
Pihaknya mengkhawatirkan akan keberadaan mereka (orgil-red)
yang kian menjamur dan menganggu pemandangan dan ketertiban umum, karena
berkeliaran hampir tiap hari di setiap sudut kota.
Dikatakannya, meskipun ulah mereka (orgil-red) tidak terlihat
secara langsung, namun kerap terlihat ditempat-tempat sampah dan kemudian masuk
ke pertokoan dengan aroma tak sedap untuk minta makanan dan rokok.
Ada juga yang duduk melamun di depan pertokoan. Warga maupun
pedagang tak berani mengusir mereka. Hal inilah yang membuat warga resah.
“Pemerintah seharusnya menangani persoalan ini. Keberadaan
para orgil tersebut jelas-jelas sangat menganggu. Bahkan tak jarang dari para
orgil nyaris mengamuk jika tidak diberikan rokok ataupun makanan,”kata
Koordinator FKPP-Aceh.
Semetara itu Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Dr. Effendi,
kepada AJNN Rabu (21/1) menjelaskan untuk wilayah Aceh Utara tidak ada tempat
untuk penampungan pengidap penyakit jiwa.
Pihaknya hanya melakukan penanganan dengan cara dirujuk ke
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Itupun harus melalui persetujuan dari
keluarga pasien penyakit jiwa.
“Aceh Utara tidak ada tempat penampungan penyakit jiwa. Kita
hanya melakukan penanganan dengan cara rujuk pasien ke RSJ Banda Aceh atas
persetujuan dari keluarga pasien,” jelas dr. Effendi.
Agar orgil tidak berkeliaran di pusat kota, maka diminta
kepada pihak keluarganya masing-masing untuk dirujuk ke Banda Aceh agar
ditampung.
sumber: ajnn.
0 komentar :