Rabu, 14 Januari 2015

Begini Cerita Rekan yang Membawa Afriza ke Medan Sebelum Meninggal

Unknown     02.22    

Begini Cerita Rekan yang Membawa Afriza ke Medan Sebelum Meninggal

PENYIDIK Kepolisian Resor Aceh Utara telah meminta keterangan A, rekan yang membawa Afriza Mutia ke Medan sebelum ditemukan di parit dekat kampungnya dalam kondisi tak bernyawa dan mulut mengeluarkan busa. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Aceh Utara AKP Mahliadi yang berbicara atas nama Kapolres AKBP Achmadi mengatakan, berdasarkan keterangan A kepada penyidik, mereka berangkat ke Medan hanya berdua saja. Afriza dan A tidak punya hubungan khusus, mereka hanya teman lama ketika duduk di bangku SMP. 

Saat memberikan keterangan kepada penyidik Reskrim Polres Aceh Utara, A didampingi kuasa hukumnya, Taufik M Nur SH, dari LBH Anak Bangsa Aceh. Menurut pengakuan A, kepergian mereka ke Medan atas permintaan Afriza. 

 “Tadinya mereka berencana pulang hari Senin, persisnya setelah menikmati Sabtu malam di Medan. Namun tiba–tiba nenek A menelfon dan meminta A untuk segera pulang,” ujar Kasat Reskrim mengutip keterangan A kepada penyidik.

Di provinsi tetangga itu, kata A, keduanya menginap sekamar di Hotel Buana. Namun, A mengatakan mereka tidak melakukan hubungan suami istri. Pernyataan itu, kata Kasat Reskrim, dikuatkan dengan hasil visum yang menyebutkan Afriza masih perawan. 

Siang harinya, A sempat menemui temannya yang bekerja di Carefour dan meminjam uang Rp1,5 juta. Setelah itu Afriza minta diantar jalan-jalan ke Sun Plaza.  Malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, mereka kembali masuk hotel di kamar 317. Menurut A, lantaran mengantuk, ia memilih tidur. 

Sedangkan Afriza berpamitan ke salon dengan membawa kunci kamar hotel.  Tiga jam kemudian, sekitar pukul 23.00 WIB, menurut keterangan A, Afriza membangunkannya untuk mengajak kopi dan dugem.  Permintaan itu, kata A, ditolaknya. Mereka pun hanya makan malam saja. Setiba kembali di hotel, A mengatakan langsung tidur.

Sementara Afriza menonton televisi seraya minum minuman untuk mempercantik diri. Minuman yang sama juga pernah diminumnya saat perjalanan dari Aceh ke Medan. Sabtu, 10 Januari 2015, pukul 10.00 WIB, Afriza membangunkan A untuk sarapan dan jalan-jalan. 

Ketika A sedang mandi, Afriza berpamitan kembali ke salon. Jelang pukul 12.00 WIB Afriza tak kunjung kembali ke hotel. Atas perintah Afriza melalui pesan BBM, A check out sambil membawa serta barang dan perlengkapan Afriza. A memutuskan menunggu Afriza di dalam mobil. Selang 30 menit kemudian A menerima telefon dari neneknya yang memintanya untuk pulang.

Setelah mendesak Afriza agar cepat keluar dari salon, akhirnya pukul 14.00 WIB Afriza keluar salon dengan wajah mengkilap. Ia terlihat sangat senang dan ceria. Dalam perjalanan pulang Afriza duduk di bangku belakang. Ia tengkurap sambil main handphone. Karena ada razia polisi di jalan, A meminta Afriza duduk di bangku depan. Di Langsa, sekitar pukul 19.20 WIB, A berhenti untuk membeli buah-buahan sesuai permintaan Afriza. Kala itu Afriza juga ikut turun. Afriza sempat berkata, “Aku jalannya macam di atas awan, kayak hoyong gitu.”

Perjalanan kembali berlanjut, di SPBU Rantau Panjang Aceh Timur mereka kembali berhenti karena A mengantuk. Sedangkan Afriza masih sibuk bermain HP. Pukul 22.00 WIB, A mengaku terbangun karena mendengar suara Afriza seperti orang menahan sakit. Sambil kesakitan, tiba–tiba mulut Afriza mengeluarkan buih dan hidung berdarah. 

Kala itu A menggunakan tisu membersihkan buih dan darah Afriza. Setelah itu, kata A, terdengar suara dari tenggorokan Afriza seperti orang ngorok. Rupanya, itulah nafas terakhir Afriza sebelum tubuhnya terkulai dan tak bergerak lagi.  Dalam kondisi panik dan kebingungan, kata A kepada polisi, ia sempat menutup wajah Afriza dengan handuk. Ia pun panik tak tahu mau dibawa kemana jenazah Afriza. 

Menurut AKP Mahliadi, ketika mobil berhenti di sebuah SPBU ada saksi yang melihat mobil bergoyang. Namun saksi itu tak berani mendekat.  "Dia mengatakan sempat berpikir membuang jenazah Afriza ke Krueng Arakundo, Aceh Timur. Sekitar pukul 03.00 WIB dinihari, karena kasihan, jenazah Afriza diletakkan di dekat jalan masuk ke rumahnya. Suasana saat itu katanya agak gerimis dan gelap," kata AKP Mahliadi menirukan ucapan A kepada penyidik. 


Pagi harinya, A mengatakan melihat teman-teman Afriza di kontak BBM-nya memasang foto Afriza sambil mengucapkan, “Innalillahi Waiinna Ilaihi Rajiun.” Polisi masih mendalami kasus ini dengan memintai saksi-saksi lainnya. 

Sumber: Atjehpost.co 

0 komentar :

Redaksi menerima tulisan dari mahasiswa dan masyarakat umum bisa berupa opini, cerpen, puisi dan lain-lain. tulisan bisa di kirim ke email perspsycho@gmail.com disertai dengan identitas penulis.
© 2014-2015 PERSePSI POST.Designed by Bloggertheme9. Powered By Blogger