![]() |
| giok Aceh( google) |
BIREUEN-Tren
batu giok kini makin menarik perhatian masyarakat banyak. Seperti di Kota
Bireuen, gang yang khusus menjajakan batu permata jenis giok, kini menjadi
kawasan wisata dadakan. Buktinya, tidak hanya siang hari, pada malam hari juga,
Gang Giok Bireuen
juga diserbu pengunjung.
Gang giok yang dulunya sepi, kini berubah bak pasar
dadakan yang menjadi daya tarik masyarakat untuk mengunjunginya. Meskipun suara
deru mesin pengasah giok yang membahana di gang itu, tidak menyurutkan minat
masyarakat untuk cuci mata dengan sinaran serta warna-warni batu giok yang
dipajang dirak-rak pedagang giok di Gang Giok Bireuen.
Bukan hanya kaum adam saja yang datang ke Gang Giok itu, tidak sedikit,
kaum Hawa dan anak-anak usia sekolah pun ikut memadati gang giok dengan luas
area empat kali 100 meter itu. Berbagai jenis Giok dijajakan
di gang tersebut, diantaranya giok belimbing, bio solar, solar, nefrit, black
jet, pucuk pisang, hingga madu merah.
Batu-batu tersebut tidak hanya dibentuk seperti cincin,
tapi berbentuk gelang dan kalung. Beberapa pedagang giok di gang tersebut
mengatakan, pengunjung yang hadir membludak hingga malam hari. Pengunjung
berdatangan untuk sekedar melihat, menawar dan membeli batu dalam bentuk bahan
baku ataupun sudah dijadikan cincin, kalung atau bentuk lainnya.
Pengunjung yang datang itu pun dari berbagai latar
belakang profesi, seperti pedagang, tukang ojek, pengusaha, pegawai negeri,
hingga anak sekolah. Sedangkan harga berbagai jenis giok itu sangat bervariasi,
mulai dari harga paling murah Rp 100.000 hingga harga puluhan juta rupiah,
tergantung jenis batu dan dan bahan ikatannya.
Penjual batu giok Bireuen, Agus kepada Serambi, Sabtu
(10/1) mengatakan, bahan baku giok yang dijualnya didatangkan dari Takengon
Aceh Tengah, Nagan Raya, dan Aceh Barat. Harga bahan giok mulai harga termurah
Rp 100 ribu per pecahan batu hingga jutaan rupiah. “Kebanyakan pengunjung
membeli yang sudah jadi cincin dengan bahan ikatan perak, suasa dan platinum,”
kata Agus.
Seorang pengunjung, Alon, saat ditemui di Gang Giok itu
menuturkan, ia mencari beberapa bahan baku batu giok yang masih berbentuk
bongkahan untuk digosok sendiri. “Saya suka giok bio solar, belimbing, dan madu
merah,” katanya seraya memperlihatkan giok belimbing yang sudah diikat menjadi
cincin di jari-jari tangannya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Parawisata Bireuen, Said
Abdurrahman yang ditemui terpisah mengatakan, Gang Giok yang kini
menjadi kawasan wisata dadakan, sudah sangat layak untuk dikembangkan menjadi
wisata kota yang dapat mendatangkan pendapatan daerah dan masyarakat. “Kami
akan segera mengembangkan kawasan Gang Giok, supaya dapat menjadi salah satu kawasan wisata yang
dilirik masyarakat luar, sehingga tamu yang lewat Bireuen akan singgah di Gang Giok, dengan harapan ke depan dapat menambah pendapatan
masyarakat dan daerah,” kata Said Abdurrahman.(ferizal hasan)
Sumber : serambi indonesia
.jpg)
0 komentar :