![]() |
| master limbad( serambi indonesia) |
ACEH TENGAH- POPULARITAS batu
giok Aceh bukan hanya memikat para kolektor batu mulia lokal, tetapi juga
Master Limbad. Pesulap yang menyandang gelar Master Magician kelahiran Tegal,
Jawa Tengah, 6 Juli 1972 ini bahkan meninjau langsung potensi giok hingga ke
pedalaman Aceh, tepatnya ke Aceh Tengah.
Diam-diam, mentalis kondang ini Kamis (8/10) kemarin
berkunjung ke Kampung Lumut, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Setelah Nagan Raya,
nama Aceh Tengah memang semakin melambung sebagai lumbung batu mulia tersebut.
Sampai-sampai jenis giok yang terdapat di sini pun dinamakan giok lumut. Klop
dengan warnanya yang memang hijau lumut.
Tapi varian giok di sini bukan cuma nefrit jenis lumut.
Ada juga idocrase dengan varian solar, biosolar, dan biosolar super. Di antara
batu mulia itulah yang ingin dilihat langsung oleh Limbad, Kamis lalu.
Kehadiran Master Limbad di Dataran Tinggi Gayo ini
mengundang perhatian publik, meski awalnya mereka tak menyangka bahwa pria
berikat kepala dan mengenakan kalung serta cincin besar di jemari kedua
tangannya itu adalah Limbad. Tapi wajah seramnya yang begitu populer di
televisi, membuat sosok misterius ini mudah dikenali sebagai Limbad.
Cuma, penampilannya kali ini sedikit berbeda dengan yang
biasa terlihat di televisi. Kali ini, Limbad mengenakan sepatu boot yang bercak
lumpurnya terlihat jelas. Lumpur yang menempel di sepatunya ternyata berasal
dari lokasi penambangan dan pencarian giok di Kampung Lumut, Linge. Ia ke sana
untuk melihat langsung lokasi tempat pengambilan bongkahan batu giok.
Kabar tentang kehadiran pesulap kondang ini ke kota
dingin Takengon, hanya diketahui segilintir orang. Ia datang difasilitasi Gayo
Gemstone Community (GGC) dan bertemu dengan sejumlah pecinta batu mulia di Gayo.
Pertemuan itu berlangsung di HR Cafe, Takengon.
Limbad yang didampingi sejumlah rekannya tiba di HR Café
sekira pukul 21.00 WIB. Suami Susi Indrawati ini langsung menyapa ramah
sejumlah warga yang sedang santai mengopi di HR Café, termasuk Ketua GGC, Kamal
Bahagia, Kadis Peternakan dan Perikanan Aceh Tengah, Drh Rahmandi, serta
sejumlah pecinta batu giok.
Satu per satu warga yang sudah menunggunya disalami
Limbad. Tapi, seperti biasa, pesulap yang sudah teken “kontrak bisu” dengan
sebuah stasiun televisi nasional ini, tak bersuara. Ia hanya tersenyum dan
sesekali manggut-manggut saat berbisik dengan rekannya.
Yang menjadi juru bicaranya dalam pertemuan itu adalah
Ketua Asosiasi Petani Palawija dan Holtikutura Aceh, H Basri yang sebelumnya
ikut mendampingi Limbad ke Kampung Lumut.
Ketika ditanya Serambi apa tanggapan Limbad mengenai batu
giok Gayo, ia hanya tersemyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu ia
berbisik kepada H Basri yang duduk tepat di sampingnya.
“Seperti kita ketahui, Master Limbad ini jarang berbicara
dan saya akan menjawab semua pertanyaan Saudara-saudara. Untuk batu giok Gayo,
menurut Limbad, good,” ungkap H Basri diiringi Limbad dengan acungan jempol.
Menurut H Basri, kunjungan Limbad ke Lumut, hanya sekadar
jalan-jalan biasa untuk melihat kawasan Lumut yang makin sohor di tingkat
nasional sebagai penghasil batu mulia. “Tujuan kami, untuk melihat apa sih giok
ini. Dan bagaimana potensi, termasuk kualitasnya,” ungkap Basri mewakili
Limbad.
Basri mengusulkan agar deposit giok di Gayo tidak
ditambang secara besar-besaran karena harus disisakan untuk anak cucu. Ia
khawatir, jika eksploitasi giok di Tanah Gayo itu tak terkendali, maka suatu
saat batu giok Gayo hanya tinggal nama dan cerita. “Jangan karena batu ini
mahal, maka semuanya habis diambil tanpa ada yang ditinggalkan untuk anak
cucu,” ujarnya sembari disambut Limbad dengan senyuman.
Pertemuan komunitas gemstone Gayo dengan pesulap kondang
ini hanya sekitar 30 menit. Selebihnya, sembari berfoto dengan warga yang duduk
di kafe tersebut, Limbad sempat menyeruput segelas kopi. Bahkan ketika
dihidangkan kopi espresso tanpa gula, Limbad terlihat meringis lantaran meminum
kopi pahit khas Gayo.
Tak lama kemudian, Limbad langsung meninggalkan Takengon,
di tengah guyuran hujan gerimis menuju Banda Aceh untuk seterusnya kembali ke
Jakarta.
Sebelum pulang, Limbad kebanjiran hadiah batu giok dari sejumlah
penggemarnya di Takengon.
Karena harus konsisten berperan “bisu”, sulit untuk
mengorek langsung dari Limbad apa tujuan sebetulnya ia ke Takengon. Tapi yang
pasti, ayah tiga anak ini sudah mendapatkan dua pesona Tanah Gayo sekaligus,
yakni kopi arabika yang telah mendunia serta batu giok yang kini sedang naik
daun. (mahyadi)
Sumber : Serambi Indonesia

0 komentar :