![]() |
| ilustrasi |
Oleh: Usman Cut Raja
Aceh terkenal kaya
dengan kekayaan alam, seperti migas, hutan, hasil laut
dan miniral lainnya. Namun sangat disayangkan dengan hasil yang melimpah itu,
tidak menjadikan rakyat Aceh sejahtera. Bahkan rakyat kian terhimpit kemiskinan
juga alam tidak lagi ramah dengan penghuninya.
Hilang
nyawa serta lenyapnya harta benda yang diakibatkan banjir dan
longsor sudah sering terjadi dimana mana. Fenomina ini terus menghatui warga
setiap terjadi hujan lebat. Eksplorasi sumber daya alam yang tidak terkontrol
dan penggundulan hutan, biang terjadi kerusakan alam.
Semua kerusakan yang
terjadi akibat ulah dan ketamakan serta keserakahan para pelaku. Kadang mareka
berdalih untuk terbuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan
menambah pemasukan daerah. Yang terlihat justru rakyat tidak pernah merasakan
dan mendapatkan apa-apa dari alamnya sendiri.
Belakangan sering
terdengar berupa himbauan agar rakyat berhati hati dan harus memahami bahaya
dari perubahan iklim global. Sungguh sesuatu yang tidak adil. Kerusakan bumi
sesungguhnya adalah akibat dari ulah tangan manusia. Ini jelas di sebutkan
dalam Al Qur’an.
Memang bumi tidak butuh
di selamatkan, yang di perlukan adalah bagaimana refleksi dan introspeksi serta
mengedepankan sikap bijak, tidak bersifat serakah, tamak untuk memperkaya
perusahaan yang melakukan eksplorasi dan pengundulan hutan.
Dalam konteks ini,
hendaknya rakyat dan pemerintah Aceh mau belajar dan memahami itu semua.
Pengalaman dan contoh sudah dirasakan, apa yang tersisa setelah hutan dan
kekayaan bumi Aceh dieksplorasi secara besar besaran untuk diangkut kedaerah
lain atau ekspor.
Sudah saatnya rakyat
Aceh bangkit bersama membangun ruang-ruang kesenjangan dengan dialog dan
komunikasi berlandaskan kejujuran. Asas kejujuran dalam makna untuk sama-sama
melihat objectivitas yang mengharuskan kita tidak lagi saling berperang
dan menyalahkan.
Ada hal yang lebih
besar yang harus kita lakukan untuk segera mengkonsolidasikan diri untuk
menghadapi labirin melawan kemiskinan. Hal sederhana bisa di mulai dari diri
sendiri. Eskspektasi rakyat Aceh terhadap pemerintahan hendaknya menjadi lebih
baik secara ekonomi, sosial budaya dan politik.
Makna yang dimaksudkan
oleh rakyat sebagai constituent seharusnya di fahami dalam bahasa yang
sederhana. Dan tidak kemudian harus terburu-buru mengabdi kepada kepentingan
investor yang mau menanam modalnya untuk merambah hutan.
Sudah saatnya sikap
bijak dan rasionalitas yang didasarkan pada rakyat sebagai constituent. Apakah
lebih baik secara politik dan eknomi rakyat harus merevitalisasi lahan-lahan
sawah dan kebun mereka untuk di konversi menjadi perkebunan sawit, dan apakah
lebih baik rakyat hanya bekerja di perusahaan tambang batu bara, tambang emas
atau migas.
Ataukah rakyat hanya
membutuhkan bagaimana cara meningkat hasil produksi padi, jagung, kedelai,
kelapa, ternak sapi, kerbau dan semua yang selama bertahun-tahun menjadi
rutinitas alat produksi rakyat. Bukankah lebih 70 persen corak produksi rakyat
Aceh adalah pertanian palawija dan sedikit tanaman keras.
Komunikasi antara
pemerintah dan rakyat terkait kebutuhan dan kebijakan meningkatkan nilai
produksi dan produktivitas, mengamankan jalur distribusi dan perniagaan,
kebijakan harga serta mengatur tata laksana niaga sektor pertanian dan proteksi
terhadap sektor unggulan.
Untuk
diketahui, Aceh belum di anggap pangsa pasar hasil-hasil produksi.
Dan jika di nilai Aceh menguntungkan dan stabil untuk iklim investasi, tanpa di
undang pun ribuan investor akan berlomba-lomba membangun pabrik. Contoh
terdekat Pulau Batam.
Sekali lagi bumi tidak
butuh di selamatkan, kita hanya membutuhkan cara untuk mengubah perilaku kita,
ketamakan dan keserakahan yang akan mendorong kita untuk berbuat dan melakukan
perulangan sejarah kesalahan dan kegagalan masa lalu dalam menjaga tanah, hutan,
sungai dan laut Aceh.
Selayaknya rasionalitas
harus dikedepankan untuk menilai kebutuhan rakyat Aceh lalu bagaimana kemudian
cara memenuhi kebutuhan itu, dengan tidak bersikap berlebihan memperlakukan
alam titipan anak cucu kita, kelak mereka akan ambil titipan ini.
Bila dalam kesempatan
ini gagal lagi, bukan tidak mungkin beberapa tahun kedapan tidak akan ada lagi
awan dan embun bergelayut di puncak Seulawah dan gunung Geuruedong dan
bersamaan itu pula sebagian penduduk Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah harus
memiliki kulkas dan pabrik es disana. Mari kita renungkan.
Sumber :
jurnalatjeh.com

0 komentar :