![]() |
| Lokasi jembatan Cunda Lhokseumawe yang sering dijadikan tempat pembuangan sampah. @Irman I Pangeran/atjehpost.co |
LHOKSEUMAWE- Sebagian warga Lhokseumawe tetap membuang sampah secara sembarangan, termasuk di lokasi-lokasi yang telah dipasang plank/pamflet “dilarang buang sampah di sini”.
Apa komentar psikolog terkait perilaku yang menyimpang itu? “Orang-orang seperti itu, dia lebih mementingkan dirinya sendiri dengan alasan sudah terbiasa buang sampah di tempat yang dilarang. Jadi karena kebiasaan,” kata Azwar, S.Psi., psikolog di Lhokseumawe kepada ATJEHPOST.co, Sabtu, 31 Januari 2015.
Lantaran sudah terbiasa dan merasa nyaman, kata Azwar, individu berperilaku seperti itu akhirnya malas mencari tempat lain untuk membuang sampah.
“Itu seperti orang naik sepeda motor tidak pakek helm, karena sudah terbiasa sehingga dia merasa nyaman. Dalam ilmu psikologi ini disebut pembiasaan klasik. Karena sudah masuk di zona nyaman, dia nggak mau keluar atau beralih ke zona lainnya,” ujarnya.
“Sebenarnya kalau dia berpikir dengan buang sampah ke tempat yang telah disediakan maka dia akan menemukan zona nyaman yang baru. Tapi orang seperti itu tidak mau memulai sesuatu yang baru, padahal mungkin saja sesuatu yang baru itu adalah zona nyaman yang lebih lebar. Jadi karena keengganan memulai sesuatu yang baru,” kata Azwar lagi.
Solusi ditawarkan Azwar, pemerintah harus lebih giat mensosialisasikan kepada masyarakat agar membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Jika membuang sampah di pinggir jalan, apalagi dalam saluran atau parit justru akan menimbulkan berbagai dampak. Tidak hanya merusak pemandangan dan menimbulkan bau busuk, akan tetapi juga berpotensi terjadi banjir saat musim hujan lantaran saluran tersumbat.
“Jadi harus ada sinergisitas antara pemerintah dengan masyarakat untuk membangun komitmen dan kerja sama agar individu-individu tertentu mau pindah dari zona ‘A’ ke zona ‘B’ demi kepentingan umum,” ujar Azwar.
sumber: Atjehpost.co.

0 komentar :