empat defisit di atas tadi dan menjaga inflasi. Impor minyak harus benar-benar diawasi secara ketat.
Memang, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang bagus untuk mengatasi persoalan ini, dari menaikkan suku bunga acuan BI rate, menaikkan pajak penjualan barang mewah (PPnBM), dan seabrek kebijakan lainnya. Tapi sayangnya, kebijakan bagus ini banyak yang tidak dikawal di lapangan dan lepas begitu saja. Dan, masyarakat survive sendiri. Kalau ini terus berulang, bukan tak mungkin rupiah menembus Rp 13.000 per dolar AS. 
oleh : Satrio AN 
sumber: indonesianreview.com


0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger