
PENYIDIK Kepolisian Resor Aceh Utara telah meminta keterangan A, rekan
yang membawa Afriza Mutia ke Medan sebelum ditemukan di parit dekat kampungnya
dalam kondisi tak bernyawa dan mulut mengeluarkan busa. Kepala Satuan Reserse
dan Kriminal Polres Aceh Utara AKP Mahliadi yang berbicara atas nama Kapolres
AKBP Achmadi mengatakan, berdasarkan keterangan A kepada penyidik, mereka
berangkat ke Medan hanya berdua saja. Afriza dan A tidak punya hubungan khusus,
mereka hanya teman lama ketika duduk di bangku SMP.
Saat memberikan keterangan kepada penyidik Reskrim Polres Aceh
Utara, A didampingi kuasa hukumnya, Taufik M Nur SH, dari LBH Anak Bangsa Aceh.
Menurut pengakuan A, kepergian mereka ke Medan atas permintaan Afriza.
“Tadinya mereka berencana
pulang hari Senin, persisnya setelah menikmati Sabtu malam di Medan. Namun
tiba–tiba nenek A menelfon dan meminta A untuk segera pulang,” ujar Kasat
Reskrim mengutip keterangan A kepada penyidik.
Di provinsi tetangga itu, kata A, keduanya menginap sekamar di
Hotel Buana. Namun, A mengatakan mereka tidak melakukan hubungan suami istri.
Pernyataan itu, kata Kasat Reskrim, dikuatkan dengan hasil visum yang
menyebutkan Afriza masih perawan.
Siang harinya, A sempat menemui temannya yang bekerja di Carefour
dan meminjam uang Rp1,5 juta. Setelah itu Afriza minta diantar jalan-jalan ke
Sun Plaza. Malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, mereka kembali masuk hotel
di kamar 317. Menurut A, lantaran mengantuk, ia memilih tidur.
Sedangkan Afriza berpamitan ke salon dengan membawa kunci kamar
hotel. Tiga jam kemudian, sekitar pukul 23.00 WIB, menurut keterangan A,
Afriza membangunkannya untuk mengajak kopi dan dugem. Permintaan itu,
kata A, ditolaknya. Mereka pun hanya makan malam saja. Setiba kembali di hotel,
A mengatakan langsung tidur.
Sementara Afriza menonton televisi seraya minum minuman untuk
mempercantik diri. Minuman yang sama juga pernah diminumnya saat perjalanan
dari Aceh ke Medan. Sabtu, 10 Januari 2015, pukul 10.00 WIB, Afriza
membangunkan A untuk sarapan dan jalan-jalan.
Ketika A sedang mandi, Afriza
berpamitan kembali ke salon. Jelang pukul 12.00 WIB Afriza tak kunjung kembali
ke hotel. Atas perintah Afriza melalui pesan BBM, A check out sambil membawa
serta barang dan perlengkapan Afriza. A memutuskan menunggu Afriza di dalam
mobil. Selang 30 menit kemudian A menerima telefon dari neneknya yang
memintanya untuk pulang.
Setelah mendesak Afriza agar cepat keluar dari salon, akhirnya
pukul 14.00 WIB Afriza keluar salon dengan wajah mengkilap. Ia terlihat sangat
senang dan ceria. Dalam perjalanan pulang Afriza duduk di bangku belakang. Ia
tengkurap sambil main handphone. Karena ada razia polisi di jalan, A meminta
Afriza duduk di bangku depan. Di Langsa, sekitar pukul 19.20 WIB, A berhenti
untuk membeli buah-buahan sesuai permintaan Afriza. Kala itu Afriza juga ikut
turun. Afriza sempat berkata, “Aku jalannya macam di atas awan, kayak hoyong
gitu.”
Perjalanan kembali
berlanjut, di SPBU Rantau Panjang Aceh Timur mereka kembali berhenti karena A
mengantuk. Sedangkan Afriza masih sibuk bermain HP. Pukul 22.00 WIB, A mengaku
terbangun karena mendengar suara Afriza seperti orang menahan sakit. Sambil
kesakitan, tiba–tiba mulut Afriza mengeluarkan buih dan hidung berdarah.
Kala itu A menggunakan tisu membersihkan buih dan darah Afriza.
Setelah itu, kata A, terdengar suara dari tenggorokan Afriza seperti
orang ngorok. Rupanya, itulah nafas terakhir Afriza sebelum tubuhnya terkulai
dan tak bergerak lagi. Dalam kondisi panik dan kebingungan, kata A kepada
polisi, ia sempat menutup wajah Afriza dengan handuk. Ia pun panik tak tahu mau
dibawa kemana jenazah Afriza.
Menurut AKP Mahliadi, ketika mobil berhenti di sebuah SPBU ada
saksi yang melihat mobil bergoyang. Namun saksi itu tak berani mendekat.
"Dia mengatakan sempat berpikir membuang jenazah Afriza ke Krueng
Arakundo, Aceh Timur. Sekitar pukul 03.00 WIB dinihari, karena kasihan, jenazah
Afriza diletakkan di dekat jalan masuk ke rumahnya. Suasana saat itu katanya
agak gerimis dan gelap," kata AKP Mahliadi menirukan ucapan A kepada
penyidik.
Pagi harinya, A mengatakan melihat teman-teman Afriza di kontak
BBM-nya memasang foto Afriza sambil mengucapkan, “Innalillahi Waiinna Ilaihi
Rajiun.” Polisi masih mendalami kasus ini dengan memintai saksi-saksi lainnya.
Sumber: Atjehpost.co
0 komentar :